
Setelah obrolan dengan Ara,
ada pikiran nggak tenang soal tuntutan Kak Aga.
Kak Aga, bagaimana aku membujuk ya,
Ara bilang nggak ada yang bisa ngerubah pendiriannya.
Apa aku coba dulu aja yaa..
Kuketuk pintu kamarnya, tidak ada jawaban.
Kemana ya? Kalau keluar nggak mungkin,
tidur jam segini pasti belum.
Dia pasti ada didalam.
Kubuka pintunya,
HAAHH, GELAP BANGET,
Kak Aga dimana yaa?
Tanganku terus meraba dan berjalan.
"Kak, Kak Aga, kakak dimana"
ah, itu ada cahaya deket jendela.
Aku terus berjalan menyusurui cahaya.
Tiba-tiba tangan seseorang memelukku
dan membekap mulutku dari belakang.
"Aakkhh"
Aku terus berontak,
menyikut, berteriak ketakutan menutup kepalaku,
aku menangis sejadi-jadinya.
"Ja-ngan, lepaskan! Jangan sentuh aku"
coba berlari dari gelap memepetkan tubuhku ketembok.
"Yuki, ini aku, maaf"
ucapnya langsung memenangkanku.
Memelukku dan mengelus rambutku.
Aku cuma sesegukan menangis,
ketika tahu itu suara Kak Aga.
"Kakak, apa sih, kakak jahat banget,
aku nggak suka"
ucapku ngambek,
memukuli dada Kak Aga.
"Maaf Yuki, aku hanya iseng"
memapahku duduk, di tepi ranjangnya,
dan menuangkan segelas air yang ada di samping ranjangnya.
"Minumlah"
"Lagi kakak, apa-apaan sih,
lampu mati bukannya diganti,
aku kayak orang buta meraba-raba"
gerutuku yang memang baru masuk kekamarnya pada malam hari,
karena saat itu masuk mencari harmonikaku pagi hari.
"Lampunya nggak mati,
aku memang sengaja.
Aku sudah terbiasa dengan cahaya yang tidak berlebihan"
"Ini bukan berlebihan kakak,
ini gelap, gelap gulita, betah amat sih, pake acaranya nggak mau cahaya berlebihan segala"
"Terang itu lebih baik daripada gelap kakak"
Haga yang mendengar ocehanku hanya mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Ada apa mencariku"
lalu ia berdiri,
berjalan ke arah jendela.
Menutupi sesuatu.
Aku mengikutinya berdiri.
ah, ternyata benar, Kak Aga bisa melukis.
Tapi apa ya lukisannya.
"Kak, apa kakak memasukkan Jack dan teman-temannya kepenjara"
menyentuh tangannya,
yang masih menutup rapat -rapat lukisannya.
Ia hanya menatapku.
"Apa bisa kakak.. "
ucapku ragu-ragu.
"mencabut tuntutannya"
Ia menghempaskan tanganku.
"Kamu repot-repot kesini,
cuma buat masalah nggak penting ini"
"Kak, ayolah.."
ucapku setengah merenggek.
"Tidak"
jawabannya tegas dengan penekanan kuat.
Aku nggak boleh nyerah, harus coba membujuknya.
"Kak.. kakak,
bukankah sangat menyayangiku.
Katanya kakak janji nggak mau liat aku sedih apa nangis lagi.. "
ucapku menunduk pura-pura sedih.
Menatapku.
"Jangan menguji kesabaranku,
itu nggak akan pernah berubah"
Balasnya makin tegas menatapku
seakan tau aku berpura-pura membujuknya.
"Ah, kakak bohong,
aku baru minta segitu aja nggak mau"
ucapku menghempaskan tangannya dari daguku,
Pura-pura ngambek, berjalan keluar.
"Hei, gadis manja,
trikmu itu nggak mempan"
ucapnya menarik tanganku, mencegahku pergi.
"Sekali nggak, tetap nggak"
ucapnya penuh penekanan.
"Kak Aga Jahat"
melepaskan tangannya.
"Yuki"
kakinya melangkah,
dan dia menarikku kedalam pelukannya.
"Ka-mu,
jangan bersikap seperti menyalahkanku,
aku berbuat seperti ini demi kamu,
harusnya kamu tahu dan mengerti"
__ADS_1
"Aku nggak ingin ada orang yang melukaimu, apalagi mereka membuat-mu seperti waktu itu"
"Aku sungguh takut,
aku nggak mau kehilanganmu,
dan kejadian seperti itu terulang lagi"
ucap Kak Aga memberi penjelasan,
sambil menatapku yang masih cemberut.
"Yuki,
ayo dong.. jangan cemberut gitu,
wajahmu jadi mirip jepitan jemuran.. "
ucapnya merayuku,
mencoba membuat lelucon supaya aku tersenyum.
"Pokoknya aku marah,
aku nggak mau ngomong lagi sama kakak"
keras kepalaku keluar.
huh, dasar gadis manja, bikin aku serba salah. Haga.
Haga menghempaskan nafasnya.
Kewalahan dengan sikapku.
ayo kak, pokoknya aku nggak akan nyerah, sebelum kakak cabut tuntutannya.
"Baiklah, kamu menang"
ucapnya dengan nada tidak rela.
akhirnya..
"Makasih kakak.. "
ucapku memeluknya,
senyum penuh kemenangan.
"eits, jangan senang dulu.
Aku punya syarat dan kamu harus menurutinya"
hei, gadisku yang licik,
memang kamu aja yang bisa.
Seringai Haga senyum penuh arti
"Apa aja kak, terserah,
pokoknya asal kakak cabut tuntutannya"
ah, paling lari pagi di taman.
"Janji ya, apa aja syaratnya, kamu setuju"
"Iyah... kakak.. apa aja"
ucapku senyum penuh kemenangan.
"Baiklah,
aku nggak akan bilang sekarang,
tapi jika suatu saat aku memintanya,
kamu harus menuruti menurutiku"
Aku mengangguknya saja dipelukannya.
aku pastikan kamu nggak akan bisa lari dariku, gadisku.
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
__ADS_1
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
Terimakasih dan selamat membaca.