
Kami larut dalam percakapan,
tak lupa sebelumnya aku memberikan salah satu bungkusan yang kubawa untuk Pengasuh Ma.
Pengasuh Ma menceritakan setelah kepergian Nenek dan Haga, Cakra lah yang memegang kendali perusahaan.
Cakra pun sudah banyak berubah, dia lebih dewasa dan bertanggung jawab, cerita Pengasuh Ma..
Dan Pengasuh Ma juga bilang Haga sudah kembali dari Eropa..yaa.. tentunya aku sudah tahu karena aku sudah bertemu dengannya kemarin..
Obrolan panjang kami tidak menyadari mobil Cakra masuk pekarangan,
waktu ia turun dan melihat mobil yang dia kenali, ia bergegas masuk kedalam..
Ia mengenali suaraku, dengan berjalan mengendap memberikan kode pada Pengasuh Ma yang menyadari kedatangan Cakra, agar tidak memberitahuku..
Aku merasakan kedua mataku tertutup dari belakang..
".. hmmm.. dari harumnya aku bisa tahu kalau ini adalah si kepala udang.. "
ucapku.
"Oow.. aku ketahuan!"
Ara melepaskan tangannya dari mataku, lalu merangkulku dari belakang.
"Gimana kabar-mu mie kriting"
ucapnya, lalu aku berbalik melihat wajahnya dan berdiri, menatap penampilan Ara yang benar-benar jauh berbagai.
"Jas"
pekikku menahan tawa.
"Nggak usah ngeledek"
ucapnya sambil menarik hidungku.
"Aw"
"Apa sih.. "
"Iya, ia.. kamu keren banget!"
akhirnya keluar juga pujian dari mulutku.
__ADS_1
Ara tersenyum malu-malu, mata kami saling menatap, kami sama-sama tahu,
sebenarnya ucapan-ucapan tadi tidaklah penting.
Aku terharu langsung memeluk Cakra..
"Kamu banyak berubah Ra.., aku hampir tak mengenalimu.. "
ucapku di pelukannya.
"Kamu juga, sekarang lebih dewasa dan matang.
Aku senang sekali bisa bertemu dengan-mu lagi.. "
ucap Ara yang sepenuhnya telah melepaskan hatinya, hanya menganggapku adiknya,
lalu ia melirik Judith yang terlihat nggak sabar dan penasaran..
"Oh.. jadi ini Peri kecilnya.. "
Ara tampak manggut-manggut sendiri, teringat cerita Aida.
Aku hanya mengerutkan dahi menatap heran.
ucapku.
Ara menatap Judith, lalu jongkok menyamakan tingginya dengan Judith.
"Kalian benar-benar mirip, apalagi rambutnya sama-sama keriting begini"
ucap Ara sambil memainkan rambut Judith.
"Halo sayang..ini Paman kamu yang paling ganteng"
Ara memeluk Judith.
"Iya.. Paman ganteng, salam kenal Aku Judith"
balas Judith memeluk erat Cakra. Ara melepaskan pelukannya, Pengasuh Ma mengajak Judith bermain.
" Maaf selama ini aku tak pernah mengunjungi kalian"
ucap Ara menatapku sendu.
"Aku sudah tahu semua...
__ADS_1
kau tak usah mencemaskan semuanya,
yang berlalu anggaplah berlalu.
Jangan terus menyiksa dan menyalahkan diri, semua yang terjadi bukanlah kesalahanmu.. "
ucap Ara ragu mengeluarkan semua, karena dia tahu pasti akan mengorek kembali lukaku.
Aku hanya terdiam..
"Kemarin,
saat dipesta aku bertemu Aida,
dan.. kami sudah ngobrol banyak. Juga soal dirimu dan peristiwa yang menimpamu.
Aku turut berduka, maaf selama ini kami begitu mengacuhkan-mu.. "
tambah Ara yang menatapku dalam-dalam, yang terlihat jelas kesedihan mulai menggelayut dimataku..
Aku tak bisa berkata atau menjawab apapun ucapan dari Ara.
Hatiku tergores dan sakit kembali, andaikan perkataan itu keluar dari mulut Kak Aga mungkin akan terasa berbeda,
karena dengan begitu aku tahu dia bisa memaafkanku..
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
Terimakasih dan selamat membaca.
__ADS_1