ELEGI CINTA YUKI

ELEGI CINTA YUKI
Pengagum Rahasia


__ADS_3

Setelah peristiwa mendebarkan dan heboh,


tiga hari dua malam dilalui seperti biasanya.


Dan hari ini saatnya kembali pulang.


Yang berbeda adalah Cakra terus mepet terus nggak memberikan Barat kesempatan lagi.


Dan pulangnya Cakra maksa tukar tempat duduk, duduk di sampingku tentunya.


ya ampun.. dasar berandal kepala udang, apa kamu nggak liat tatapan mematikan para cewek-cewek yang melihatku ingin memakanku. Ini mah keluar dari mulut harimau masuk ke mulut srigala.


ya sudah pura-pura manis aja di depan semua. Dari pada ribet, ambil hikmahnya, yaa.. biar bagaimana pun kalau dia nggak menolongku, dan membuat simulasi seperti ini aku nggak akan bisa lepas dari Barat, dia akan terus mendekati ku.


Yang senang tentunya Cakra,


dia merasa penuh kemenangan,


karena berhasil memisahkan ku dengan Barat.


Ini yang membuat hati Cakra terus berbunga, dan senyum-senyum sendiri,


apalagi saat kebiasaanku muncul,


asal di ajak Jalan jauh sendikit,


aku pasti tertidur, dan bersandar di bahu Cakra.


Tidurlah yang nyenyak mie kritingku.


Senyum Ara sambil sesekali membelai rambutku.


Bus pariwisata sampai di kampus agak sedikit malam, aku masih tertidur,


Cakra nggak membangunkanku, malah menggendongku sampai ke mobil.


Tentu saja tas-tas besar milikku dan miliknya di bantu bawa oleh teman-teman Ara.


Tas langsung masuk bagasi dan mobil Ara melaju pulang.


Beberapa kali di perjalanan Cakra terus melirikku, ia menggamumiku diam-diam.


imut banget sih lo, gue jadi gemes, pengen cubit pipi lo.


Sesekali tersenyum sendiri,


dengan kegiatan alam bawah sadar nya, kebahagiaan yang menyelimuti ruang kalbunya.


Tapi ia nggak berani mengutarakan,


apalagi melihat ekspresi ku saat peristiwa Ketty,


Ara harus menepis sesaat hatinya,


mengatur siasat baru untuk menyatakan cintanya.


Saat ini biarkan gue jadi pengagum rahasia lo.


Mobil berhenti ketika hampir sampai di persimpangan rumah.


Cakra berbalik,


terus menatap wajahku dalam-dalam.


Perlahan, wajahnya terus mendekat,


dan ia hampir saja mendapatkan suasana romantis,


ketika bibirnya sedikit lagi menyentuh bibirku.


DAAKKK!!!


Aku terbangun.

__ADS_1


Kedua kening kami beradu, Ara kikuk, segera menarik kepalanya..


"Aduh, sakit"


sambil mengelus-ngelus keningku saat membuka mata,


belum sadar situasi sebenarnya.


"udah sampai ya kepala udang? "


tanyaku lagi.


"Be-be-lum, sebentar lagi"


jawabnya grogi seperti maling ke grebek warga.


Ia segera menyalahkan mesin dan melanjutkan perjalanan yang hampir sampai itu.


Ia nggak mau sampai aku sadar peristiwa memalukannya tadi.


. .


Haga sudah menyambut di depan teras dengan beberapa pelayan yang siap menurunkan barang bawaan kami.


Saat turun, Ara memapahku,


tanpa abigu Haga menghampiri,


mengambil alih, menggendong masuk diriku.


Ara hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya, ketika di hujani berbagai macam pertanyaan oleh kakaknya.


Haga sibuk mondar mandir mencari kotak obat, terlihat khawatir.


Ara membawa tasku masuk ke kamar, menariknya dekat tembok.


"Ra"


Ara mendangakkan kepalanya ke arahku.


"Makasih udah jagain dan nolongin aku selama disana"


ucapku berterima kasih,


sambil mengembangkan senyum di wajahku.


Ia pun mengangguk lalu pergi.


Aku yang bersandar di ranjang, sudah berganti baju dengan celana pendek dan tank top


Haga masuk kembali ke kamar..


"Kenapa bisa luka begini,


kalau Nenek sampai melihat-Nya pasti marah"


gerutu Haga,


sambil menganti kain perban di kakiku.


"Cuma terkilir kak,


aku nggak apa-apa,


lagian Nenek kan lagi nggak ada"


sahutku cengar cengir


"Siapa bilang"


"Loh, emang sekarang Nenek udah pulang kak"


sahutku ketar ketir, takut di marahi.

__ADS_1


"Belum, tapi Lusa Nenek kembali"


wahh.. gawat lusa pasti kakiku belum sembuh, kalau nenek lihat jalanku pincang, Bisa-bisa ada yang ngejagain aku 24 jam.


Nggak bisa keluar rumah lagi. Nggak bisa nongkrong dan hangout bareng yang lain, aahhhh...


"ahhh, kakak, jangan nakutin dong,


pasti kakiku udah baikanlah kalau lusa,


aku tahan-tahan deh biar nggak ketauan Nenek, kalau memang masih sakit"


"Memangnya kamu kenapa sampai bisa kakimu terkilir"


Haga menyelidiki,


sambil mengurut-ngurut pelan kakiku.


"Gara-gara ini kak, heh"


ucapku nyengir kayak kuda,


sambil menunjukkan harmonikaku.


"Selalu aja, gara-gara barang rongsokan itu, kamu pasti terluka"


ucapnya menahan kesal dan marah.


Rongsokan!!!


Aku menghempaskan Tangan kakakku yang masih mengurut.


Haga menatapku.


"Sudah kak, aku nggak mau bahas"


"Aku kan udah bilang berulang kali,


barang ini lebih berharga, bahkan dengan nyawaku sendiri"


Haga terlihat kesal dan marah.


Ia tau kemana arah pembicaraanku,


dan pasti Haga mengalah,


tidak ingin aku marah.


"Maaf Yuki, aku nggak bermaksud begitu"


"Sudah kak, aku ngantuk, sebaiknya kakak keluar"


usirku..


. . . .


...Bersambung...


Hallo semua Aku Aleena ,


baca cerita lainku yang berjudul :


✔ Dua Hati


✔ Billionaire Master Love Prison


✔ Silence


dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.


Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.


Terimakasih dan selamat membaca.

__ADS_1


__ADS_2