
"Ngapain lo disini, masuk kamar Kak Haga tanpa izin"
Suara Cakra membuat wajahku pucat, saat mau membuka salah satu penutup kain hitam tadi.
"Gue bilang, mau apa lo di kamar kakak gue, lo budek"
berteriak, melotot, mencengkram tanganku dengan kuat.
Tubuhku bergetar hebat, ketakutan.
"Gak, nggak apa-apa!"
mencoba melepaskan cengkraman tangan Cakra dan berlari keluar kamar.
Langkah Cakra lebih cepat, ia menarik dan menghempaskan tanganku ke tembok.
"Apa yang lo curi, ayo jawab"
"Aku nggak ambil apa-apa"
jawabku gagap,
ketakutan melihat wajah Cakra yang sudah merah karena menahan marah.
"Bohong lo, ayo jawab jujur, apa yang lo curi"
"Bener Kak Ara, aku nggak ambil apa-apa, aku tadi mau cari harmonikaku"
tangisku sudah meleleh diwajah, karena takut.
"Apa, Harmonikaku? Apa gue nggak salah denger, lo pasti bohong kan, lo pasti lagi ngincer barang-barang kakak gue kan lo, ayo ngaku"
Bentak dan tuduh nya makin meluap.
Suara teriakan Cakra mengundang Pengasuh Ma hadir diantara kami.
"Ada apa ini? Kenapa dengan kalian? "
tanya Pengasuh Ma yang melihat wajahku sudah pias karena ketakutan.
Cakra melepas genggamannya, lalu pergi meninggalkan ku yang masih syock.
"Anda tidak apa -apa Nona"
__ADS_1
tanyanya khawatir.
"A-ku ng-ga apa-apa Pengasuh Ma, boleh-kah aku keluar,
a-ku ingin ketemu kak Aga"
ucapku terbata, masih mengatur nafasku yang masih syock.
Kepala udang sia***n. Nuduh orang nggak pake diayak.
Entah kenapa yang terlintas di benakku pertama kali adalah Kak Aga.
Mencari perlindungannya.
Walau sikap Kak Haga dingin, tapi aku ngerasa dia sangat lembut dan baik, dia nggak mungkin sekasar Cakra.
"Baiklah, minta supir mengantarmu"
ucapnya pergi meninggalkanku.
Pengasuh Ma turun memerintahkan supir untuk bersiap.
Tubuhku limbung.
Supir langsung membukakan pintu ketika melihatku.
Kulihat Jeep Cakra sudah tidak ada.
Berarti dia sudah pergi.
Mobil memasuki sebuah gedung perkantoran yang megah dan tinggi.
Supir langsung membukakan mobil dan mengantarkanku masuk kedalam.
Supir tadi memintaku duduk diruang tunggu.
Ia tampak berbicara dengan resepsionis, lalu masuk menuju salah satu lift.
Tidak berapa lama dia turun, memberitahukan Tuan Besarnya sedang Rapat, dan aku di minta menunggu diruangannya.
Aku menaiki lift bersama supir tadi. Menaiki lantai tertinggi di gedung itu.
Tampak saat aku memasuki ruangan Haga, beberapa pasang mata menatap sinis dan iri. Apalagi para karyawan perempuan langsung bergerombol ketika aku masuk keruangan dan pintu tertutup.
__ADS_1
Iri, Sinis, siapa tentang diriku, dan ada hubungan apa dengan direkturnya.
wah, luas banget, ini ruangan kerja Kak Aga.
Luas dan sangat mewah, apalagi kulihat papan nama bertuliskan
"Haga Rahardja, CEO"
Aku menatap dari jendela.
Pemandangan dari lantai paling atas begitu mempesona dan indah. Nggak percaya, Kak Aga yang dingin dia adalah seorang direktur disalah satu perusahaan besar.
Lama-lama aku bosan, setelah berkeliling ke setiap ruangan.
Kak Aga lama juga.
Kuputuskan membaringkan tubuhku di sofa panjang yang memang tersedia disana..
Haga yang memeng sedang Rapat akhir bulan, membahas tentang penjualan dan strategi yang akan di jalankan untuk bulan kedepan memakan waktu yang cukup lama.
Ia terus melirik jam di tangannya. Gelisah.
Karena dia tau sedang ditunggu olehku, ada rasa bahagia terselip di wajahnya, perasaan luar biasa yang tidak bisa di gambarkan oleh dirinya sendiri...
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
Terimakasih dan selamat membaca.
__ADS_1