
Hari makin sore,
Haga masih berkutat menyelesaikan pekerjaannya.
"Kak, nggak ada yang bisa kubantu, Aku bosan main sendirian.
Gimana kalau kakak kasih harmonikaku, biar aku mainkan"
Rayuku,
nggak mau gagal dalam misiku yang sebenarnya ingin mengambil harmonikaku.
"Ih nggak di jawab, sebel, sebel"
Ocehku sambil menghentak hentakkan kaki dilantai.
Aku menyandarkan tubuhku ke tembok,
duduk dilantai, menarik kedua kakiku,
sehingga kepalaku bertopang pada lututku.
Haga melirikku,
melihat yang ngambek.
Namun jelas pula senyum tergambar diwajahnya.
Manisnya. Haga.
.
.
.
Akhirnya perkerjaan Haga selesai.
Haga menghampiriku, mengusap rambutnya dengan lembut
"Sudah selesai Kak"
mendangakkan kepala, Haga mengulurkan tangannya, menarik tanganku.
Karena posisiku bersandar ke tembok membuatku canggung.
Salah tingkah sendiri.
Sekilas senyum jahil dari wajah Haga terlihat.
Lucunya kamu kalau panik begini. Haga.
Haga terus menatapku.
Aku berusaha menghindari tatapannya.
Hei, ingat Yuki dia kakakmu, nggak usah berfikir aneh-aneh.
Haga menyadarinya, kegelisahan dimataku.
Ia pun berusaha meredan gejolak didadanya
Sabar Haga, jangan membuatnya takut. Haga.
"Kita pulang"
menarik tanganku.
"Kak, aku mau jalan-jalan, biar aku bisa menghafal jalan kalau sendirian"
Haga melirikku.
memangnya siapa yang akan membiarkanmu berkeliaran sendiri. Haga.
Haga tidak menggubrisku.
Ia berjalan keluar sambil menarik tanganku.
Saat keluar,
Sekretaris Haga masih menunjukkan sikap sinisnya,
apalagi saat dia liat Sang Direktur menggenggam tanganku.
Setelah kami menghilang dari pandangan. Mereka langsung bergerombol dengan apa yang dilihat nya tadi.
__ADS_1
Haga membuka jas, dasi, dan menggulung lengan bajunya, tampak salah seorang pengawal yang mengikuti langsung mengambil atribut yang di lepaskan oleh Haga tadi.
ah, pemandangan yang keren abiz, kakakku keren.
Menatap kagum.
Mobil datang,
Pengawal tadi sigap membukakan pintu,
Haga mempersilahkan kumasuk lebih dulu.
. . . .
Haga di kenal sebagai Pangeran Es.
Pangeran tampan yang sangat dingin.
Tidak ada wanita yang berani mendekatinya, karena dia akan lebih dahulu memberikan jarak untuk wanita itu.
Bukan tidak ada yang tergoda dengan ketampanan wajahnya, bahkan wanita banyak yang rela menyodorkan dirinya, walaupun sebagian selimut hangat,
mereka rela.
Namun Haga selalu memberikan penolakan dan jarak yang tidak bisa dijangkau.
Apalagi posisinya pada perusahaan sudah matang, cukup berkuasa dan terkenal dikalangan pebisnis.
. . . .
"Kau mau kemana"
ucapnya sambil melingakarkan tangannya di pinggangku, mengelus rambutku.
"Benar boleh jalan-jalan kak"
"Hmm"
"Asikk, makasih ya kak"
memelukknya nggak sadar, lalu,
"Aku ingin punya boneka besar kak, biar aku tidur nggak kesepian"
Menaikkan dua alisnya.
Aku mendengar Kak Haga memerintahkan untuk pergi ke sebuah Mall.
Tandanya permintaanku dikabulkan olehnya.
"Makasih kak"
Pelukanku tanpa sadar semakin erat.
Dan wangi tubuhnya membuatku betah berlama-lama.
Padahal kalau diingat pertemuan pertamamu dengan Kak Aga, sosok yang dingin, angkuh dan nggak bersahabat selalu dia tunjukkan padaku.
Sikap diam nya kadang membuatku takut, tapi tidak sekarang, Walau tidak di respon.
Aku tau Kakakku tidak menolak pelukan dariku.
Jadi.. Aku bisa terus memelukknya berlama-lama.
Senangnya..
Tidak seperti Cakra, aih, kenapa jadi ingat dia sih, bikin badmood aja.
Kami berkeliling,
dan masuk ke toko boneka.
Pengawal dan Sopir diminta mengikuti kami, sebab Haga tau akan banyak berbelanja.
Aku membeli 2 boneka besar, 1 ukuran sedang.
Sampai pengawal dan supir kewalahan membawanya,
mereka disuruh menaruh dahulu di mobil, lalu menyusul kami lagi.
Aku pun disuruh memilih beberapa tas oleh kakakku.
Aku menolak.
Dia mengancam atau membeli seluruh isi tokonya,
__ADS_1
akhirnya aku memilih dua tas.
Nggak mau kalah juga,
saat aku melewati pakaian khusus pria, Aku menariknya masuk.
Aku teringat isi Almari-nya pakaiannya berwana hitam semua,
jadi aku memilihkan beberapa kemeja, kaos, sweater, celana santai, jeans, cargo pokoknya yang lebih berwarna.
Tidak ada warna hitam.
Haga menolak,
Aku balik mengancamnya, aku akan mencari kesempatan buat kabur lagi,
akhirnya Haga nggak bisa menolaknya.
Hari sudah malam,
bagasi pun sudah penuh dengan penuh dengan belanjaan.
Haga menyempatkan dulu untuk makan malam, karena sudah pasti nggak akan sempat lagi untuk makan malam pas sampai rumah.
Dalam perjalanan pulang,
Haga tanpa henti tersenyum.
Senyum bahagia.
Apalagi saat melihatku tertidur di pelukannya dengan melingkarkan tanganku di pinggangnya.
Tapi Haga terlihat cemburu ketika tanganku yang satu memeluk boneka.
cih, dasar pengganggu. Haga.
Tangannya tanpa henti mengelus rambut dan pipiku dengan lembut.
Haga merebahkan tubuhku yang sudah benar-benar kecapean.
Melepaskan sepatuku.
Ia duduk di pinggir ranjangku, menatapku dengan lembut,
tangannya meraih tanganku yang sudah terkulai lemah tak berdaya karena tidur.
Ia ciumi lenganku...
Sesaat menatap wajahku yang sudah tertidur pulas,
membelai pipi dan rambutku lagi,
seolah tidak ingin beranjak jauh dariku.
Perasaan yang bergejolak dalam dadanya, sudah tidak bisa dia tahan lagi,
kemudian ia menarik tubuhku dalam pelukannya, perlahan, namun tidak mengusik tidurku...
Dan dialam bawah sadarku,
aku bermimpi bertemu dengan Pangeran yang selama ini kucari.
Ia turun dari kuda putihnya.
menghampiriku, memelukku dengan erat, dan mencium bibirku dengan mesra..
Ciuman pertama ku..
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
__ADS_1
Terimakasih dan selamat membaca.