
Aida masuk dengan membawa sebuah bungkusan yang berisi tissue basah, salep luka dan plester.
Mata Aida mencari keberadaan Ara dan Sebastian, setelah menemukan Aida menghampiri meja mereka.
Mereka berdua berdiri ketika melihat Aida, Aida langsung menarik kursi, duduk diantara mereka.
"Sudah pesan" tanya Aida
"Aku pesan udang balado kesukaanmu" saut Sebastian.
Aida hanya menganggukkan kepala.
"sambil menunggu pesanan, Aku bersihkan Luka kalian dulu ya" Aida membuka bungkusan tadi, secara bersamaan Ara dan Sebastian memajukan wajahnya ke hadapan Aida.
"Satu-satu" ucap Aida.
"Aku dulu" Sebastian berucap
"enak saja, Aku duluanlah" Ara yang tidak mau kalah.
Aida menghela nafasnya..
"kalau begitu kalian bersihkan sendiri ya" Aida menjajarkan tissue basah, salep dan plester tadi diatas meja.
"silahkan" kedua tangan Aida mempersilahkan.
"sayaaanggg.. " Ara yang berubah jadi manja.
Aida bergidik. Sebastian mendelikkan matanya ke Ara.
"Pengantin kecilku.. " Sebastian tidak mau kalah, gantian Ara yang mendelikkan matanya ke Sebastian. Aida tambah merinding.
"Kalian jangan mulai lagi, Aku pergi nih" Ancam Aida akan berdiri, mereka berdua langsung mencegah Aida.
"Baiklah, kau saja yang duluan" Keduanya bicara berbarengan. Aida hanya mendesis.
"suit kita suit saja" usul Ara yang takut melihat Aida akan pergi, Sebastian menyetujuinya.
Mereka berdua melalukan suit seperti anak kecil dan yang menang Sebastian jadi Aida membantu membersihkan Luka Sebastian dahulu.
"sayangg" Ara berucap lagi.
"hmm" saut Aida sambil mengelap lebam diwajah Sebastian, bola Mata Sebastian hanya berputar mendengar sautan Aida.
"Ada yang ingin Aku bicarakan, ini mengenai Yuki" Aida menghentikan kegiatannya, menoleh ke wajah Ara.
Alasan. Cibir Sebastian.
"Malam ini ikutlah denganku ke perkebunan"
ucap Ara.
"Tidak bisa, malam ini Aida harus bersamaku, lagipula kau mau apa berdua bersama Aida jangan-jangan kau.. " Otak mesum Sebastian menerka pikiran Ara.
"Kalau memang iya kenapa, itu bukan urusanmu. Aku sangat merindukannya, dia ini wanitaku,
dan Aku pun sudah membuat sertifikat hak milikku, rencana pengesahaannya saja yang belum kulakukan" bangga Ara seakan dia memenangkan pertandingan.
Wajah Aida merona malu, tidak menyangka Ara akan membahas masalah sevulgar itu dengan santai.
"Ara" Aida mendelik mencubit pinggang Ara karena malu.
"untuk apa malu, bukannya dia sudah tahu, jadi tidak perlu menutupinya lagi" seringai Ara merasa penuh kemenangan.
__ADS_1
"Kuakui kau memang menang untuk hal itu, tapi hasil akhir, Aida akan tetap kubawa pergi menjadi pengantinku" Sebastian yang tidak mau mengalah.
"Kau" Ara mulai naik pitam dan menarik Kerah baju Sebastian. Marah.
"sudah berhenti, Aku lelah melihat kalian ribut terus dari tadi" Aida yang mulai gerah dengan sikap keduanya.
Ara melepaskan kerah bajunya Sebastian.
"Baiklah, Aku ikut denganmu ke perkebunan"
"Aida" Sebastian tampak kesal.
Aida menarik tangan Sebastian menjauh dari Ara, dan membisikkan sesuatu di telinga Sebastian.
"janji" Sebastian minta mengkaitkan jari kelingkingnya.
"iya" Aida mengangguk.
Sial, apa yang direncanakan kucing nakal itu, bisa-bisa berbisik mesra dihadapanku, lihat saja nanti Aku akan menghukummu sampai kupuas. batin Ara.
Aida pun lanjut membersihkan kegiatan bersihkan luka, selanjutnya dengan makan siang yang sudah kesorean.
Aida berpisah dengan Sebastian, ikut mobil Ara, sedang Sebastian kembali ke panti.
. . . .
Sesampainya di perkebunan, Ara meminta pelayan untuk membawa kopernya masuk.
Sesaat Aida menatap takjub perkebunan, ini pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di perkebunan.
