
"Boleh"
ucap Kak Aga.
"Asyikkkk"
ucapku semangat empat lima.
"Tapi"
lanjut nya.
Aku mengerutkan keningku, menatapnya.
"Cakra ikut dengan-Mu"
"Yes"
suara Cakra penuh kemenangan.
"Kok Ara ikut sih Kak"
"Aku akan tenang kalau dia ikut"
ucap Kak Aga, yang terlihat marah, meninggalkanku
dan Cakra terlihat kegirangan.
makasih Kak Aga, you are the best. Ara.
Aku mengikuti Kak Aga yang sudah masuk ke kamarnya.
Kulihat Kak Aga sudah membaringkan tubuhnya di ranjang,
menutupi tubuhnya dengan selimut dan menutup mata.
"Kak"
ucapku duduk di pinggir ranjang, menggoyangkan tangannya,
membangunkan Kak Aga.
"Ara nggak usah ikut deh,
kalau ada dia pasti berantakan.
Ara kan biang rese"
Kak Aga masih belum bereaksi.
Seolah nggak perduli,
padahal Haga belum tidur,
ia masih menata hatinya saat mendengar ucapanku tadi.
Aku kesal dan ngambek.
"Ihhhh, sebel, Kakkk ... "
ucapku Merengek disampingnya.
"Kamu pergi bersama Ara,
__ADS_1
atau tidak sama sekali"
ucapnya tegas.
Kak aga kenapa sih, kok kayak kesel sama aku.
"Kakak jahat! "
ucapku beranjak dari ranjangnya,
tapi tanganku ditarik dan Haga bangun dari tidurnya.
"Hey, Tuan Putri,
kamu ini selalu saja membuat keputusan atas kemauanmu.
Bisa tidak sih, sekali-kali kamu ikutin saja.. "
ucapnya berubah lembut.
Memelukku dari belakang.
"iya, ya. Ya udah, aku setuju"
jawabku mengalah kesal dan cemberut.
"Sudah malam, biarpun besok libur, kerjaanku masih banyak.
Aku lelah dan butuh istirahat.
Kamu mengerti kan"
"Umur-mu sudah kepala dua, berubahlah sedikit dewasa, agar nanti... "
"agar nanti apa Kak? Apa maksud nya? "
ucapku penasaran.
agar saat nanti kau jadi pendamping ku, sifatmu yang imut ini hanya aku saja yang boleh melihat nya.
".. agar saat Nenek pulang senang melihat perubahan-Mu, masa mau terus seperti ini"
ucap Haga terdengar mencari alasan.
"Ya udah deh,
aku akan berusaha berubah Kak,
kalau begitu, aku tidur dulu ya"
mencoba melepaskannya dekapan tangan Kak Aga.
Tapi Kak Aga nggak mau melepaskan, pelukannya malah makin erat.
"Malam ini kamu tidur disini ya, temani aku"
ucapnya berbisik Lembut di telingaku.
Sesaat aku merinding.
Aneh, nggak biasanya Kak Aga begini,
dan pelukannya ini membuatku merasa..
__ADS_1
Pelukannya seakan berubah,
bukan pelukan seorang kakak,
melainkan pelukan untuk lawan jenisnya.
ah, sudahlah, aku sudah ngantuk malas debat.
"Tapi kalau aku udah tidur kakak pindahin aku ke kamar ya"
"iya"
dan aku pun menurutinya, berbaring di ranjang,
Malam ini Kak Aga benar-benar aneh.
Ia berbicara dengan lembut, menatap mataku penuh arti.
Membelai pipi dan rambutku.
Dan menarikku dalam dekapannya.
Berbisik lembut di telingaku lagi,
yang membuat ku merinding.
Ia bertanya, seandainya dia bukan kakaknya, apa aku bisa menatapnya sebagai seorang laki-laki,
apa aku bisa menerima nya.
Dengan tegas kujawab tidak.
Karena di hatiku, sudah ada orang yang kupilih. Orang yang telah menduduki hatiku.
Dan entah apa yang merasuki jiwa Kak Aga, sampai dia berkata,
bahwa siapapun orangnya tidak akan bisa merebutku dari sisi-Nya.
Aku menganggap ucapan Kak Aga seperti dongeng pengantar tidur.
Aku menganggap Kak Aga terlalu sibuk dan lelah dengan pekerjaannya,
sehingga omongannya jadi sedikit ngawur.
.. . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
Terimakasih dan selamat membaca.
__ADS_1