ELEGI CINTA YUKI

ELEGI CINTA YUKI
Pengakuan Cakra


__ADS_3

Sebelum Cakra mengantar Aida pulang, ia mengajak Aida makan malam romantis disebuah restoran.


Cakra tidak melepaskan tatapan maupun tangannya pada Aida. Cakra mendadak bucin pada wanita yang ditolak mentah-mentahnya dulu..


Jas panjangnya sudah menutupi tubuh mungil Aida, yang menurutnya hanya dia saja yang boleh memandang, menyentuh dan memiliki tubuh Aida, apalagi setelah dia membuat Sertifikat hak miliknya.


"Apa dia baik-baik saja beberapa tahun ini"


Ara memulai lagi obrolannya menanyakan kembali tentangku yang terputus oleh hal mendesaknya tadi.


"Dia terus bersembunyi, tidak ingin bertemu dengan siapapun, dia menutup dirinya rapat-rapat setelah kepergian Jodhy"


Aida yang mulai bercerita menatap mata lelaki dihadapannya.


Cakra membulatkan matanya, kaget


"Kepergian Jodhy, memang dia kemana?"


"Jodhy.. Leukimia,


dia meninggal...dimana harusnya mereka berbahagia..


Jodhy meninggal dihari pernikahan mereka, bahkan cincin pernikahan pun belum sempat ia sematkan di jari manis Yuki.. "


Tatapan Aida yang berubah jadi sendu ketika menceritakan kepedihanku.


Sedikit terbersit rasa sakit, pedih pada hati Cakra..yang tidak bisa dia pungkiri, bagaimana pun Yuki sempat mengisi ruang hatinya yang tak terbalas.


"Yuki kehilangan akal sehatnya, dia bahkan dia mengeluarkan airmatanya saat Jodhy meninggal dipelukannya. Ia seolah menegarkan hatinya untuk tidak menangis..


Benar-benar membuat kami khawatir..


Setiap hari datang ke makan Jodhy untuk menabur bunga, tapi dia sama sekali tidak menangis, tatapan matanya kosong..


terkadang berkali-kali dia tertidur dimakan Jodhy..


Untungnya peri kecil itu hadir.. disaat Yuki sudah hancur berkeping-keping..


Peri kecil itu bisa menggerakkan hati Yuki yang kosong.. Judith nama Peri kecil itu.."

__ADS_1


Aida yang mulai bercerita panjang lebar tentang kehidupanku, lima tahun belakangan..


Cakra tampak begitu menyimak cerita Aida, bahkan dia mengusap airmata Aida yang masih menangis menceritakanku.


"Jangan sedih lagi, sekarang ada aku disini"


ucap Ara lembut meyakinkan posisinya pada Aida.


Tanpa banyak bicara seolah Cakra sudah memilh Aida sebagai pelabuhan hatinya,


dan sebagainya pertanggung jawabannya atas kepemilikan sertifikat,


dia pun harus membangun pondasi yang kuat agar hati Aida tidak goyah atau melarikan diri darinya lagi.


"Kapan kau kembali"


"Besok"


"Aku antar yaa"


"Tidak usah, Aku dan Ibu akan diantar supir besok pulang"


Ara menyadari hal itu.


"Aku pasti bertanggung jawab,


Aku mencintaimu"


ucapnya mencium tangan Aida.


Mengakui perasaan dan mengukuhkan hatinya agar Aida tidak ragu.


Aida melambung kegirangan,


tidak menyangka dia dapat hadiah sebesar ini, dia yang dulu sangat mencintai Cakra tanpa balasan sekarang Cakra yang mencintainya duluan..


"Sungguh"


"Iya"

__ADS_1


Aida kegirangan langsung memeluk tubuh Cakra dengan erat.


"Kita mau pulang, apa mau lanjut ronde kedua nih.. "


goda Ara ditelinga Aida.


Aida memerah, malu.


"ihh, apa sih, kamu mesum banget"


ucap Aida sambil mencubit kecil pinggang Ara.


"Habis aku ketagihan nih, kamu kan masih fresh.. "


Aida tambah malu, menutup wajahnya.


"Dasar mesuummm, Pulang, ayo pulang sekarang! "


"Iya, ayo kita pulang"


Ara langsung menarik tangan Aida masuk ke mobilnya, mengantar Aida pulang.


. . . .


...Bersambung...


Hallo semua Aku Aleena ,


baca cerita lainku yang berjudul :


✔ Dua Hati


✔ Billionaire Master Love Prison


✔ Silence


dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.


Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.

__ADS_1


Terimakasih dan selamat membaca.


__ADS_2