
Kamarku seperti kamar hotel bintang lima, lebih mewah dan megah dari yang diperkebunan.
Kamar ini yang di depanku ini pasti ada orang nya. Gumaku di hati. Tapi kamar siapa yaa, aahh.. bodo amat. Terasa nyut nyut lagi karena aku menahan pipis.
Kulilik di tengahnya ada sebuah pintu.
Walaupun sedikit ragu. Kubuka pintunya. Ternyata benar yang ditengah ini kamar mandi, kenapa kamar mandi nya harus di luar sih, berbeda dengan di perkebunan, walaupun dekorasi dan hiasan dikamarku hampir sama dengan disana hanya minus kamar mandi yang harus diluar.
Setelah pipis. Ada yang berbunyi dari perutku.
ahh.. lapar, dimana dapur, aku belum makan.
Aku berjalan menyusuri lorong, berbelok ke arah tangga. Aku turun perlahan.
Wahh.. kok gelap banget yaa, cahaya didapat dari pantulan luar jendela.
Lho ada suara, dari mana yaa.
Aku mengikuti suara tersebut, terlihat samar ada seseorang yang sedang mengacak-acak lemari es.
aahh.. itu pasti maliinggg!!!
Kakiku menendang sesuatu, kusentuh ternyata sapu, kuambil sapu tadi, bersedia dalam posisi untuk memukul.
"MALIINGGG!!! "
teriakku keras sambil memukul orang tersebut.
Karena teriakanku semua lampu langsung menyala.
Beberapa pengawal dan pelayan menghampiri, termasuk Pengaruh Ma yang juga berlari tergesa kelokasi.
"Nona, berhenti, jangan pukul lagi"
tangan Pengasuh Ma menahanku untuk tidak memukuli lagi.
"Ma-ma-ling, ada maling Pengasuh Ma"
ucapku dengan nafas tersegal sengal, gemetaran.
"Maling, coba saya lihat Nona"
Pengasuh Ma membalikkan tubuh orang itu yang sudah pingsan dipukuli olehku.
Nyonya Besar dan Tuan Besar pun turun, mereka terlihat khawatir saat melihatku masih panik.
"Kau tidak apa-apa Yuki, ada yang terluka"
Aku menjawab dengan menggelengkan kepala.
"Mana maling-nya"
Pengasuh Ma memberi isyarat pada orang yang masih terkapar pingsan.
__ADS_1
"Dasar anak nakal, dia memang pantas mendapatkannya, cepat ambilkan air"
ucap Nyonya Besar menyuruh salah seorang pelayan.
Tidak lama pelayan tadi sudah membawa air di ember kecil.
Nyonya Besar langsung menyiramkan air tadi pada orang tersebut.
Orang itu bangun, dengan wajah polosnya.
"Hallo Nek, apa kabar, nenek sudah kembali yaa"
ucapnya cengar cengir, sambil berdiri sempoyongan seperti orang mabuk.
"Bawa dia ke kamar"
ucap Nyonya Besar tadi.
Haga melihat ku sesaat, lalu membantu memapah orang tadi naik ke kamarnya. Nyonya Besar pun meninggalkan TKP.
Beberapa pengawal dan pelayan langsung pergi setelah tahu bahwa bukan maling.
"Nona apa anda perlu sesuatu"
tanya Pengasuh Ma yang menatapku masih gemeteran.
"A-ku lapar Pengasuh Ma"
melirik sesaat padaku, lalu
perintah Pengasuh Ma pada seseorang pelayan. Dan ia pun pergi.
Pelayan tadi mengarahkanku ke meja makan.
Aku diminta menunnggu sebentar, untuk disiapkan dan makanan dipanaskan.
"Kau pergilah, nanti biar aku sendiri yang merapikannya"
ucapku pada pelayan tadi setelah makan di hidangkan di meja.
"Maaf Nona, saya akan tunggu disana, setelah Nona selesai makan baru saya pergi"
jawabnya, beranjak dan berdiri di pojok ruangan.
mm.. ya sudahlah. Ga usah debat lagi Yuki. Ayo cepat makan. Bukannya kamu lapar.
Aku memang menyantap makanannya, tapi otakku travelling kemana-mana.
Celaka. Maling tadi bilang Nenek, jangan jangan dia cucu Nyonya Besar yang kedua. Mana aku buat dia pingsan lagi. Belum bekerja aku sudah di pecat. Aduhhh... Bodoh kau Yuki. Mana nggak bawa uang sepeserpun kesini. Kalau di usir bagaimana aku pulangnya..
Aku harus minta maaf. Bisa gawat ini.
Setelah selesai makan, aku bertanya pada pelayan tadi.
__ADS_1
"Boleh aku bertanya"
"Silahkan Nona Muda"
"Hey, jangan panggil Nona Muda, Aku juga sana sepertimu"
Pelayan tadi hanya menaikan kedua alisnya. Bingung. Sebab dia tau siapa orang yang dihadapannya itu.
"Dimana kamar Tuan Muda tadi"
tanyaku lagi.
"Disamping kamar Tuan Besar Haga, Nona"
Aku bingung.
"Lalu dimana kamarnya Tuan Besar Haga? "
tanyaku.
"Dihadapannya kamar Nona"
jawabannya
Hahh. Mataku membulat lebar, jadi kamar yang didepanku itu kamar Tuan Besar Haga. Kok bisa sih, aku fikir itu kamar pelayan lainnya.
"Ada pertanyaan lagi Nona, kalau tidak saya Mohon undur diri"
"Tidak, Terima kasih kau boleh kembali"
Ucapku. Pelayan tadi meninggalkan berjuta pertanyaan.
Walaupun masih tidak percaya dan yakin atas semua dugaanku. Semua masih berkecambuk di hati.
Kenapa kamar pelayan harus berhadapan dan berjajar dengan kamar majikan.
aghh, kepalaku pusing lebih baik aku tidur. Aku bergegas ke atas, masuk ke dalam kamar..
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
__ADS_1
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
Terimakasih dan selamat membaca.