
Cakra yang baru saja pulang kantor, baru membuka pintu mobil kesayangannya.
(Cakra)
Sebuah taksi berhenti didepan pintu pagarnya. Pintu pagar dibuka, taksi berhenti dipekarangan rumah, si sopir turun dan membuka pintu bagasi, ia menurunkan koper dan barang lainnya.
Saat Cakra tahu yang turun kakaknya ia langsung menghampiri..
"Kenapa tidak menelponku, kalau tahu hari ini kakak pulang aku pasti menjemputmu.. "
Haga menatap adik kesayangannya yang penampilannya sudah berbeda..
"wah.. wah.. kau terlihat gagah dengan dasi dan jas ini.. tidak sia-sia aku meninggalkanmu.. "
Haga yang melepas kerinduan, memeluk adiknya dengan erat.
"Ayo masuk... Pengasuh Ma pasti gembira melihat kepulanganmu"
Cakra merangkul kakaknya masuk kedalam rumah dan semua barang dibawa masuk oleh pengawal yang berjaga didepan pintu.
. . . .
Cakra membiarkan Haga sendiri di kamarnya. Ia tahu saat ini dia tidak ingin diganggu.
Haga mulai meneliti kembali setiap sudut kamarnya, memasuki dimensi dimana semua kenangannya tersimpan.
Kamarnya tetap sama sebelum lima tahun lalu dia tinggalkan.
Lukanya tersayat, dan goresannya membuat terkelupas kembali. Lukanya yang kering seakan berdarah lagi.
Apalagi saat ia berjalan kearah Lukisan, lukisan orang yang sangat berarti dan dia cintai. Namun hatinya masih terlalu keras untuk memaafkan.
Ia keluar dari kamarnya, matanya pada pintu yang ada dihadapannya, pintu yang dulu sering dia ketuk atau buka secara langsung.
__ADS_1
Ia buka dan mulai melangkah masuk kedalam kamar itu.
Masih sama..kamar dan isinya masih sama, tidak ada yang berubah, barang-barangnya, dan baju-bajunya masih tersimpan rapih didalam lemari. Tetap rapih dan bersih walau tidak ada yang menempati.
Haga duduk di pinggir ranjang, tangannya menyentuh boneka yang dulu sering dipeluk seseorang.
Hatinya di penuhi luka.
Secara perlahan, semua kenangan dulu berhamburan keluar. Bayangan-bayangan orang yang sangat ia benci tidak bisa ia hindari.
Semuanya keluar begitu saja, tidak bisa di Hindari atau coba lupakan.
Senyumnya. Tawanya. Candanya. Sukanya. Tangisnya. Marahnya. Ngambeknya... semua seakan tidak ada celah dihati, untuk membencinya...
Sampai Cakra berdiri lama dibelakangnya, hendak mengajak makan, ia belum juga menyadari kedatangan Cakra...
"Kakak pulang.. pasti merindukan... "
ucap Cakra menepuk pundak kakaknya pelan, membuyarkan semua lamunannya.
"Aku juga merindukannya. Setelah kepergian Nenek, Kakak pergi dan dia menikah..
Ia tidak pernah lagi kembali untuk mengijakkan kakinya dirumah ini...
Ia benar-benar menepati janjinya pada kakak, kalau dia tidak menunjukkan lagi wajahnya.. "
Haga berdiri, mengalihkan pembicaraan yang tidak ingin dia dengar,
Cakra hanya mengekori kakaknya keluar dari kamar.
Pengasuh Ma tetap setia melayani keluarga Haga. Padahal usianya sekarang sudah semakin lanjut.
Cakra berkali-kali menyusu agar pulang kampung, dan istirahat, namun dia menolak. Pengasuh Ma bilang akan mengabdikan dirinya seumur hidup..
"Oya kak, lusa ada undangan pesta.
__ADS_1
Sebaiknya kau datang, hitung-hitung cari suasana baru, menghirup udara yang berbeda dan menenangkan pikiranmu"
Cakra yang membujuk pergi, disela-sela makan.
"Pesta? "
Haga tampak berfikir.
"Iya, lusa, tenang masih ada waktu untuk bersiap-siap, disana juga banyak rekan bisnis yang hadir jadi aku pasti pergi.. "
"Aku pikirin lagi nanti, kalau berminat aku datang"
"Oke, kalau kau berubah pikiran, kau bisa lihat tempat acaranya, undangannya kutaruh diatas meja kerjaku.. "
Haga hanya mengangguk, tidak bicara lagi.
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
Terimakasih dan selamat membaca.
__ADS_1
Notes: Kali ini aku masukin visual pemainnya, mohon maaf jika visualnya ada yang kurang masuk menurut kalian, sebab ini kan hanya visual menurut imajinasiku aja yaa☺☺