
Aku mencoba berdiri, keluar gontai dari kamar Kak Aga.
Aku bertabrakan dengan Kak Aga,
Kakiku masih terasa lemas,
berjalan memegangi tembok.
Mataku terus menuduhnya sebagai pembohong.
Haga belum menyadari kalau aku sudah tahu perasaannya, ia menatapku binggung.
Ia membantuku berdiri,
Aku yang belum bisa menerima kenyataan langsung Menghempaskan tangan Haga,
pergi menghindarinya.
Haga menyadari pintu kamarnya masih terbuka, ia masuk dan melihat apa yang terjadi.
Semua kain hitam penutup lukisannya telah berserakan di lantai.
Ia menyadari, aku sudah tahu perasaannya.
Ara hanya bisa menyaksikannya kepergian-ku, tidak tahu harus berbuat apa.
. . . .
Kepalaku terasa berat, hatiku kecewa dan hancur.
Kekecewaan yang sangat dalam membuat langkah kakiku tak tentu arah, sampai tanpa sadar kakiku sampai di kantor Jodhy.
Aku hanya duduk dan menangis di gedung masuk kantor Jodhy.
Aku mencoba masuk ke dalam gedung,
tapi diusir oleh sekuriti,
sekuriti mengusirku karena aku terus menangis dengan rambut yang sudah tidak karuan, kusut dan penampilan yang berantakan, menurut sekuriti mungkin aku gelandangan yang mengganggu pemandangan.
Jodhy yang memang sudah akan pulang, berjalan keluar bersama papanya sedang serius membicarakan tender perusahaannya belum menyadari kehadiranku.
Saat sedang menungu mobil, dan mobil baru berbelok keluar pelataran kantor ia melihatku duduk menangis di pinggir Jalan.
Jodhy meminta mobilnya berhenti, ia turun dan menghampiriku.
Papanya hanya menatap putranya yang keluar mobil dengan panik.
"Yuki"
panggilnya.
Aku mendanggakan kepala, menunjukkan wajah berantakanku, masih terisak dan penuh airmata.
__ADS_1
Jodhy langsung membantuku berdiri, memeluk dan menenangkanku. Memapahku masuk ke dalam mobil.
Dari dalam mobil, papa Jodhy menyadari sikap Jodhy padaku bukan hanya sekedar teman biasa.
Sampai di dalam mobil pun aku masih saja terus menangis di pelukan Jodhy.
"Maaf Pah, aku membawanya, dia masih belum mengatakan apapun"
Jelas Jodhy.
"Sebaiknya kita jangan pulang dulu, kita mampir beli minuman saja, tunggu dia sedikit tenang."
"Baiklah pah"
Jodhy langsung memberi perintah kepada sopir untuk berhenti di Cafe depan.
Sampai di Cafe pun aku masih belum juga berhenti menangis.
Sampai-sampai Jodhy dan papanya binggung, saat pelayan mengantarkan minuman,
Jodhy mengelus rambutku, menenangkanku, menyuruhku minum agar lebih tenang.
Kami diam beberapa saat, setelah aku merasa lebih tenang, aku menghirup nafas dalam-dalam mencoba bercerita.
"Ka-kak-ku... akan menikahiku"
ucapku dengan Bibir masih bergetar,
Jodhy kaget, sedangkan papanya masih mencerna ceritaku.
"Mungkin saja, karena Aku bukanlah adik kandungnya"
"Bukan adik kandung? Aku nggak ngerti"
"Aku hanya anak adopsi Jod"
"Anak adopsi, maksudnya? "
"Aku dibesarkan di panti asuhan, hampir dua tahun ini aku di adopsi mereka, dan Nenek memang sudah merencanakan-Nya dari awal, memilihku untuk di dinikahi oleh kakak-ku"
"Kamu besar di panti? "
Papa Jodhy menyela bicara, ia tampak teringat dengan sesuatu, begitu pun dengan Jodhy yang mendengar kisahku.
"Iya Om, Aku ini anak yang di buang oleh kedua orangtuaku, dan aku anak yang nggak pernah mereka inginkan"
sakitnya hatiku ketika harus menceritakan asal usulku di hadapan orang lain.
Apalagi dihadapan Jodhy, entah bagaimana sikapnya nanti setelah mengetahui asal usulku. Yang jelas sekarang aku hanya bisa pasrah, apapun nanti kedepannya, hubunganku dengan Jodhy, biar Jodhy sendiri yang menentukannya.
Papa Jodhy tampak begitu tersayat mendengar ceritaku, dia seperti meresa mendengarkan ceritanya sendiri.
"Aku nggak mau pulang Jod, Aku nggak mau balik lagi kesana.
__ADS_1
Aku mau meninggalkan semuanya"
"Aku nggak mungkin menikah dengan orang yang selama ini aku anggap sebagai kakakku. Aku nggak mencintainya Jod. . "
"Bawa aku pergi Jod, aku mohon.. "
ucapku Manggeng tangan Jodhy dengan penuh pengharapan.
Jodhy nggak bisa menjawabnya, matanya kini beralih kepada papanya, Ia berusaha minta tolong pada papanya, karena hanya dia yang bisa membantu-nya saat ini.
"Bawalah dia pulang ke rumah"
ucap papa Jodhy.
"Benar pah, Terima kasih banyak pah... tapi bagaimana dengan Nenek"
"untuk sementara, apakah kau bersedia berpura-pura sebagai pelayan baru di rumah kami"
ucap papa Jodhy menatapku.
"Kenapa harus jadi pelayan pah.. Papa kan bisa bilang dia anak rekan bisnis papa atau apa saja asalkan jangan jadi pelayan"
Jodhy yang langsung menolak usulan papanya.
"Nenek-mu pasti tidak akan percaya Jod, ini satu-satunya cara dan alasan yang tepat untuk membawanya pulang ke rumah sekarang"
Mereka mulai bersitegang.
"Sudah Jod"
menyentuh tangan dan menatap Jodhy.
"Nggak pada, Terima kasih atas bantuannya Om"
aku tersenyum tulus pada papanya Jodhy.
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
__ADS_1
Terimakasih dan selamat membaca.