
...**Back song...
...π§πΆ Davichi - This Love πΆπ§**...
Aku kaget, Haga langsung berlari menghampiri mobil yang membawa Nenek.
"Nenek... Jod.. Nenek ku.. "
ucapku panik saat didalam mobil.
"Tenang Yuki.. kita ikuti mereka yaa! "
Mobil kamipun mengikuti mobil Haga yang melaju dengan cepat.
Mobil memasuki pelataran rumah sakit, beberapa petugas sigap membawa kereta dorong dan membawa pasien masuk.
Mereka dan kami menunggu gelisah diluar ruangan. Detik-detik kekhawatiran kami bertambah ketika dokter keluar dengan wajah lemasnya.
Kami semua masuk keruangan, mata kami tertuju pada kain putih yang menyelimuti seluruh tubuh Nenek yang sudah membujur kaku disana.
Airmataku mengalir deras, begitu juga Haga dan Cakra yang merasa kehilangan atas kepergian Nenek mereka...
"Nenek... maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini.. Nek... bangun.. bangun Nek..."
ucapku menangis, menggoyangkan tubuh Nenek, memeluk tubuhnya, berharap ada keajaiban terjadi. Aku masih belum percaya semua itu terjadi.
Jodhy merasakan kepedihanku, yang menangis histeris, menyalahkan diriku.
Tiba-tiba Haga menarik tanganku menghempaskan tubuhku...
"Jangan sentuh Nenekku! Pergi! Kau sudah membunuhnya...
PERGI!!! "
teriak Haga dengan penuh kebencian.
Aku syock mendengar ucapan Haga.. tapi memang benar.. mungkin ini kesalahanku.. aku yang telah membunuh Nenekku..
Nenek yang telah memberikan kasih sayangnya yang besar, tulus, mencurahkan kasih sayang agar membuatku bahagia...
. . . .
Pemakaman Nenek berlangsung khidmat,
rasa kehilangan dan haru menaungi hatiku, Haga dan juga Cakra.
Kini Nenek telah beristirahat dengan tenang.
Jodhy beserta keluarga hadir juga dalam pemakaman.
Ikut berbela sungkawa atas kepergian Nenek Haga yang sekaligus sahabat Nenekku..
__ADS_1
Aku masih tak henti menangis, dan menyalahkan diri...
"Nenek... maafkan aku... aku benar-benar minta maaf, aku belum bisa memenuhi janjiku..nek.. nenek.. "
tangisanku dipusara Nenek.
"Pergi!! Jangan kau sentuh lagi... PERGI!!! "
teriak Haga keras menarik tanganku yang masih menangis..
"Sebentar saja, biarkan aku disini kak, aku mohon, jangan usir aku... "
masih sesegukan, kali ini Haga tidak luluh dengan tangisku.
"PERGI! Dan jangan kau tunjukkan lagi wajahmu dihadapan kami, PERGI!!! "
teriaknya bergetar penuh penderitaan.
Cakra yang melihat kakaknya berteriak keras padaku,
yang biasanya tidak pernah sekalipun bersikap seperti itu membuatnya bertambahnya sedih.
Jodhy segera memapahku pergi. Ia tidak ingin menambah kepedihanku semakin dalam dan berat.
"Sudah... kita pergi saja, lain kali kau kan masih bisa kesini.
Biarkan Haga tenang dulu. Ia masih terpukul dengan kepergian Nenek.. "
"Tapi Jod.. dia juga Nenekku,
aku menyanyanginya... benar-benar menyayanginya.. "
ucapku menangis dipelukan Jodhy.
Aku terus menyalahkan diriku, hingga tak menyadari kondisi Jodhy yang semakin melemah.
Jodhy sendiri lebih memilih menyimpannya sendiri daripada menambah kepedihanku..
. . . .
Keesokan harinya,
Aku pergi ke makam Nenek sendiri.
Aku masih sesegukan menangis dan menyesali semua sikapku.
Dan hari ini pun Cakra datang ke makam dengan Pengasuh Ma.
Saat melihatku begitu sedih dan terpuruk..
".. relakan kepergian Nenek. Biarkan perjalananya ringan, jangan terus kau tangisi.. "
__ADS_1
ucapku menyentuh pundakku, pertama kalinya Ara berbicara dengan sopan, membuatku berbalik dengan sisa-sisa isak tangisku.
"Ara.. Maafkan.. aku, aku tidak bermaksud melakukan ini, kalau saja aku tidak datang mengantarkan undangan, semua ini nggak akan terjadi...
Nenek pasti masih ada... maafkan aku Ra.. maafkan aku...aku mengaku salah..
tapi kumohon jangan membenciku seperti Kak Aga..
sungguh.. aku tak akan sanggup menanggung ini seumur hidupku... "
ucapku yang sudah ada dipelukan Ara terus menangis..
"Ikutlah dengan-ku, kita pulang, ada pengacara yang ingin bertemu denganmu.. "
"Pengacara? Aku? Ta-pi... "
"Kau tidak perlu khawatir, Kakak sudah pergi ke Eropa. Ia butuh banyak ketenangan dan semua tanggung jawab perusahaan untuk sementara dialihkan padaku.. "
Aku masih diam, tak bergeming..
"Aku juga tidak tahu kapan Kakak akan pulang, sepertinya ia berencana untuk tinggal dalam waktu lama... atau mungkin dia akan menetap disana dan tak kembali.. "
ucap Ara memperjelas semua.
Hatiku bergetar sakit. Entah rasa sakit apa itu, bahkan aku sendiri belum tahu..
Aku tahu Kak Aga pasti sangat terpuruk dan benci padaku. Ia harus kehilangan orang yang dia cintai sekaligus, kepergian Nenek dan kehilanganku orang yang paling berarti di hidupnya.
Hingga ia menepati janjinya untuk tidak melihat wajahku.
Begitu bencikah ia padaku..
Tuhan... maafkanlah aku, maafkan segala kesalahanku yang belum bisa menepati janjiku pada Nenek juga memberikannya satu kesempatan...
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
β Dua Hati
β Billionaire Master Love Prison
β Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
__ADS_1
Terimakasih dan selamat membaca.