
"Harap bijak saat membaca ya guys, Cerita hanya fiksi belaka, karangan penulis semata. "
Mobil Jeep Ara berhenti didepan panti, Ara bergegas turun dan membukakan pintu untuk Aida.
Ara langsung menggandeng tangan Aida masuk ke dalam panti, sedangkan Sebastian mondar-mandir di depan pintu panti, hatinya gusar dan tidak tenang karena Aida belum juga kembali.
Mata Sebastian membulat kesal ketika melihat Ara terus menggandeng tangan Aida, walau Aida berusaha melepaskan tidak semudah membalikkan telapak tangan karena kokohnya tangan Ara yang tak sedetikpun mau melepasnya.
"kenapa lama sekali" Sebastian langsung menghampiri menghadang mereka.
"Maaf Bas" saut Aida. "Ra, sudah sampai lepasin dong" pinta Aida kepada Ara untuk melepaskan genggamannya.
Ara seperti tidak perduli, pura-pura tidak mendengar.
"Hey, kau tuli__Aida bilang lepaskan" Sebastian tidak sabaran, menarik tangan Aida yang satunya.
ya__ampun, mereka mulai lagi. Aida.
"Ra, ayo__dong, aku lelah" Mata Aida mendelik ke hadapan Ara, sepertinya kepala Aida sudah bertanduk dua karena kesal.
"iya__iya__sayang, aku pulang, besok Aku dan kakak akan menjemputmu" Ara tanpa ragu dan memperdulikan keberadaan Sebastian mencium kening Aida dan melepaskan genggaman tangannya.
Kau lihat, dia ini wanitaku, selamanya hanya akan jadi milikku. Sorot mata Ara tajam kepada Sebastian seolah memberitahu kepemilikan.
Sebastian mendelik kesal kepada Ara.
Sial, pria breng___k ini sungguh tak tahu malu. Sebastian.
"Ya__sudah, hati-hati dijalan"
Ara pun menghilang dari hadapan kami. Suasana jadi canggung, saat kami saling menatap. Sebastian pun melepaskan genggaman tangannya.
"untuk apa lagi dia datang besok" Sebastian mencairkan suasana.
"hmm__kami akan bertemu Yuki" saut Aida.
"Yuki" mata Sebastian kembali berbinar mempunyai topik pembicaraan.
"hmm" Aida yang berjalan dan duduk di teras, Sebastian mengekori duduk disebelahnya.
"Sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabarnya" ucap Sebastian.
"Dia, cukup baiklah" Aida ragu bercerita.
Sebastian terus memperhatikan gelagat Aida yang dia rasa tidak nyaman saat berbicara dengannya.
"kapan kau mengajakku bertemu dengannya, aku juga ingin bertemu dengan Yuki" Sebastian mencoba mencairkan suasana.
Aida menyelipkan kedua rambutnya pada daun telinga, Aida binggung bercerita tentangku harus Aida mulai dari mana,
mata Sebastian membulat tajam saat dia melihat leher Aida dipenuhi dengan stempel kepemilikan cinta, yang Aida sendiripun tak menyadarinya.
__ADS_1
Sebastian menyentuh leher Aida ia amati baik-baik stempel cinta itu.
Lelaki breng__k itu benar-benar melakukannya, dasar tidak tahu malu, dia pikir setelah melakukan ini Aku akan melepaskan Aida, jangan mimpi kau. batin Sebastian kesal.
"jangan besok ya, besok aku sudah janji untuk mempertemukan Yuki dengan Kak Aga" sautku, perlahan melepaskan tangan Sebastian yang memegangi lehernya.
Hati Sebastian kecewa, ia tidak menyangka hati Aida akan berubah,
Sebastian berpikir pertemuan dengannya akan membawa kebahagiaan untuk Aida, seperti janji masa kecilnya.
"hmm, baiklah, aku akan menunggu" saut Sebastian lirih,
"kau tidak ingin cerita soal lelaki__mu itu kepadaku" ucapan Sebastian terdengar sinis membahas Ara.
Aida mengalihkan pandangannya, melihat tatapan Sebastian yang penuh kecewa dan luka,
Aida seolah merasakan perasaan dan dirinya lima tahun lalu saat di tolak mentah-mentah oleh Ara.
"Bas__maafkan aku" ucap Aida lirih menyentuh tangan Sebastian,
rasanya Aida tidak tega melihat tatapan sedih Sebastian, dan Aida pun tak bisa membohongi Sebastian.
"jangan meminta maaf, semua bukan cuma salah__mu, aku pun bersalah selama ini tidak pernah berkirim kabar, dan hari ini datang menjemputmu sebagai Pengantin kecilku, kau pasti terkejut dan tidak menyangka" tatapan Sebastian penuh perasaan.
