ELEGI CINTA YUKI

ELEGI CINTA YUKI
Memijat punggung Nenek Jodhy


__ADS_3

Satu minggu berlalu Aku tinggal di rumah Jodhy.


Penampilanku sudah seperti pelayan lainnya, menag seragam.


Jodhy sangat perhatian, Diam-diam memenuhi semua kebutuhanku.


Hanya saja setiap kali melihat Papa dan Mama Jodhy seperti sedang bersandiwara di hadapan Neneknya, mereka terlihat seperti keluarga bahagia dan rukun, sebenarnya tidak.


Terkadang aku melihat sorot mata Jodhy begitu dingin, tidak ada cinta.


Mereka, terutama Nenek Jodhy memang mengawasi gerak-gerikku,


walaupun aku tahu,


aku tetap diam saja, sebab merasa entah kenapa walaupun sikap Nenek Jodhy sinis, dingin dan acuh padaku,


tetapi dilubuk hatinya, dia orang yang baik, aku merasa melihat Nenek-ku,


dingin di luar tapi hatinya hangat dan lembut.


. . . .


Sudah satu Minggu lebih ini pun Nenek-ku berbaring di rumah sakit.


Kondisinya mulai stabil dan dokter mengizinkan dibawa pulang, kini Nenek sudah tak bisa jauh-jauh dari kursi roda.


Awan hitam kini menyelimuti keluarga, tidak ada keceriaan lagi.


Haga benar-benar terpukul, bingung dan sakit hati.


Di lain pihak ia harus memperhatikan kondisi Neneknya yang terus menayakan keberadaan-ku.


Merasa belum mendapatkan kabar apapun, aku seolah hilang di telan bumi.


Haga sudah menyebarkan fotoku kepada semua orang suruhannya dimana-mana untuk mencapai keberadaanku.


. . . .


Siang ini dari kamar Nenek Jodhy terdengar lonceng,


tanda ia memanggil seorang pelayan.


Aku yang menyadari semua orang tengah sibuk,


memberanikan diri berlari dan mengetuk pintu kamar-Nya.


Masuk ke kamarnya.


Saat melihatku,


ia langsung dimaki dan dimarahi, katanya dia tidak memanggilku.


Aku berusaha menenangkan diri, bersabar sebisa mungkin menjelaskan,


kalau yang lain sedang sibuk dengan pekerjaannya.


dan aku mengajukan diri untuk membantunya.


Awalnya,


ia menolak,


dan masih mengoceh macam-macam,


aku nggak menyerah terus berusaha menanyakan apa kemauannya...


Ternyata ia memerlukan seseorang untuk mengoleskan dan memijat punggungnya yang sakit.


Aku nekat segera mengambil alih, mengambil balsem, mengoleskan dipunggung dan memijatnya.


Sambil memijat, tanpa memperdulikan ocehannya,


aku menasehati agar beliau menjaga kesehatan dan pola makan.

__ADS_1


Aku juga mengatakan makanan apa yang boleh di konsumsi apa tidak.


Aku nggak perduli si nenek mendengar ocehanku apa tidak.


Aku memijatnya hampir seluruh badannya, hingga beliau tertidur oleh pijatanku.


Aku menyelimuti tubuhnya, lalu keluar.


. . . .


Ke-esokkan sorenya,


saat aku mengantar teh kepada Mama Jodhy yang duduk melamun di pinggir kolam.


Wajahnya terlihat sedih dan muram.


Aku coba bicara dan menghiburmu.


Usahaku membuahkan hasil, Mama Jodhy bisa tersenyum.


Jodhy yang dari kejauhan tersenyum.


Ia menatapku penuh arti,


dia tahu belum pernah ada seorang pun yang berani atau berhasil menghibur Mamanya.


Ia merasa, bertemu dengan-ku adalah keajaiban dan anugrah Tuhan yang di berikan kepadanya.


Dan tatapan itu pun dirasakan oleh Nenek Jodhy,


yang mulai terbiasa dengan kehadiran,


melihat senyumku yang menyejukan hatinya.


Seolah datang cahaya yang menerangi keluarga mereka yang selama ini dilanda kegelapan.


Jodhy pun sudah mulai merasakan bahwa keluarga-nya sudah bisa menerima keberadaanku.


Aku pun sudah bisa melupakan sedikit demi sedikit kesedihan-ku.


. . . .


Aku tidak menyadari kehadiran Jodhy dikamar ku,


yang tengah asyik duduk di sebuah kursi yang hampir mirip dengan meja kerja kecil,


aku sedang melukis.


"Sedang apa sayang? "


ucapnya mengagetkan ku,


sambil mencium pipiku dari belakang.


"Ih, apa sih... main masuk aja,


ketuk pintu dong, itu namanya nggak sopan"


ucapku memarahi,


tapi tanganku masih belum berhenti bergerak diatas kertas.


"Kamu buat apa sayang"


ucapnya lagi,


menyandandarkan dagunya di pundakku.


"Nah, selesai deh"


ucapku menarik kertasku ke atas,


melihat hasil lukisanku.

__ADS_1


"Bagus tidak? Tapi jangan marah yaa..


kalau tidak mirip.


ucapku sudah berdiri disampingnya, memberikan kertas tadi kepada Jodhy.


Jodhy melihat seksama lukisanku, Aku melukis Anggota keluarga Jodhy, Nenek, Papa, Mama dan juga Jodhy.


" Mirip sekali, kamu pandai melukis ya,


ini boleh aku bawa, aku mau pajang dikamar ku"


"Boleh dong, ini memang khusus kubuat untuk kamu"


"Selama ini aku belum berterima kasih dengan benar, dan aku nggak bisa memberikan kamu apa-apa.


Apalagi kamu dan keluarga udah baik banget nampung aku disini.. "


ucapku tertunduk.


Lalu Jodhy memeluk dan


terus mendorong tubuhku hingga ketembok,


tangannya menjatuhkan lukisan yang di pegang,


menatap mataku, dan untuk sepersekian detik, aku sudah larut dalam ciuman dalamnya Jodhy.


Kami berciuman agak lama,


sampai terasa nafasku sesak,


ia melepaskan ciumannya.


"Kau masih saja malu dan nggak bernafas, padahal kita sudah sering melakukan-nya"


ucapnya meledekku, karena wajahku masih merah merona.


"Ih.. apa sih Jod,


sudah sana keluar, nanti kalu kelamaan disini kamu bisa ketahuan,


lagipula aku sudah ngantuk nih"


menutupi rasa maluku yang sudah meledak-ledak.


"Yaudah aku keluar,


tidur yang nyenyak,


jangan lupa mimpiin aku yaa"


ucapnya sambil menunduk,


mengambil lukisan yang sudah jatuh di lantai, lalu ia memelukku sekali lagi dan mencium keningku.


mmm.. mimpi. Aneh. Aku memang sering berciuman dengan Jodhy, tapi entah kenapaa aku seperti masih merasa ada yang kurang, entah apa itu, ciuman yang sama-sama hangat dan lembut, tapi aku merasa ada seseorang lagi yang mempunyai ciuman lebih lembut dari Jodhy. Entah dimana, atau hanya perasaan-ku saja, atau mungkin hanya ada di dalam mimpiku...


. . . .


...Bersambung...


Hallo semua Aku Aleena ,


baca cerita lainku yang berjudul :


✔ Dua Hati


✔ Billionaire Master Love Prison


✔ Silence


dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.

__ADS_1


Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.


Terimakasih dan selamat membaca.


__ADS_2