
Sebelum pulang aku menarik tangan Cakra,
aku bilang pulang telat, mau ke toko buku.
Alasanku.
Aku juga bilang sudah kirim pesan kepada Kak Aga.
Ara berniat mengantar, cuma aku tolak.
Dia masih khawatir dengan kondisi kakiku. Nggak tega biarin aku jalan sendirian.
Untung berhasil ku yakinkan, kalau nggak pertemuan hari ini bisa kacau.
Aku nggak mau seorang pun tau pertemuan rahasiaku.
Yaa.. walaupun mereka pasti sudah bisa menebak dengan gelagat juga tingkahku yang berbeda hari ini.
Hanya saja mereka masih memantau sikapku, selama belum berlebihan nggak mau dipermasalahin.
Cuaca sore ini agak mendung,
seperti mau turun hujan.
Aku mampir ke toko coklat, mencari hadiah untuknya.
Semoga dia suka.
Sambil memilih salah satu box coklat dengan isi berbagai rasa.
Tak lupa aku mencari box untuk menaruh harmonika itu dan diikat dengan pita.
. .
Jodhy sengaja mengosongkan jadwal demi bertemu denganku.
Namun saat ke parkiran, handphone nya berbunyi,
Jodhy di telpon papanya, di minta ke rumah sakit untuk menjemput Neneknya yang baru keluar,
dia berusaha menolak, tapi karena kedua orangtuanya ada urusan yang mendesak tidak bisa Jodhy hindari.
Jodhy terlihat kesal dan marah, merasa pertemuannya gagal.
__ADS_1
Sementara Aku sudah sampai di tempat janjian, terus setia duduk menanti.
Tak henti senyum dan tawaku terpancar.
Handphoneku di tas berbunyi,
kulihat Jodhy menelpon,
aku segera mengangkat nya, dia mengabarkan, membatalkan janji temunya denganku karena Neneknya baru keluar rumah sakit.
Perasaan kecewa langsung menghiasi hatiku. Namun Aku nggak menyerah begitu saja,
Aku bilang padanya untuk menyelesaikan urusannya terlebih dahulu,
dan aku akan menunggunya sampai dia datang.
Mendengar ucapan dariku, wajah Jodhy terlihat gembira,
ia segera ke rumah sakit untuk menjemput Neneknya,
ia berharap tugasnya selesai dengan cepat.
Ia berlarian ke rumah sakit, saat di depan pintu kamar Neneknya dia berhenti sesaat,
Dengan sigap Jodhy membereskan barang-barang Neneknya.
Membawa keluar Neneknya yang sudah di dudukan di kursi roda.
"Sudah siap Nek"
tanya Jodhy, setelah dapat anggukan dari Neneknya, kursi roda langsung di dorongnya.
Nenek sudah berada di dalam mobil, di samping kemudi Jodhy.
Nenek bilang nggak mau langsung pulang, minta ditemani Jodhy jalan -jalan.
Beliau bosan beberapa hari menginap di rumah sakit.
Jodhy ingin menolaknya, tapi nggak tega yang tau kondisi Neneknya yang masih tidak sehat.
Ia pun menurutinya.
Hari sudah semakin gelap, awan pun mulai menghitam, sudah terdengar gemuruh dan dari rintik hujan kecil sampai besar, Jodhy belum juga datang.
__ADS_1
Jodhy memang berusaha menghubungiku, namun selalu kepergok Neneknya.
Neneknya menangkap gelagat gelisah dan tidak tenang cucunya, ini pertama kali nya dia bersikap seperti itu.
Apalagi saat Nenek meminta mematikan handphone Jodhy untuk sementara, gelisah dan kalutnya semakin menjadi.
Dengan kaki yang masih sedikit sakit, aku terpaksa beranjak dari duduk,berteduh di bawah pohon, karena hujan turun semakin deras.
Beberapa kali kuhubungi dan kukirim pesan kepada Jodhy nggak bisa.
Tapi aku masih memiliki keyakinan Jodhy pasti datang, urusannya belum selesai, karena pesan terakhir dia tetap memintaku untuk menunggu.
Dia pasti datang, tunggu sebentar lagi Yuki.
Ucapku berulang kali.
. . .
Saat mobil memasuki pekarangan rumah,
dan memastikan Neneknya sudah berada di dalam rumah.
Jodhy langsung menyalakan handphonenya, ketika menyala sederet pesan dan panggilan tak terjawab masuk.
Dan ketika coba di telpon, Handphoneku nggak aktif.
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
__ADS_1
Terimakasih dan selamat membaca.