Yaa__ampun, meleleh lagi aku. Dua lelaki ini membuatku frustasi. Aida.
Aida tidak menyangka bahwa dirinya sekarang mendapatkan cinta dan ketulusan yang berlimpah dari dua lelaki itu, Ara dan Sebastian.
"Bas, aku dan Ara, mungkin akan__" belum selesai Aida bicara,
"Tidak apa Aida, aku bisa menerimanya" Sebastian menggenggam tangan Aida dengan erat memberikan keyakinannya.
"sungguh" Aida, Mata Aida berbinar, Aida tidak menyangka akan semudah ini.
"iya, aku bisa menerima hubunganmu dengan lelaki itu, asalkan kau tetap menjadi Pengantin kecilku" Sebastian tersenyum punuh kepastian.
"Apaa" Aida tergelak kaget untuk kedua kalinya, menghempaskan tangan Sebastian, "Gila, kalian berdua sudah Gila ya" Aida menggelengkan kepalanya masih tidak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut Sebastian sama gilanya dengan Ara.
"berdua?" Sebastian mencerna ucapan Aida, Sebastian langsung menarik kesimpulan bahwa Ara pun meminta hal yang sama dengannya.
"Iya, kalian berdua sama gilanya, sudah aku tidak ingin membahas ini, aku lelah" Aida akan berdiri dari duduknya tapi tangannya dihentikan oleh Sebastian, Aida yang kesal bercampur marah terpaksa duduk kembali disebelahnya.
"Tolong jangan tolak aku Aida" Sebastian memohon, "tolong bersikap adil__lah untukku, aku juga mencintaimu, aku terus menunggumu, jadi aku mohon jangan tolak aku Aida" kedua tangan Sebastian sudah berada dipipi Aida, berusaha meyakinkan Aida.
"Bas__kau"
"izinkan aku, berikan aku kesempatan Aida, kau jangan hanya perduli kepadanya saja, tolong kau pikirkan dan pertimbangkan juga perasaanku. Perasaanku padamu tulus.
Kalau memang dia tidak keberatan, akupun juga sama" masih memegangi pipi Aida, Sebastian berusaha menyakinkan pikiran extrimnya tersebut.
"Bas, tolonglah jangan seperti ini, bagaimana bisa cinta dibagi" Aida tetap berusaha menolak kelakuan gilanya mereka yang Aida anggap diluar nalarnya.
__ADS_1
"Percayalah padaku Aida, aku tidak akan mengatakan keputusan ini bila aku tidak yakin, aku tidak ingin berpisah lagi denganmu, dan kau juga harus ingat janjimu pada kakekku, kalau kau akan menjadi pengantinku" Sebastian terus menebakkan panahnya agar Aida tidak bisa menghindarinya.
"Aku mencintaimu dan tak ingin kegilanganmu, sama halnya dengan lelaki itu" Sebastian tetap bersikeras dengan keputusannya.
"Bagaimana nanti tanggapan orang Bas, mereka pasti mengucilkanku, menganggapku tak bermoral, pernahkah kalian memikirkanku" batin Aida merasa tertekan dengan pernyataan Ara dan Sebastian.
"Kau tenang saja, biarkan para Lelaki__mu yang mengatur semua.
Para Lelaki__ mu ini orang hebat, kau jangan meremehkan,
jadi jangan cemaskan itu,
yang paling penting adalah, persiapkan hatimu selebar dan seluasnya untuk menampung banyak cinta dari kami Lelaki__mu" Sebastian dengan keputusan finalnya tidak bisa dirubah lagi, sama seperti Ara.
"Basss"
"ssuutt" Sebastian sudah menarik wajah Aida mendekati wajahnya, ciuman lembut dan hangat mengalir lembut dimulut Aida.
Aakkhh, aku Gila, benar-benar Gila. Aida.
Sebastian melepas ciumannya, ia menatap wajah Aida yang memerah tertunduk malu.
"Kau tidak sedang selingkuh Aida, kami berdua sudah mengizinkanmu" ucap Sebastian menatap gemas Aida.
Pantas saja lelaki breng__k itu tidak mau melepaskan Aida. Dia begitu lucu dan menggemaskan. Sebastian.
"ish, apa sih Bas" wajah Aida merona lagi.
"Jadi statusku, suami yang pertama atau yang kedua?" ledek Sebastian lagi sambil memeluk erat tubuh Aida.
Gila. Gila. Gila. Aku benar-benar Gila. Dijebak dan dijerat cinta oleh kedua lelaki ini. Aida.
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
Terimakasih dan selamat membaca.
__ADS_1