
Barat tiba-tiba menyentuh tanganku,
ketika kutarik tanganku,
Barat berusaha mencegahnya.
Mata kamipun saling bertatapan.
Barat nggak mau melepaskan genggaman tangannya.
"Wueehh, enak banget nih"
tau-tau Cakra muncul di tengah-tengah kami.
Entah di sengaja atau tidak.
Duduk di antara kami,
membuat Barat mau nggak mau melepaskan tanganku,
dan Cakra mengambil wedang jahe dari tanganku.
"Seger, anget, apalagi minumnya bekas bibir Yuki"
ucapnya meledek Barat.
"Ra, ngapain sih lo,
pergi sana, gue lagi ngobrol ama Yuki"
ucap Barat kesal,
seolah merusak momen rencana yang sudah dia susun.
"Lo aja yang pergi,
gue juga ada perlu, mau ngobrol ama dia"
balas Cakra,
membuat Barat kesal dan panas di komporin.
Dan meraka saling adu mulut,
saling membalas.
Semakin panas ketika Barat mulai naik pitam, menarik jaket Cakra dengan kedua tangannya.
Perang mulut makin sengit,
menarik perhatian anak-anak..
"Berhenti. Apa-apaan sih, kayak anak kecil aja"
melerai pertengkaran mereka, memisahkan keduannya.
Lalu mereka ngeloyor pergi masuk tenda masing-masing.
Aku cuma bisa menghela nafas,
sambil mengelengkan kepala.
Ara, ara, pasti deh, kalo ada dia selalu jadi ribet, dan cari ribut.
. .
__ADS_1
Keesokan pagi.
Aku keluar tenda,
hari masih sangat pagi.
Terlibat kabut masih menyelimuti dan udara segar pun menghampiri..
Aku berjalan keatas bukit,
ingin melihat pemandangan yang lebih segar lagi.
Melihat tetesan embun yang masih menempel di dedaunan,
kadang ada yang langsung berjatuhan ke tanah.
Aku duduk di sebuah batu besar,
kurentangkan tanganku seperti sayap yang ingin terbang,
menghirup udara pagi yang masih asri.
Menikmati sejenak,
kurogoh saku jaketku, ke keluarkan Harmonika kesayanganku.
Mulai meniupnya, walau bunyi yang keluar terdengar sangat tidak karuan.
Yang tidak aku sadari, saat keluar tenda, seseorang terus mengintai dan mengikutiku.
Dan Cakra yang menyadari sesuatu yang nggak beres, mengikuti nya dari belakang.
"Seneng banget lo ya,
ucap Ketty yang sudah merampas harmonikaku.
"Ketty,
ngapin kamu disini"
ucapku sambil menatap terus harmonikaku.
"Gue kan udah bilang sama lo,
nggak usah sok keganjenan deket-deket ama Barat"
"Apa sih Ket,
aku nggak ngerti maksudnya kamu,
aku nggak pernah deketin Barat,
aku kan udah bilang sama kamu"
"Bohong, lo masih aja pura-pura,
belagak nolak, bilang nggak suka,
tapi masih cari perhatian dia"
"Beneran Ket, aku nggak bohong,
aku emang nggak pernah suka sama Barat,
aku cuma anggap dia teman, nggak lebih Ket"
__ADS_1
"Bohong! Semua bohong, lo pura-pura,
lo munafik"
Ucapnya mengebu-gebu marah,
terus menganyun-ayun harmonikaku,
seperti akan membuangnya.
"Denger aku Ket, percaya ama aku,
aku nggak suka sama Barat.
Aku nggak ada hubungan apapun ama dia, selain teman"
"Sekarang kembalikan harmonikaku"
ucapku berusaha merebut harmonikaku,
karena Ketty berusaha menghindari,
mundur, kaki belakangnya terantuk batu, sehingga harmonikaku tergelincir jatuh ke tempat yang curam.
"Ah, Tidakkk, harmonikaku"
teriakku histeris dan panik.
Cakra yang tahu tentang cerita harmonikaku, tau kalo aku akan mengorbankan apapun demi harmonikaku,
sampai tangan terbakar, apalagi sekarang, dia langsung berlari menghampiri.
Apalagi sudah melihatku turun ke arah yang curam, mau mengambil harmonikaku.
dasar mie kriting gila, beneran dia turun.
"Yuki, cepat naik, lo gila yaaa.
Harmonika jelek aja, gue bisa beliin yang baru"
teriakan Cakra yang keras membuat anak lain berkumpul.
Ketty yang kaget melihat Kejadian, Syock, hanya bengong kayak sapi ompong,
nggak nyangka kalau aku bakal melakukan hal senekat itu.
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
Terimakasih dan selamat membaca.
__ADS_1