ELEGI CINTA YUKI

ELEGI CINTA YUKI
Pergi ke Pesta


__ADS_3

Nenek, Cakra dan Pengasuh Ma berjalan lebih dahulu.


Haga menghampiri dan mengulurkan tangannya padaku.


Berat rasanya hatiku, tapi aku nggak bisa menolak Kak Aga.


Aku menerima uluran tangannya,


lalu Kak Aga langsung melingkarkan tangannya dipinggangku,


berjalan memasuki mobil..


. . . .


Suara alunan musik langsung terdengar ketika mobil memasuki pelataran pesta.


Kami disambut dengan red carpet,


tampak beberapa pengawal pemilik rumah sigap membukakan mobil para tamu dan mempersilahkan masuk.


Pesta yang begitu megah dan mewah,


layaknya pesta para bangsawan ataupun selebrita kalangan atas.


Cakra sudah menggandeng Nenek masuk, didampingi dengan setia oleh Pengasuh Ma.


Haga berjalan penuh percaya diri,


yang masih meletakkan tangannya dipinggangku,


seolah tidak mau lepas ataupun berjauhan,


memamerkan hubungannya denganku.


Sikap Haga memang berubah semenjak dia tahu aku sudah mengetahui perasaannya,


dia tidak lagi bersembunyi dengan perasaannya melainkan terang-terangan.


Hanya saja aku belum terbiasa,


terkadang aku masih menganggapnya sebagai kakakku.


Senyum bahagia tergambar jelas diwajahnya, sedangkan aku yang merasa terpaksa datang ke pesta berusaha tersenyum semanis mungkin agar tidak membuat malu Nenekku.


Nenek langsung menyapa pemilik rumah dan tentu saja memperkenalkanku sebagai tunangannya Haga.


Membuat Haga terlihat puas dengan kemenangannya.


Buat pemilik rumah wajahku memang tampak tidak asing,


hanya saja menurut mereka penampilanku yang jauh berbeda.


Mereka tahu aku pasti selalu hadir pada pesta seperti ini untuk menghibur para tamu dengan permainan pianoku.


Yang tidak aku ketahui,


Jodhy berserta keluarga pun hadir disini.


Ternyata undangan yang Julie berikan waktu itu adalah untuk ke pesta ini.


Julie terus menggandeng tangan Jodhy,

__ADS_1


tidak ingin melepaskan sedikitpun kesempatan untuk bersama Jodhy.


Nempel terus kayak perangko.


Pembawa acara yang sudah melirik kehadiranku tidak ingin Menyia-yiakan kesempatan.


Ia tahu keandalanku dalam bermain piano,


dia tahu aku saat ini datang bukan sebagai pengisi acara melainkan tamu undangan.


Aku diminta memainkan sebuah lagu.


Tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu,


ia langsung memanggil namaku dari atas panggung.


Haga yang tahu namaku dipanggil semacam punya kebanggaan tersendiri,


ia langsung menggandeng pinggangku menuju kearah panggung.


Diikuti Nenek, Cakra dan Pengasuh Ma dibelakang kami.


Suara tepuk tangan bergema,


kumpulan orang-orang yang tadi mengerubunggi panggung seketika memberi jalan untuk naik keatas panggung.


Haga melepaskan gandengannya saat dekat dengan panggung.


Dan mereka bersiap menonton pertunjukanku dari sisi sebelah kanan panggung.


Sambil terus bertepuk tangan mengikuti yang lainnya.


Saat akan naik keatas panggung aku melihat kehadiran Ibu Kepala,


aku yang ingin juga melepaskan rindu langsung menarik tangannya untuk ikut bersamaku keatas panggung.


Kebetulan ada dua piano diatas panggung.


Suara gemuruh tepukan tangan membuat keluarga Jodhy dan Julie penasaran,


dia turut serta ingin menyaksikannya apa yang sedang terjadi.


Mereka berjalan kearah sisi kiri panggung.


Biasanya mereka hanya sesekali mengikuti acara,


tidak berlama mereka langsung meninggalkan tempat acara.


Tanganku langsung mulai dengan lincah menekan Tuts-tuts hitam putih itu menyatukan semua kerinduanku yang terpendam.


Tanganku berhenti langsung disambung oleh permainan Ibu kepala,


hingga kami berdua memainkannya bersama.


Memukau mata semua orang yang melihat, termasuk dengan Julie yang seolah mengingat-ingat diriku,


dan matanya membulat tajam ketika benar-benar menyadari apa yang dilihatnya diatas panggung adalah diriku.


"Nenek...bukankah dia pelayan dirumah,


kenapa dia bisa berada ditempat ini"

__ADS_1


ucap Julie kesal dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Mata Jodhy langsung fokus ke panggung.


Ia pun nggak menyangka kalau aku begitu mahir bermain piano,


dan penampilanku yang benar-benar sangat terlihat berbeda.


"Benar Jod, dia Yuki. Dia cantik sekali dan sangat berbeda malam ini"


Papa Jodhy yang ikut takjub dengan permainan dan penampilanku.


Begitupun dengan Nenek dan Mama Jodhy terlihat sangat mengagumi permainan dan penampilanku.


Papanya Jodhy terus menatapku,


seolah dia mengenali gaun yang aku pakai..


"Alice"


ucapnya tiba-tiba menyebutkan satu nama yang membuat Nenek dan Mama Jodhy menengok.


"Dia sangat mirip dengan Alice, dan gaunnya.. "


seolah mengingat-ingat.


Lalu permainan pianoku berakhir.


Kami maju kedepan dan membungkukkan badan kehadapan penonton yang gemuruh tepuk tangan masih belum juga berhenti.


"Benar mah.. itu gaun milik Alice,


gaun yang aku beli untuk pernikahan kami..


dan kalung itu mah, kalung pemberianku untuk Alice sebagai hadiah pernikahan"


ucap Papa Jodhy yang tak melepaskan tatapan matanya kepadaku.


"Apa.. ucapan-mu sungguh-sungguh Natthan? Kau tidak berbohong! "


Nenek yang tidak pernah bercampur haru dan gembira karena telah menemukan apa yang mereka cari.


"Sungguh mah, Dia Judith. Dia Judith yang kita cari selama ini"


tambahnya.


. . . .


...Bersambung...


Hallo semua Aku Aleena ,


baca cerita lainku yang berjudul :


✔ Dua Hati


✔ Billionaire Master Love Prison


✔ Silence


dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.

__ADS_1


Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.


Terimakasih dan selamat membaca.


__ADS_2