
Saat aku membuka pintu bersamaan dengan Cakra yang keluar kamar. Ia menatapku.
Aku yang nggak mau cari masalah dengannya langsung ambil langkah seribu meninggalkannya.
cih, kenapa dia ada dirumah sih. Malas ketemu dengan si berandalan kepala udang ini.
Aku berjalan kedapur, meminum segelas air putih, lalu pergi.
Matahari bersinar terang, terasa menyengat di kulit.
Tak kenal rasa panas dan lelah para pengawal tetap fokus berjaga di pos masing-masing.
Kakiku berbelok kearah kolam renang, seperti nya enak nih kalau berendam, mataku berbinar cerah saat melihat air kolam.
Aku mulai duduk dipinggir kolam, kedua kaki sudah masuk ke air.
Saat itu Haga baru menyadari aku sudah tidak ada di kamar, segera keluar kamar, mencariku.
Cakra yang tanpa dia sadari, kakinya terus memaksa mengintaiku dari balik jendela dekat dengan kolam renang yang saat itu aku masih duduk di tepiannya.
Lama-lama,
mataku yang terus memandangi air, seolah ada yang menarikku untuk masuk kedalamnya, pelan tapi pasti setengah tubuhku sudah masuk air.
Awalnya Haga yang sudah menemukanku berada di kolam,
hanya memperhatikan tubuhku yang masuk ke dalam air, tapi lama-lama tubuh ku hilang dari permukaan.
Haga dan Cakra panik,
setelah lebih dari sepuluh menit aku tidak juga memunculkan tubuh ku ke permukaan.
Mereka berfikir aku tenggelam.
Haga segera berlari ke kolam yang diikuti Cakra dibelakangnya.
Mereka beneran panik, saat mendekati kolam, aku belum muncul juga.
Para pelayan yang melihat kejadian panik dan heboh.
Bersamaan dengan Nenek dan Pengasuh Ma yang memang turun untuk makan siang. Salah seorang memberitahu kejadian, mereka pun tak luput khawatir segera menyusul kekolam.
__ADS_1
Haga langsung meluncur ke dalam kolam, mereka terlihat khawatir.
Haga menggapai tubuhku dan menarik keluar tubuhku hingga muncul di permukaan.
Tubuhku ditarik ke tepi kolam.
"Huh, ada apa kak"
sambil mengambil nafas dalam-dalam dan terlihat tanpa dosa.
Wajah Haga terlihat sangat panik.
"Kau tidak apa-apa Yuki? Pengasuh Ma, cepat segera panggil dokter"
Wajah Nenek terlihat pucat dan khawatir.
Aku yang masih mencerna suasana, binggung dengan sikap semua orang.
Ah, mereka pikir aku tenggelam, padahal..
"Maaf membuat kalian semua khawatir, Aku beneran nggak apa-apa Nek, Kak"
"Ini biasa aku lakukan saat di panti, menahan nafas di air, hanya saja disana biasanya aku melakukannya didanau dekat panti,
aku lakukan untuk menghilangkan penatku"
jelas ku.
"Dengar Yuki, kau bukan lagi anak panti, jadi buang dan segera rubah kebiasaanmu itu"
Ucap Nenek tegas , marah dan khawatir bercampur aduk, lalu bersama Pengasuh Ma, Cakra meninggalkanku.
Haga akan pergi,
"Kak, bolehkah kuminta harmonikaku. Barang itu sungguh berharga untukku, melebihi Nyawaku sendiri"
ucapku meraih tangan Haga.
Namun Haga menghempaskannya, sikapnya seolah berubah jadi dingin kembali.
Kenapa ya, kok kak Aga jadi aneh lagi.
__ADS_1
Flashback on
Saat bangun Haga setelah menyadari ketidakberadaanku.
Rasa penasaran nya timbul, dia meraih buku gambarku.
Ia buka.
Tatapan matanya langsung berubah.
Seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Rasa kecewa, dan beribu pertanyaan berputar di otaknya.
Flashback off
Aku bergegas mengikuti Haga, ke kamar, harus membersihkan diri dan mengganti baju.
Di meja makan raut wajah Nenek masih terlihat sangat kesal dan marah.
Aku bahkan nggak berani menatapnya...
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
Terimakasih dan selamat membaca.
__ADS_1