
Jadi semua ucapan yang dia katakan dimakam Nenek.. Dia berbohong padaku, dia menutupi semua lukanya. Sedangkan aku hanya menatapnya dengan rasa benciku. Aku benar-benar bodoh. Bahkan aku tidak bisa melindungi gadis yang sangat aku cintai..
Yang kulakukan hanya terus berteriak dengan keras, menyuruhnya untuk tidak muncul lagi dihadapanku.
Bodoh.. bodoh.. kenapa aku sejahat itu.
Penyesalan Haga karena selama ini telah berlaku kasar padaku..
. . . .
Panti Asuhan tiba-tiba kedatangan tamu..
Dia mencari Ibu Kepala dan Aida..
Di ruangan Ibu Kepala...
"Ibu..apakah Ibu masih mengenaliku?"
tanya seorang pria tampan dengan senyuman manisnya, sudah berdiri dihadapan Ibu Kepala.
Ibu Kepala menatapnya sesaat dari Kepala hingga ujung kaki, berusaha mengingat lelaki muda dihadapannya..
"Saya cucunya Tuan Wijaya Kusuma, Ibu tahu nama itu.. "
ucap Lelaki tadi memberikan clue pada Ibu Kepala..
"Ya.. ampun.. kau.. kau..Sebastian? "
"Iya bu.. "
Ibu Kepala langsung memberikan pelukan,
"Kau..tumbuh sangat besar, gagah dan tampan lagi.. " mengelus punggung anak lelaki tadi..
"Bagaimana kabarmu..apa yang membawamu kemari, apakah kakekmu sehat?" tanya Ibu Kepala.
"Kakek sudah meninggal setahun lalu bu..
Aku kemari mencari Aida.. "
Ibu Kepala tersenyum kecil,
"Owh.. kau ingin menjemput pengantin kecil-mu ya?"
tebak Ibu Kepala.
Sebastian tersenyum malu.
"Aida-nya dimana Bu?"
__ADS_1
tanya Sebastian.
"Dia dibelakang, sedang bersama anak-anak, kau tunggu disini, biar Ibu suruh seseorang memanggilnya"
pinta Ibu Kepala, lalu..
"Ken"
Ibu Kepala memanggil seseorang, tampak berlari kecil seseorang anak yang dipanggil ken tersebut..
"Iya bu, ada apa"
"Panggil Kak Aida, bilang ada tamu"
"Baik bu, ken panggil dulu ya.. "
Ken berlari kecil meninggalkan Ibu Kepala dan Sebastian. Mereka pun larut dalam obrolan..
Aida sedang membantu anak-anak mengerjakan tugas prakarya.
"Kak Aida" sapa Ken yang menghampiri Aida.
"Iya.. ada apa Ken?"
"Ibu bilang.. ada tamu yang mencari kak Aida"
"Tamu? Siapa Ken? "
sejenak dia terbersit Cakra, Ia ingat setelah pertemuannya dipesta tempo hari, Cakra sempat beberapa kali menelponnya, dan berjanji akan datang ke panti.
"Ken tidak tahu kak, cuma tadi Ken lihat dia sedang ngobrol sama Ibu, dan.. kak Aida.. orangnya tampan sekali loh.. "
Aida tersipu malu.
Itu pasti dia, Cakra benar-benar datang menemuiku.
"Baiklah, kau disini gantikan Kak Aida Yaa, bantu yang lain"
"Siap kak"
Aida berdiri, dan segera ke ruangan Ibu Kepala.
saat kakinya memasuki ruangan Ibu Kepala, terdengar suara tawa dan obrolan kecil..
Lho bukan suara Ara, siapa Yaa.. Batin Aida menebak-nebak.
"Aida, kau sudah datang, kemari dan lihatlah siapa yang datang"
Ibu Kepala melambaikan tangannya, karena Aida masih berdiri di belakang tamu yang may Ibu Kepala tunjukkan.
__ADS_1
Aida berjalan kehadapannya, melihat lelaki yang dihadapannya.
Lelaki itu tersenyum menyambut kedatangan Aida..
Aida terlihat berpikir.
"Ini siapa ya bu?"
tanya Aida gelisah, Ia lupa orang yang dihadapannya, sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Kau sungguh tak mengingatnya, hemm"
ledek Ibu Kepala melihat reaksiku, dan lelaki tadi masih saja tersenyum melihat tingkah Aida.
Aida menggelengkan Kepala..
"Wah.. wah.. ternyata kau dilupakan Aida, sabar Yaa.. "
ledek Ibu Kepala memukul pundak Sebastian.
Aida mengerutkan keningnya,
kali ini Sebastian sudah tidak sabar, Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah kalung bintang mainan dihadapan Aida..
Aida membulatkan matanya, Kaget...
"Kau.. kau.. "
"Apa kabar pengantin kecil-ku"
ucap Sebastian langsung menghamburkan pelukan ditubuh Aida...
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
__ADS_1
Terimakasih dan selamat membaca.