ELEGI CINTA YUKI

ELEGI CINTA YUKI
Cakra terkilir


__ADS_3

"Cakra minta gue sampein ke elo"


Aku masih menatapnya.


"Sampein apa ya? "


walau sedikit ragu,


soalnya aku ingat kembali semua peraturan Cakra.


"Dia mau ketemu lo,


ada yang mau dia omongin, penting! "


ucapnya dengan wajah serius.


Tumben si kepala udang kayak begini, biasanya..


"Dia nggak bisa nyamperin lo,


karena kakinya terkilir"


orang itu menatapku seakan dia tahu kalau aku curiga,


ada yang nggak beres sama orang tersebut.


"Apa, terkilir, kenapa? Dimana dia sekarang? "


ucapku terdengar cemas.


"Dia jatuh dari tangga, sekarang dia disana"


tunjukkan kearah suatu tempat,


agar aku mengikutinya.


Aku yang panik.


"Ayo, antar aku kesana, cepetan, aku takut dia kenapa-kenapa"


khawatirku.


Lalu orang itu berhasil mengajakku pergi dengan tergesa.


Carlo teman Barat yang melihat,


tadinya mau memanggilku,


nggak jadi karena melihatku yang ikut dengan tergesa-gesa.


hah, gue curiga, pasti ada yang nggak beres nih. Carlo.


"Barat"


teriak Carlo yang sudah sampai di kantin, terlihat panik.


Barat dan Brian memang sedang menungguku.


"Yuki"


"Ia, kenapa Yuki,


santai bro ngomong pelan-pelan"


"Dia, di bawa Bondan,

__ADS_1


lo tau kan Bondan ganknya si Jack,


gue curiga ada yang nggak beres,


dia bawa Yuki buru-buru gitu"


"Serius lo, dimana lo liat, ayo kita susul dia"


Barat yang panik bergegas pergi,


diikuti Carlo dan Brian.


Barat tau predikat geng Jack sangat nggak bagus.


Sering menargetkan cewek-cewek kampus yang masih lugu untuk di manfaatkan buat senang- senang.


Ketika berjalan,


Barat bertabrakan dengan Cakra.


Cakra yang sedang berjalan dengan teman-temannya,


langsung berpamitan meninggalkan mereka, mengikuti Barat dan kedua temannya.


Cakra tau aku selalu makan siang dengan Barat dkk,


dan ketika melihat Barat dan dkk panik dan khawatir,


pasti terjadi sesuatu denganku.


. . . .


Cowok tadi yang berhasil membawaku ke tempat sepi.


Kegudang belakang kampus,


aku di sambut dengan tiga orang cowok lagi yang berpenampilan urakan seperti preman.


Mereka tampak tersenyum puas,


seperti mendapatkan pancingan ikan yang besar.


Salah seorang dari mereka langsung menghampiriku.


"Hey manis"


ucapnya langsung menyentuh rambut, memainkannya,


menyentuh pipi dan coba merabaku.


Aku langsung tepiskan tangannya.


"Mana Ara, katanya dia jatuh,


apa dia baik-baik saja"


ucapku terdengar khawatir.


"Lo nggak usah cari Cakra lagi ya manis.


Disini kan udah ada gue"


ucapnya,


langsung memeluk dan merabaku tidak sopan.

__ADS_1


"Lepas"


dan


PAKKK!!!


Satu tamparan mendarat di pipinya.


Mereka semua tertawa, seolah dapat mainan lucu, membuat mereka bertambah ganas.


"Jangan sok jual mahal deh lo.


Berapa Cakra bayar lo, gue juga bisa,


mungkin lebih dari dia"


"Kurang ajar, jaga mulutmu"


aku berusaha mau menamparnya lagi,


tapi tanganku berhasil ditangkap olehnya.


"Gue bilang jangan jual mahal.


Gue bisa bayar lo, karena gue penasaran,


Cakra sampai hari ini masih belum bosan sama lo,


biasanya satu hari dia udah buang,


pasti lo tuh... service lo memuaskan banget kan"


ucapnya tambah kurang ajar.


"Ngomong apa sih kamu, aku nggak ngerti"


ucapku sambil berusaha melepaskan genggam tangannya yang makin kencang.


"Alah, lo sok polos segala, ga usah pura-pura, semua orang di kampus juga tau siapa Cakra, buat dia cewek yang udah ama dia,


bisa dijadiin piala bergilir,


kita semua bisa cobain rasanya"


Piala bergilir apa maksdnya, Cakra tukang main perempuan gitu.


Cowok tadi langsung memberi perintah pada yang lain untuk memegangi tubuhku.


Aku terus berontak, melawan sekuatnya, cuma tetap kalah dengan mereka yang ber-empat..


...Bersambung...


Hallo semua Aku Aleena ,


baca cerita lainku yang berjudul :


✔ Dua Hati


✔ Billionaire Master Love Prison


✔ Silence


dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.


Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.

__ADS_1


Terimakasih dan selamat membaca.


__ADS_2