
Aku nggak memperdulikan teriakan Cakra, tetap fokus turun perlahan mengambil harmonikaku.
Semua yang melihat panik, tapi tetap diam, tidak mau mengganggu konsentrasiku.
Kakiku semakin dekat,
sangat pelan dan hati-hati.
sedikit lagi, sedikit lagi, sabar Yuki, Kamu pasti bisa mengambilnya.
Cakra dan Barat sudah bersiap di ujung bukit, perasaan mereka panik, kalut, khawatir, campur aduk, nano nano, memantau keadaan, juga nggak mau mengganggukku.
Ketika aku berhasil mengambil nya,
semua tampak bernafas lega.
Ketegangan yang muncul hilang,
tinggal menungguku naik keatas bukit.
Pelan-pelan aku memasukkan harmonikaku ke saku jaket,
memastikannya benar-benar masuk dan aman.
Aku baru akan memanjat, batu yang kupijak, longsor tergelincir ke bawah,
Aku pun ikut jatuh bergulir ke bawah.
Cakra panik, lalu menyuruh mencari tali, dan tali tadi diikatkan di tubuhnya, sedang yang lain menurunkan perlahan tali tadi ke arahku.
Cakra menghampiri.
"Lo bisa berdiri"
aku mencoba berdiri, tapi kakiku terkilir.
"Nggak bisa Ra, sakit banget"
ucapku dengan sisa tenaga,
karena sudah lemas saat turun dan memanjat tadi.
"Ya udah, naek ke punggung gue,
biar nanti yang lain narik dari atas"
Cakra berhasil menaikkanku kepunggungnya, lalu dia ikatkan tali tadi sekuatnya.
Aku lemas dan kehabisan tenaga.
__ADS_1
Pingsan dipunggung Cakra.
Cakra yang merasakan benar-benar sangat khawatir,
segera meminta mereka menarik talinya ke atas untuk menyelamatkan mereka.
Proses evaluasi berlangsung cepat karena banyak anggota dari anak panjat tebing yang membantu dengan sigap.
Beberapa jam berlalu,
dan aku sudah ada di dalam tenda.
Aku sadar, Kepala masih sedikit pusing,
apalagi anak-anak yang mengerubungi menungguku sadar.
Aku coba bangun, tapi kakiku masih terasa sakit.
Cakra, Barat dan Ketty sudah ada di dalam tenda.
Ketty mendekat, berusaha untuk meminta maaf.
PAKK!!!!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Ketty, tatapanku kesal dan marah.
selama yang mereka tau, aku penyabar dan baik hati.
"Apapun yang kamu bilang,
mau memakiku, mengataiku cewek munafik, atau mengancamku,
aku bisa Terima,
tapi tidak dengan yang satu ini.. "
"Barang itu bahkan lebih berharga dari nyawaku"
"Dan satu lagi yang harus kamu tau,
aku nggak pernah sekalipun berniat atau berminat berebutan Barat darimu"
"Jika kamu sungguh menyukainya,
Katakanlah dengan lantang, jangan libatkan aku.
Selama ini aku hanya menganggap Barat hanya teman, nggak pernah lebih"
ucapku menggelegar, dan mereka jadi tau akar permasalahanya.
__ADS_1
Aku melirik ke arah Cakra yang masih terpaku dengan sikapku,
nggak pernah menyangka aku bisa semarah ini kalau menyangkut tentang barang itu.
"Ra, tolong aku, aku mau sendiri sekarang"
Aku meminta bantuan Cakra untuk mengusir semua orang yang masih bergerombol, termasuk Barat dan Ketty.
Barat seolah mendapat tamparan keras juga.
Dia mendapatkan jawaban yang nggak ingin dia dengar, jawaban yang selama ini dia mengira aku main-main dan dia masih punya kesempatan buat mendekatiku.
Ditambah dengan sikapku,
yang seolah menunjukkan bahwa ada hubungan sesuatu yang spesial dengan Cakra, membuat hatinya bertambah sakit.
Barat mengira,
hubunganku dengan Cakra nggak seperti yang terlihat,
dia mengira Aku menolaknya semua alasannya adalah Cakra.
Bukan hanya Barat,
para cewek-cewek pengagum Cakra pun merasa kecewa dan iri,
apalagi pertolongan pertamanya di lakukan oleh Cakra,
mereka seakan tidak punya kesempatan lagi untuk mendekati Cakra...
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
Terimakasih dan selamat membaca.
__ADS_1