ELEGI CINTA YUKI

ELEGI CINTA YUKI
Undangan Pernikahan


__ADS_3

...**Back song...


...🎧 🎶 Davichi - This love 🎶 🎧**...


Aku dan Jodhy sudah merencanakan setelah menikah, kami akan hidup berdua saja.


Ia akan pergi dari rumah yang telah membesarkannya.


Beberapa hari ini Jodhy terlihat begitu bahagia mempersiapkan segalanya. Seolah punya kekuatan dan semangat baru.


Ia tidak lagi memperdulikan kesehatannya yang semakin hari semakin menurun.


Tiba-tiba,


Saat kami sedang sibuk mencari perlengkapan, tidak sengaja berpapasan dengan Haga. Haga yang berjalan dengan sekretarisnya yang akan makan siang.


Mata kami bertatapan, apalagi tangan Jodhy yang terus menggandeng erat tanganku.


Haga menatap kami tajam. Jodhy tetap bersikap tenang, menarik tanganku, berlalu dari hadapannya..


"Sepertinya... dia ingin membunuhku.


Maaf, telah membuatmu diperlakukan seperti tadi.


Aku tahu dan sangat yakin dilubuk hati terdalam-mu, kau tidak ingin melakukan ini. Aku benar-benar minta maaf karena aku bersikap terlalu egois.. "


ucap Jodhy, saat kami berada disuatu tempat yang melihatku terus diam setelah pertemuan dengan Haga.


"Tidak usah kau cemaskan, ini adalah keinginanku.


Dan aku tak pernah menyesali atas apa yang telah kupilih.. "


ucapku terdengar getir.


"Simpanlah benda ini, jika suatu hari nanti kau rindukan aku, ajak-lah ia bercerita,


aku yakin... ia akan jadi teman setia dan menghiasi hari-hariku... "


Jodhy mengeluarkan sebuah kotak kecil, berukuran panjang, kubuka, ternyata sebuah harmonika baru.


Aku menatap benda itu begitu dalam, tanpa terasa airmataku jatuh perlahan...


"Biarkan tanganku ini yang menghapus semua kesedihanmu,


selama tanganku masih bisa melakukannya, izinkan aku yang melakukannya... aku mencintaimu.. "


ucap Jodhy yang juga menahan semua kepedihannya, memeluk tubuhku dengan erat..


Malam ini,


langit, semilir angin yang berhembus menjadi saksi atas perasaan terluka kami...


. . . .


Keesokan harinya.


Satu minggu dari sekarang pernikahan kamu akan berlangsung.


Hari ini kami membagikan undangan.


Konsep pesta mungil nan sederhana, setelah akad, resepsi semua diadakan dipekarangan belakang rumah Jodhy.

__ADS_1


Aku duduk diruang tamu, masih menunggu Jodhy yang belum turun dari kamarnya.


"Yuki"


ucap Papaku yang sudah dihadapkan bersama Nenek dan Mama tiriku.


"Sebentar lagi kalian resmi sebagai pasangan suami istri, apa tidak sebaiknya kau pindah dan tinggal bersama kami"


Papa yang berusaha membujukku.


Aku berdiri, menatap mereka dengan pandangan sinis.


Tetap membencinya, rasa cintaku terhadap Jodhy tidak akan pernah bisa meluluhkanku.


"Kalian jangan berharap apapun dariku. Aku mau menikah dengan Jodhy karena aku mencintainya.


Bukan mengincar harta kalian, sedikitpun tidak terlintas dibenakku untuk tinggal bersama orang-orang yang telah membuat Mamaku menderita.. "


ucapku terdengar sarkas dan kejam.


Sorot mataku masih menunjukkan dendam yang tersimpan.


Jodhy yang baru turun, mendengarnya. Ada luka dalam batinnya, karena belum berhasil meluluhkan hatiku untuk menerima orang-orang yang telah membesarkannya sebagai orangtua.


Ia menginginkan, aku bersatu dan bisa menjadi keluarga yang utuh dan bahagia.


. . . .


Kami tidak mencetak banyak undangan, undangan hanya untuk family terdekat saja.


Yang tersisa undangan untuk Haga dan Ibu Kepala.


