ELEGI CINTA YUKI

ELEGI CINTA YUKI
Isi Hati Haga


__ADS_3

Matanya terus mencariku.


Betapa terkejutnya Haga ketika melihatku sedang berbicara serius dengan seorang pria.


Seorang pria yang dia kenali dari lukisan yang pernah kubuat.


Pria tadi terus berusaha menjelaskan sesuatu, Haga hanya bisa mengintip dari balik pohon.


Pria tadi seperti-Nya berhasil meyakinkanku,


Ia melihat kami saling berpelukan, dan pria tadi mencium-ku.


Tangan Haga terkepal kuat,


tatapan emosi dan marahnya menyeruak.


Ia hanya bisa meninggalkan tempat kejadian dengan kesal.


. . . .


Jodhy mengantarkanku sampai persimpangan seperti biasa.


Di perjalanan menuju rumah,


aku mengingat kembali semua ucapan Jodhy.


Jodhy menjelaskan siapa Julie wanita siang tadi. Dia teman masa kecilnya, dan Julie memang memiliki perasaan pada Jodhy, namun Jodhy sendiri nggak pernah menganggap lebih dari teman.


Sedang dengan soal seseorang yang sedang dia ingin temukan, semua berhubungan dengan keluarganya.


Aku hanya diminta untuk tetap mempercayainya. Asal aku percaya, ia nggak perduli dengan hal lainnya.


Dan orang yang dicintai Jodhy, hanya aku seorang. Tegasnya.


Buatku penjelasan Jodhy sudah membuat-ku lega dan nggak berfikir aneh-aneh lagi.


. . . .


Saat aku buka pintu kamarku.


Loh kok gelap, perasaan pas aku pergi lampunya hidup.


Tanganku terus mencari stop kontak untuk menyalahkan lampu.


Siapa ini, siapa yang memeluk-ku.


Lampu menyala, Aku akan membalikkan badan.


"Jangan berbalik dan bicara, sebentar saja, tetap seperti ini, biarkan aku memelukmu"


Ucap Kak Aga setengah berbisik di telingaku. Suaranya bergetar, menandakan ada luka di dalam hatinya.


Aku hanya diam, menuruti kemauannya.


Kak Aga kenapa ya, nggak biasanya dia bersikap seperti ini, dan kenapa dengan pelukannya. Pelukannya berbeda. Apa dia sedang ada masalah di kantor.


Setelah beberapa saat.


"Kak, katanya ada yang ingin kakak bicarakan, katakanlah"

__ADS_1


Kak Aga nggak menjawab, perlahan pelukannya mulai mengendur, lalu aku berbalik.


Aku mencoba menatap matanya, mencari tahu apa yang sedang terjadi.


Yang kulihat, tatapan penuh kecewa dan luka, guratan sedih terlihat dimatanya.


"Kakak kenapa?"


tanyaku lagi mencari jawaban kegelisahanku.


Kak Aga lagi-lagi diam, nggak menjawab sepatah katapun, Ia hanya menatap mataku, menyentuh kedua pipiku dan mengecup keningku dengan lembut, lalu ia keluar dari kamarku.


Gadisku, kau adalah penerangku dalam kegelapan, kau adalah cahaya dihatiku. Apakah ini adalah akhirnya. Haga.


Ada perasaan tersayat dalam diriku, perasaan luka yang tidak bisa dijelaskan. Isi Hati Kak Aga. Isi hati yang masih menjadi sebuah pertanyaan besar untukku.


. . . .


Hari Minggu.


Keesokkan harinya.


Saat sarapan dan makan siang, Aku masih terus melirik ke arah Kak Aga.


Ia nggak seperti biasanya.


Aku seolah melihat sosok pertama kali Aku bertemu dengan Kak Aga. Kak Aga menjadi pendiam dan murung.


Nenek menangkap sikap-ku dan Kak Aga, menatap wajah cucunya yang penuh luka.


Ara pun diam-diam melirikku, dan memperhatikan perubahan sikap kakaknya.


Selesai makan, Nenek memberi isyarat pada Haga untuk mengikuti-nya.


Nenek mengajaknya ke ujung dekat piano.


Aku bersembunyi di balik dinding, disamping vas bunga.


"Pergilah membeli cincin, dan suruh dia mencoba gaun yang Nenek bawa kemarin"


Nenek memulai pembicaraan.


Cincin. Gaun. Apa. Siapa yang mau diajak Kak Aga membeli Cincin dan mencoba gaun. Ada apa sebenarnya. Apa yang Kak Aga sembunyikan dariku. Apa Kak akan.. ah, tapi nggak mungkin, aku nggak pernah lihat dia dengan seorang wanita pun.


Ucap hatiku yang menebak-nebak.


"Yuki, seperti-Nya sudah punya pilihan sendiri"


ucap Kak Aga yang tiba-tiba menyebutkan namaku.


Aku? Kenapa? Ada apa ini? Aku makin penasaran.


"Nenek tidak mau mendengar dia menolaknya. Kau harus segera bertunangan.


Tu-tunangan. Aku dengan Kak Aga?? Tidak mungkin.


Aku yang syock, langsung menurut kedua mulutku, tanganku hampir menyenggol jatuh vas bunga tadi, untung aku segera meraihnya.


Wajahku mendadak pucat, tubuhku bergetar hebat.

__ADS_1


Bohong. Nggak mungkin, semua pasti bohong. Ini pasti salah. Apa yang kudengar, itu nggak mungkin.


Aku yang masih belum percaya dengan pendengaranku.


Aku Segera berjalan kearah tangga, saat akan ke tangga, Cakra baru saja turun dari kamarnya, ia memeng berniat pergi.


Ia nggak sanggup berlama-lama dirumah bersamaku setelah tahu alasan sebenarnya.


Cakra menatap wajah pucatku, terlihat gugup. Tatapan mata kaget seperti habis mendengar sesuatu.


Ia pun menyadari di ruangan lain Nenek dan Kakaknya sedang berbicara.


Ara sepertinya tahu dengan gelagatku yang baru tahu kejadian sebenarnya juga.


Aku yang masih penasaran.


Berjalan ke depan pintu kamar Kak Aga, Aku ingin melihat apa yang tidak boleh dilihat dan disentuh Kak Aga.


Lukisan Kak Aga.


Lukisan yang akan menjawab semua pembenaran.


Pembenaran tentang seseorang yang sangat berarti dan dicintai Kak Aga.


Tanganku bergetar ketika membuka pintu kamar Kak Aga.


Aku masuk ke dalamnya, langkah kakiku terasa berat, hatiku terasa sakit.


GREEKKK!!!


Mataku langsung membulat lebar, tajam dan kaget.


Kain penutup lukisan aku buka semua.


Semua lukisan adalah wajahku.


Aku melihat banyak diriku yang tertawa, tersenyum, menangis, bermain ayunan, bermain piano, tiduran di rumput hijau dan banyak hal lainnya.


Semua adalah aku. Tentang aku.


Kakiku bergetar, tubuhku lemas, hingga terjatuh di lantai.


Ini nggak mungkin. Semua pasti bohong. Aku nggak percaya kalau orang yang dicintai Kak Aga adalah Aku...


. . . .


...Bersambung...


Hallo semua Aku Aleena ,


baca cerita lainku yang berjudul :


✔ Dua Hati


✔ Billionaire Master Love Prison


✔ Silence


dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.

__ADS_1


Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.


Terimakasih dan selamat membaca.


__ADS_2