
"Judith... sayang... ayo kita pulang, Kakek dan Nenek sudah nunggu tuh.. "
ucapku.
Judith yang mendengar suaraku buru-buru berdiri sehingga menjatuhkan bola bonekanya.
"Mamah, kemari.. aku kenalin sama Paman baik, dia yang dari tadi menemaniku main"
Judith yang berlari kearahku, menarik-narik tanganku..
Paman baik, siapa lagi ini, Judith Judith..
Aku hanya mengikuti Judith yang menarik tanganku kearah orang tadi.
Orang tadi sedang memungut bola boneka Judith saat aku ada dihadapannya..
"Terima kasih banyak, maaf telah merepotkan anda"
ucapku tersenyum sambil membungkukkan badan berterima kasih.
"Tidak merepotkan, malah aku yang harusnya berterima kasih ditemani gadis cilik yang ca cantik"
ucapnya sambil memberikan boneka bola tadi kepadaku..
dan.. JRENG!!!
Mata kami beradu. Kami sama-sama terkejut.
Ternyata Paman baik yang disebutkan Judith adalah Haga.
Aku langsung canggung.
Secara bersamaan peristiwa beberapa tahun lalu berhamburan keluar. Aku masih mengingat jelas tatapan kebencian pada mata kakakku.
Kami sama-sama belum siap, jika dihadapkan dengan pertemuan yang tidak sengaja seperti ini.
"Kak Aga"
ucapku lirih.
Haga masih menatapku dalam diam.
__ADS_1
Handphoneku berbunyi.
Aku langsung mengangkat, dan setelah ku berbicara, aku tutup telponnya.
"Ayo sayang bilang Terima kasih sama Paman"
ucapku pada Judith.
"Terima kasih Paman baik sudah menemani Jui"
ucap Judith sambil tersenyum pada Haga.
"Maaf kak, kami pulang dulu, dan sekali lagi terima kasih banyak.. "
ucapku sambil menarik tangan Judith, membawanya pergi dan meninggalkan Haga dalam kebisuannya.
Haga masih tampak syock dengan kepergianku.
Yaa.. itu kakakku, kakak yang dulu begitu baik dan perhatian padaku.
Kakak yang selalu mencurahkan kasih sayangnya yang berlimpah.
Kakak yang diam-diam menyukai dan memintaku menjadi pendampingnya.
tapi... aku malah takut, aku takut saat melihat sorot matanya yang masih membenciku.
Amarahnya yang membakar dada. Aku benar-benar takut melihatnya.
Melihat sorot matanya yang menuduhku sebagai pembunuh.
Lebih baik aku terus bersembunyi dari pada melihat api yang akan membakar kami berdua..
Kalau saja aku masih diberikan kesempatan untuk menebus sekian. Aku benar-benar rela, walau nyawaku sebagai penggantinya.. Aku rela memberikannya.. karena aku tahu selamanya aku tidak akan pernah bisa menghidupkan kembali orang yang telah tiada.
Jadi tidaklah salah jika dia membenciku.
Aku pantas mendapatkannya.. Biarlah tetap seperti ini, aku sudah memutuskan menghilang dan tak menunjukkan wajahku dihadapannya...
Aku larut dalam suasana hatiku yang bergejolak, tidak kupungkiri pertemuan dengannya menjadi bumerang untukku.
Andai saja... kakak tahu rasa sesalku beberapa tahun ini, aku pun menghukum diriku sendiri, aku tidak layak untuk bahagia..
__ADS_1
Semua terasa sia-sia. Aku yang terus berlari dan bersembunyi, malah takdir masih mempertemukan kami lagi.. Hah.. apakah masih ada Takdir??..
"Ada apa Yuki"
Ibu yang membuyarkan lamunanku didalam mobil saat kami pulang.
Ia menyadari wajahku yang kembali murung sambil mengelus rambut Judith yang sudah tertidur pulas dipangkuannya..
Sedangkan Papa dan Mamaku hanya melirik dari kaca spion depan.
"Tidak apa-apa Bu.. hanya saja aku tiba-tiba kangen Jodhy"
ucapku berbohong.
"Sudahlah, lupakan, lepaskanlah...
sudah lima tahun kau terus bersembunyi, sekarang sudab saatnya kau pun dengan lantang menatap masa depan-mu,
Ibu rasa sudah saatnya kau bangkit, Ibu yakin Jodhy pun tahu, dia pasti ingin kamu juga bahagia Yuki.. "
Ibu menatap wajahku yang murung ku, memberikan setetes keyakinan untukku mengambil keputusan.
Aku hanya bisa tersenyum getir, pedih dihati..
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
__ADS_1
Terimakasih dan selamat membaca.