
Lariku terhenti saat didepan gerbang.
Para penjaga melarangku keluar tanpa izin. Aku kesal. Memaki sendiri dalam hati.
Kok jadi nggak bisa keluar gini sih.
Aku nggak kehabisan akal, tekadku sudah bulat. Pokoknya harus keluar dari tempat ini, gimana pun caranya.
Aku terus berjalan menyusuri taman, terus berjalan kearah pohon besar yang ada ayunannya.
Kuperhatikan terus arah pohon besar itu, yang arah rantingnya mengarah pada tembok yang panjang dan tinggi tersebut. Senyum diwajahku pun mengembang, seolah mendapat ilham yang membawaku terbang ke langit ke tujuh.
Dan seseorang dari kamar gelapnya, terus memperhartikanku, tanpa berkedip sedikit pun.
Seolah tau apa yang sedang ku rencanakan.
Makan malam sesuai jadwal, pukul 7 pintu kamar ku sudah di ketuk dan diminta untuk turun.
Ketika sampai dimeja makan Nyonya Besar tampak memperhatikan ku dengan tatapan tidak suka-nya.
"Pengasuh Ma, apa kau lupa perintahku, bukankah aku menyuruhmu mencari pakaian yang pantas dikenakan di keluarga ini"
"Maaf Nyonya, saya akan menasehatinya kembali"
ucap Pengasuh Ma sambil menatapku kesal.
Setelah makan usai, dan Nyonya Besar dan Tuan Besar pergi.
"Nona, saya sudah katakan pakaian lama-mu sudah tidak diperlukan lagi disini"
ucapnya tegas memarahiku.
"Baju ini masih bagus kok, aku senang memakainya"
"Anda lupa Nona, saya aturan buat Nona, dan Nona tanggung jawab saya, jadi saya mohon berkerjasamalah, agar Nona tidak ikut susah di keluarga ini"
Ucapnya makin tegas, melarangku.
Ih, apaan sih, baju aja harus diatur, aku cuma jadi pelayan, baju sebagus tadi mana cocok aku gunakan. Apa-apa ga boleh, keluar saja susah. Seperti di penjara. uhhh. Geramku dalam hati.
Didalam kamar.
Aku sudah mengganti bajuku dengan baju tidur. Sesaat berfikir. Menatap bajuku. Tanpa fikir lagi, aku langsung memasukkan baju-bajuku kedalam tas. Semua baju yang aku bawa dari panti dan barang yang aku bawa dari sana.
Sebuah Harmonika tua jatuh dilantai, aku mengambil dan menatap benda tadi dalam-dalam.
Perlahan kubuka pintu kamar, mengamati sekeliling.
Mataku celingak celinguk memperhatikan sekitar. Aku mengendap-endap keluar ruangan, menuruni tangga membawa tasku. Untung tasku kecil, jadi mudah disembunyikan.
__ADS_1
Aku terus mengendap, setiap bertemu pengawal yang sedang berkeliling, aku bersembunyi. Dengan susah payah, aku hampir dekat dengan tujuan ku.
Ame yang sedang berkeliling, menuju kamarku, mengecek keadaan. Memastikan dugaan khawatir nya tidak terjadi.
Pintu kamar ku beberapa kali diketuk namun tidak ada sahutan yang terdengar. Ia buka dan masuk ke kamarku. Dilihat tempat tidurku masih rapih.
"Nona, ada di dalam"
ketuknya ke pintu kamar mandi, memastikan, namun tidak ada sahutan.
Mata Ame menyadari pintu lemari baju tidak tertutup rapat, ia membukanya, dan menyadari semua barang-barang yang aku bawa tidak ada.
Ame sadar. Aku sedang mencoba kabur.
Sekuat tenaga Aku memanjat pohon besar itu.
Dan seseorang di kamar gelap tadi, tampak terkejut, dia terlihat khawatir dan panik.
Aku berhasil naik, berjalan diatas ranting, Tiba-tiba
"Nona, apa yang anda lakukan, cepat turun!"
teriak Ame menghentikan ku, yang setengah berlari, diikuti oleh beberapa pengawal.
Ame memerintahkan seorang pengawal untuk menghentikanku dan yang lain berjaga-jaga.
"Jangan mendekat, atau aku lompat"
Seseorang yang terus mengamati tampak tidak tenang seolah ingin berlari keluar dari kamarnya juga. Namun masih ragu.
Aku tidak menggubrisnya, terus berjalan tanpa aku sadar tas yang kubawa tersangkut pada salah satu ranting, aku berusaha menariknya, tapi kakiku yang satu menginjak ranting yang sudah rapuh.
"Aaakkkkhhhh...!!!!" teriakku
GUBRAK!!
Tubuhku jatuh.
"Nona"
teriakan Ame tambah panik, lalu segera menghampiriku.
Para pengawal pun sigap membantuku berdiri.
Karena teriakan Ame mengundang pengawal lain datang dan Pengasuh Ma pun keluar.
"Ada apa ini!? "
"Nona, mencoba kabur"
__ADS_1
jelas Ame Pengasuh Ma.
Aku yang masih merintih kesakitan,
"... I-bu sakit! Aku mau pulang"
tangisku pecah merengek sambil menahan sakit.
"Nona, Anda nekat sekali, bagaimana kalau sampai Anda terluka dan Nyonya Besar tahu"
ucap Pengasuh Ma setengah tidak percaya dengan sikap nekatku.
"Ada apa ini, kenapa ribut sekali"
suara Nyonya Besar memecah tangisanku.
Matanya menatapku. Ia turun di gandeng oleh Tuan Besar.
Ame masih terdiam.
"Aku bertanya, ada apa ini? "
ucapnya setengah berteriak. Tegas dan Tajam.
"No, No-na Muda jatuh dari atas pohon saat mencoba melarikan diri"
jelas Ame.
Sesaat Nyonya Besar mengalihkan pandangannya padaku. Masih melihatku merintih kesakitan, dan sesegukan menangis.
"Bawa Nona ke kamar Ame, periksa lukanya, apa ada yang serius"
perintah Nyonya Besar.
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
__ADS_1
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
Terimakasih dan selamat membaca.