
Dari dalam kamarnya terus menatapku.
Memperhatikan setiap gerak-gerikku. Matanya menatapku gelisah.
cih, apa sih yang gue pikirin, cuma cewek kampung aja. Cakra. Sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
Sore hari, mobil yang membawa Haga sudah memasuki pekarangan rumah.
Mata Haga berkeliling dan menyadari aku ada di halaman belakang.
Ia memasuki rumah, tampak para pengawal dan pelayan yang dia lewati memberi hormat
Ia buka jasnya, ternyata kemeja pun hitam.
Ia berjalan menghampiriku. Senyum tipis terlihat diwajahnya, saat melihatku yang tertidur.
Ia jongkok dan membungkuk kan badannya, merapikan perlengkapan lukisku yang berceceran dilantai.
Ada rasa penasaran menggelayut di hati Haga, Ia baru akan menyentuh kertas gambarku.
Aku yang merasakan keberadaan orang langsung membuka mata.
"Selamat sore, sudah pulang"
ucapku mencoba bangun dari posisiku yang terlentang.
Ah, malu banget, dia pasti liat tadi saat aku tidur. Gerutuku tiba-tiba merona malu.
Haga nggak menjawab, seperti biasanya hanya menatapku.
"Aku bosan seharian nggak melakukan apa-apa, mau membantu nggak boleh, pegang ini itu dilarang, mau keluar nggak bisa"
keluhku.
Haga bangkit dari jongkoknya sudah membawa semua perlengkapan lukisku.
Aku hanya mengikutinya dari belakang.
Didepan kamarku, dia memberikan semua perlengkapan lukisku, lalu masuk ke kamarnya.
Tuan Besar Haga irit banget, ngomong kek, memang aku punya kekuatan supernatural baca pikirannya. Sewot sendiri.
. . . .
Pukul 7 malam, seperti biasa pelayan memberitahu untuk makan malam.
__ADS_1
Kami semua, Haga, Cakra dan Aku turun.
Aku jadi lebih pendiam. Sepertinya Nyonya Besar pun sudah mengetahui tentang peristiwa tadi pagi dari Pengasuh Ma.
Apalagi saat mataku secara nggak sengaja bertatapan dengan Cakra, seperti ada panah yang menancap di jantungku.
Perasaan nggak sukanya, penolakan dan ucapan kasarnya terus terngiang di telingaku. Membuatku serba salah.
Setelah makan aku langsung masuk kamar. Mengurung diri.
Disini aku benar-benar kesepian dan merasa asing.
Walaupun aku sudah tau kenyataan yang sebenarnya, aku diadopsi sebagai anggota keluarga bukan membuatku senang, malah merasa sedih.
Kupandangi kotak pemberian Ibu Kepala, kubuka lagi.
Kukeluarkan gaun yang berada di dalamnya, sesaat kupandangi lalu kupeluk erat.
Airmataku tumpah seketika, rasa sakit, pedih bercampur jadi satu..
Haga yang tanpa sepengetahuanku sudah berada dibelakangku, membuatku terkejut, berbalik, menatap Haga dengan airmata yang bercucuran...
Haga langsung merengkuhku kedalam pelukannya.
Haga langsung membereskan gaun tadi, dia kembalikan ke kotaknya, lalu memasukkannua dalam lemari.
Lalu menarik tanganku untuk ikut bersamanya.
Saat kami membuka pintu, kulihat pintu Cakra dibuka, ia keluar dari kamarnya, menatapku yang berpapasan dan pergi..
Haga membawaku ke ruang keluarga, Nyonya Besar dan Pengasuh Ma sedang menonton televisi.
"Aku dan Yuki akan keluar untuk jalan-jalan"
Nyonya Besar melirikku, yang sudah melihat tanganku digandeng Tuan Besar.
"Pengasuh Ma, suruh siapkan mobil dan antarkan mereka"
ucapnya memberi perintah.
"Tidak perlu diantar, Aku mau menyetir sendiri"
Nyonya Besar menatap sesaat, lalu membiarkan kami pergi.
ah, jalan jalan malam, akhirnya aku bisa keluar rumah juga, Tuan Besar ini, eh, kakakku yang satu ini memang the best, ga banyak omong, tapi tau yang aku mau.
__ADS_1
Aku yang merasa gembira senyam senyum sendiri.
Mobil Haga sudah terpakir di sebuah pasar malam dengan taman ria.
Belum apa-apa binar bahagia sudah terlihat di wajahku,
Haga melirik tingkahku dari kaca spion, yang sekilas ada senyum yang tergambar dari wajahnya.
Mataku membulat gembira, berlari kesana kemari, sesekali aku melirik ke arah Haga.
cih, ekspresinya itu loh, mana ekspresinya, nggak berubah sama sekali. Gerutuku yang melirik Haga tetap diam tanpa ekspresi.
ah, bodo amat yang penting aku bahagia, aku tersenyum bahagia menatapnya dan tanpa sadar sudah memeluk tubuh Tuan Besar dengan erat.
"Makasih, aku senang sekali"
lalu menarik tubuhku, menatap wajah Haga.
Ah, bilang nggak ya, ah, bilang aja deh.
"Bolehlah aku sekarang aku panggil ka-ka"
ah, kan nggak dijawab, tetap diam, tapi kayaknya dia nggak keberatan deh,
walaupun dia nggak bilang boleh apa nggak, jadi aku putuskan akan memanggilnya begitu...
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
Terimakasih dan selamat membaca.
__ADS_1