Kami memutuskan untuk memberikan undangan kepada Haga dulu baru Ibu.


Pengasuh Ma memberitahukan kedatanganku, membuat Haga berlari antusias menyambutku. Ia tidak tahu kalau aku datang bersama Jodhy, saat melihatku dan dibelakangku ada Jodhy, kakinya terasa lemas.


Nenek pun sangat gembira ketika Pengasuh Ma memberitahu kedatanganku yang saat itu tengah bersama Cakra.


Nenek pun meminta Cakra memapahnya turun..


"Aku ingin mengantarkan ini.. "


ucapku berjalan mendekati Haga, yang masih tak bergeming karena kedatanganku, memberikan undangan tadi ketangan Haga.


Haga menatap undangan berwarna putih dengan tinta silver terukir indah Namaku dan Jodhy.


Haga bagai tersampar petir, hatinya sakit, dadanya bergemuruh hebat, marah.


Tidak menyangka kedatanganku untuk mengantarkan undangan pernikahan.


Cakra yang memapah Nenek turun, dan melihatku akan pergi. .


Cakra mendekati kakaknya yang masih terpaku, sesuatu dari tangan kakaknya. Ia melihatnya. Ia sama kagetnya seperti Haga.


Nenek yang mulai gelisah, apalagi melihatku pergi begitu saja, penasaran dengan apa yang dilihat kedua cucunya...


Haga tersadar, segera mengejarku yang sudah tidak ada dihadapannya..


Ia lihat aku akan naik ke mobil, tangannya dengan keras menarikku, dan satu tamparan keras mendarat dipipiku.


Sakit sekali, tapi yang lebih sakit hatiku...

__ADS_1


Aku menerima tamparan itu, tetap diam dan tidak menatap Haga, hanya berbalik akan melanjutkan kepergianku..


Lagi-lagi Haga menarik tanganku, dengan kemarahannya, mencegahku pergi.


"Kau Gila! Kenapa kau berubah seperti ini... Apa yang sebenarnya terjadi,


kenapa sedikitpun kau tidak memperdulikan perasaanku... kau tidak memberikanku kesempatan.


Dia anak adopsi, kau dan aku juga, kenapa hanya dia yang mau kau nikahi, Sedangkan aku kau tolak mentah-mentah, apa kekuranganku, katakan..


jika kau ingin aku berubah akan aku lakukan, kenapa kau sangat egois. Dia bisa, kenapa aku tidak, kenapa... "


teriakan penuh luka Haga bergema.


Jodhy yang sudah tidak kuat melihat orang yang dicintainya terus dimaki dan diteriaki dengan keras, segera menghempaskan tangan Haga dan membukakan pintu mobil untukku.


Haga yang sudah kesal, ditambah kebisuan dan perlakuan Jodhy padanya membuatnya makin geram dan memukuli Jodhy berulang kali, hingga tubuh Jodhy tersungkur.


Aku segera melerai, dan mendorong tubuh Haga, menolong Jodhy yang kesakitan oleh pukulan Haga..


"Kenapa, kenapa memang kalau aku memilihnya.


Aku mencintainya, dan kau tidak berhak sedikitpun menghalangi keputusanku.


Ini pilihanku, dia yang kupilih... aku tidak mengizinkan siapapun menyakitinya.. "


ucapku tidak kalah keras dari Haga, terdengar membela Jodhy.


Airmataku terus mengalir dan membantu Jodhy bangun, memapahnya akan masuk ke mobil.


Haga menatapku penuh amarah, dan masih menarik tanganku, mencegahku pergi.


"Lepas"


ucapku sambil menghempaskan tangannya. Dan membawa Jodhy masuk ke mobil..


Cakra keluar dengan kepanikannya..


"Kak.. Nenek.. cepat kemari! "


Cakra berteriak keras.


Haga berbalik dan melihat Neneknya sedang dipapah masuk ke mobil oleh beberapa pengawal dan Pengasuh Ma berada disampingnya..


. . . .


...Bersambung...


Hallo semua Aku Aleena ,


baca cerita lainku yang berjudul :


✔ Dua Hati


✔ Billionaire Master Love Prison


✔ Silence


dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.


Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.

__ADS_1


Terimakasih dan selamat membaca.


__ADS_2