Bagaimanapun Aida tahu maksud kedatangan Ara.
Tangan Ara langsung merangkul pinggang Aida, Ara membawa Aida ketaman belakang.
"Sudah, ta__pi sepertinya tidak Ada pengaruh. Mungkin hati kakak sudah benar-benar tertutup__" Ara menerawang jauh, begitupun dengan Aida yang mengkhawatirkan kondisiku.
Ara langsung teringat kejadian di restoran saat Aida berbisik mesra kepada Sebastian.
"Apa yang kau katakan tadi" tanya Ara menatap tajam Aida.
"Aku.. "
"Siapa dia, kau tidak pernah cerita, dan kenapa dia memanggilmu sebagai Pengantin kecil" selidik Ara, ia ingin mendengar langsung dari mulut Aida.
Aida terdiam sesaat.
"Jangan bilang kalau kau benar-benar Pengantin__nya" Ara tambah penasaran.
Aida menatap wajah Ara yang menunggu jawaban darinya.
"hmm... bisa dibilang begitu, itu ucapanku waktu kecil yang memintanya untuk menjemput dan menikahiku saat kami dewasa.. "
"Oh..My God, jadi kau membohongiku" Ara tidak percaya, bahwa seorang seperti dirinya yang biasa mempermainkan wanita, kini terjebak dalam permainannya.
"Tidak juga, sebenarnya Aku sendiri lupa, kalau hari ini dia tidak datang, mungkin.. "
"Ya.. sudah.. kita menikah saja" Ara terlihat tidak sabar.
"Araa.. "
"Tidak Aku tidak mau dengar, dan tadi.. itu tadi kau menjanjikan apa"
"itu rahasia" senyum nakal Aida.
__ADS_1
"Aida" Ara mencengkram kedua tangan Aida, "Kau jangan pernah berpikir untuk pergi atau mengkhianatiku, Aku akan membunuhmu jika kau melakukan itu" Ancam Ara dengan tatapan yang menakutkan.
"aw, sakit__Ra, kau melukaiku" Aida berusaha melepaskan cengkraman Ara yang sangat kuat.
Ara tersadar, melepaskan cengkramannya.
"Aku minta maaf" Ara berubah lembut kembali.
"Aku mana berani meninggalkanku, apalagi Aku sudah.. "
"Syukurlah.. Aku senang mendengarnya" Ara merengkuh Aida kepelukannya berubah jadi lembut.
"Ta__pi__Ra, aku pun tak bisa mengingkari janjiku, apalagi selama ini dia sangat setia, dia sudah menantikan pertemuan ini sejak Lama.."
suara Aida bergetar tak bisa membohongi juga perasaan pada Sebastian.
Ara mematap wajah orang yang dicintainya, tidak tega membiarkannya terluka ataupun merasa bersalah..
Ara pun tidak ingin bersikap egois, dan bersikap bodoh seperti kakaknya, yang hanya bisa pergi, menghindari orang yang dicintainya, Ara tidak ingin melakukan hal yang sama seperti kakaknya, dia tidak ingin kehilangan Aida..
"Baiklah.. kau boleh bersamanya, asal kau tidak meninggalkanku" sambil kedua tangan Ara mengelus pipi Aida.
"Maksudmu" Aida terkejut dan binggung dengan arah pembicaraan Ara.
"iya, kau boleh menjadi pengantinnya, tapi kau harus menjadi istriku terlebih dahulu" ucapan Ara yang tidak masuk Akal yang meminta Aida sesuatu hal yang ekstrim.
"Kau gila!" Aida menghempaskan tangan Ara di wajahnya, "Mana Ada perempuan ataupun laki-laki yang mau cintanya dibagi"
"Aku mau dan mengizinkannya, asal kau menjadikanku yang pertama, dia yang kedua" Ara tambah yakin dengan kegilaannya.
Aida mengelengkan kepalanya, dan akan pergi.
"Kau benar-benar gila Ra" Aida berusaha pergi.
"Kau tenang saja, biar kami yang mengaturnya, dan kamu terima beres" Ara menarik Aida kedalam pelukannya.
"Kau gila__Ra__"
"Iya, Aku memang sudah gila, dan itu karena kamu__" Ara yang sudah tidak bisa menahannya, langsung mencium bibir Aida dengan lembut.
Tanpa mereka sadari, Haga yang sudah sampai di perkebunan dan berkeliling melihat mereka yang sedang berciuman.
" hmm, pantas saja Ara begitu bersemangat, ternyata ini alasannya"
Haga yang tersenyum sendiri melihat perubahan dan keberanian Ara untuk mengejar cintanya..
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
__ADS_1
Terimakasih dan selamat membaca.