
📞 Aku duduk di bangku biasa
ucapku langsung menutup telponnya.
Cakra segera menyusul.
Ia melihat diriku, bengong seperti orang bodoh.
Dengan tatapan jailnya,
ia berencana mengagetkanku.
Usaha tetap nggak berhasil,
aku sambil menatap bunga mawar di tanganku, masih di dunia nya.
Menebak-nebak, menatap binggung akhirnya dia duduk di sampingku.
Aku langsung berbalik badan, menatap Cakra.
"Aku ketemu, aku ketemu Ra,
ketemu dan berbicara ama dia Ra,
beneran ketemu dengannya... "
berbicara seperti orang gila, mengoyang-goyangkan kedua lengan Cakra.
"Maksud lo apa sih? Gue nggak ngerti! "
berusaha menebak yang terjadi,
Ara menebak pasti berhubungan dengan harmonika itu.
"Pokoknya aku seneng banget Ra..
benar-benar senang"
masih mengoceh seperti salah minum obat
"ah iya,
ayo pulang Ra, cepet"
sambil menarik-narik tangan Ara.
Cakra hanya menatap binggung sikapku.
Sampai di rumah pun aku bertingkat seperti orang gila.
Tau-tau bengong, terus senyum dan ketawa ketawa sendiri.
Cengar cengir sendiri. Tiba-tiba ngoceh nggak jelas, melakukan, memegang dan mengerjakan apapun berantakan.
Haga dan Cakra belum pernah melihat ku seperti ini.
Haga dan Cakra gelisah,
perasaan mereka campur aduk,
sepertinya mereka tau penyebabku pasti karena harmonika itu.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengannya"
tanya Haga
"Aku juga nggak tau kak,
pas di jemput dia sudah seperti itu"
"kalo dia udah bertingkah aneh seperti itu alasannya cuma satu.. "
Haga yang hanya diam,
dia sudah bisa menebaknya.
Ketakutan dalam hatinya berkecamuk berhamburan.
Jiwanya ingin mencegah semua,
tapi tidak bisa.
Begitu pun dengan Cakra,
tanpa di ketahui siapapun,
yang menyukaiku diam-diam,
merasakan hal yang sama seperti Haga.
. . .
Tiba rekreasi alam.
Yang membawa mobil, dititip di kampus.
Sementara kami semua berangkat menaiki bus besar pariwisata. Pulangnya bus akan kembali ke kampus.
Benar-benar wisata alam terbuka.
Kami masuk hutan, memutari semak belukar, mencari tempat yang cocok untuk memasang tenda-tenda kami.
Walaupun Cakra terlihat cuek, ia tetap memantau dan memperhatikanku dari kejauhan.
Apalagi cewek-cewek yang tau Cakra ikut berebutan memasang tenda di samping tenda Cakra.
Terus mencari celah perhatian Cakra.
Bikin gerah mata yang memandang.
Barat pun, berulang kali mencari kesempatan, terus memandangiku,
cari celah untuk selalu dekat denganku. Berusaha membantuku memasang tendaku salah satunya.
Semantara dari kejauhan,
Ketty yang terus memperhatikan, kesal, marah dan terbakar cemburu.
Ia terus menatapku dengan sinis.
Apalagi saat malam hari, api unggun dinyalakan,
dan semua duduk mengelilingi api unggun, Barat terus mepet, nggak mau sedikit pun jauh dariku.
__ADS_1
Padahal aku terus berusaha menjauh sebisa mungkin.
Aku hanya duduk dekat tenda,
melihat dari kejauhan mereka yang berkumpul dengan api unggun.
Sebenarnya aku hanya ingin sendiri,
menikmati dan menenangkan diri dengan harmonika kesayanganku.
"Nih"
ucapnya memberikan sesuatu.
"Apa nih"
"Wedang Jahe"
"Oh, thanks"
sambil memasukkan harmonikaku ke kantong jaket dan mengambil wedang jahe tadi.
Barat sempat meliriknya.
"Masih panas, buruan di minum, biar badan enak dan hangat"
"hmm"
masih memegang dengan kedua tangan ku, meniup-niup, tercium aroma jahe yang keluar, dan meneguk sedikit wedang jahenya.
Barat duduk disampingku.
"Nggak gabung sama yang lain Yuki"
ucapnya membuka obrolan.
"Nggak ah, aku lagi pengen sendiri,
ngeliat dari sini pun aku udah senang kok"
Kemudian kami terdiam..
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
Terimakasih dan selamat membaca.
__ADS_1