
Keesokan paginya.
Aku bangun langsung masuk kamar mandi.
Kebiasaan saat diperkebunan karena kamar mandi ada didalam kamar, aku tidak mengunci pintunya.
Saat selesai mandi, baru mengenakan baju mandi, tiba tiba kamar mandi dibuka.
Orang dihadapanku masih mengucek matanya didepan cermin.
Aku yang kaget, langsung menonjok dan menendang orang itu.
"MAALLIIINNGGG!! "
Teriakku kencang.
Haga masuk, langsung memalingkan wajahnya karena malu melihatku yang masih mengenakan baju mandi.
Aku yang ketakutan dan panik melindungi tubuhku.
Tanpa bicara ia membantu orang tadi berdiri dan dibawa keluar olehnya.
Aduuhh, Yuki. Bodoh. Itukan Tuan Muda. Buru-buru keluar kamar mandi, masuk ke kamar, ganti baju.
"Sialan, cewek gila, siapa lo"
teriaknya marah-marah sambil masih merasakan tonjokan dan pukulan tadi.
Ahh.
Tuan Muda seperti mengingat-ingat kejadian semalam saat dia dipukul sapu.
"Wah, itu cewek gila yang semalam mukulin gue pake sapu"
gerutunya tambah kesal.
Aku yang sudah berpakaian, langsung keluar kamar.
Memberanikan diri menghampiri Tuan Muda yang masih kesal dan marah.
"STOP! Mau apa lo, jangan maju, gue bukan maling"
ucapnya masih setengah jiper dengan peristiwa semalam dan barusan.
"Ma-ma-af, Tuan, saya tidak tau dan sengaja, saya ga bermaksud melukai Tuan, sumpah"
ucapku menaikan dua jari dengan wajah tanpa dosa.
"Awas, pokoknya lo jangan dekat-dekat gue, nanti gue kena sial"
usirnya. Lalu masuk ke kamarnya.
Haga menatapku.
Masih tanpa ekspresi dan bicara.
Melihat tatapannya, Aku jadi takut sendiri, setelah menganggukkan kepala padanya aku pergi. Turun . Kulihat dia pun langsung masuk ke kamarnya.
__ADS_1
iiihh. Sebal. Sebal. Bodoh banget. Aku harus gimana nih minta maafnya. Malah jadi salah faham lagi. Aagghh.
Para pelayan tengah sibuk membersihkan ruangan.
Ada yang menyapu, mengepel, membersihkan debu- debu, memasak di dapur, di halaman kulirik ada yang sedang menyimpan kebun seperti sudah mendapat tugas bagian masing-masing.
Aku juga belum hafal dengan semua ruangan yang ada.
*Aku ngapain yaa? Tugasku apa? Pengasuh Ma belum menjelaskan, kalau di panti semua pekerjaan dikerjakan bersama, dan lagi pula ruangannya tidak sebesar disini.
Keahlianku main piano dan melukis.
Kalau masak? hmm.. bisa ga yaa*...
"Pagi"
Sapaku yang sudah berjalan ke dapur, menyapa mereka.
Para pelayan yang terkejut, meraka hanya membalasku dengan anggukan kepala dan senyum.
Tampaknya mereka heran.
"Ada yang bisa kubantu, atau aku harus mengerjakan apa? "
tanyaku.
Mereka tampak kebingungan.
"Nona, apa anda mau sarapan"
"Apa sih, kalian kok panggil Nona mulu, Aku bukan Nona, namaku Yuki"
jawabku sedikit kesal karena semua orang baik di perkebunan dan disini memanggil dengan sebutan yang sama. Nona.
"Iya, Nona Yuki, anda mau sarapan? "
tanyanya lagi.
"Sudah jangan panggil Nona terus, aku juga sama seperti kalian, bekerja disini, telingaku gatal mendengar itu. Sini aku bantu"
langsung mengambil pisau yang tergeletak, berniat membantu.
"Jangan Nona, kalau Pengasuh Ma tau, kami semua bisa kena marah"
Ucapnya penuh ketakutan.
"Nggak akan! Pengasuh Ma nggak akan marah, ini juga kan udah tugasku"
balasku yang memaksa sambil langsung mengambil bawang merah, membantu mengupasnya.
Satu, dua, tiga... dan entah berapa banyak bawang merah yang sudah aku kupas.
Walaupun beberapa pelayan tampak ketakutan saat aku membantu.
"Sedang apa kau disini, letakkan"
Pengasuh Ma yang tau tau sudah muncul didapur, apalagi mendapatiku menangis karena mengupas bawang.
__ADS_1
Matanya membulat marah pada semua pelayan, mereka semua hanya tertunduk saat di marahi oleh Pengasuh Ma.
"Siapa yang menyuruh Nona"
ucapnya makin marah, mereka masih tertunduk, tidak menjawab.
" Jangan marahi mereka, aku yang salah, aku sendiri yang mau"
ucapku sambil mengedip-ngedipkan mata karena pedih.
"Cepat cuci tanganmu dan bersihkan wajahmu"
Aku masih ga menggubris nya.
Pengasuh Ma menarik tanganku kearah wastafel.
Aku hanya bisa mengikuti kemauannya daripada yang lain kena marah lagi.
"Siapkan sarapan, Nyonya Besar segera turun"
Pengasuh Ma memberi perintah, dengan sigap para pelayan membawa semua sarapan yang sudah mereka persiapkan .
Pengasuh Ma menari tanganku untuk naik kearah tangga, saat itu berpapasan dengan Nyonya Besar dan kedua cucunya.
Yang satu diam bagai es , dingin tanpa ekspresi dan yang satunya seakan menahan rasa sakit dan menatapku penuh dendam. Nyonya Besar menatapku.
"Ada apa? Kenapa dengan wajahnya"
tanya Nyonya Besar.
"Dia membantu pelayan didapur"
"Ganti pakaianmu"
tatap Nyonya Besar tegas padaku.
Pengasuh Ma seolah memang sudah tau dengan perintah itu dan membawa masuk ke kamar.
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
Terimakasih dan selamat membaca.
__ADS_1