
Aida menatap pedih wajah sahabatnya itu,
"De-ngarkan Aku Yuki, Jodhy tidak mungkin kehujanan, dia sudah dijemput oleh keluarganya"
Aida menahan sesak dalam dadanya, mencoba menahan tangisnya, melihat pandangan Mata Yuki yang kosong.
"Tidak mungkin, Jodhy tadi bilang,
dia tidak akan pergi sebelum Aku datang..
dia.. dia pasti disana, menungguku.. " Yuki yang masih bersikeras pergi, seakan belum bisa menerima kepergian Jodhy.
Haga yang sudah tidak tahan, menahan semua luka dan kerinduan mendalamnya terhadap Yuki, dan menyaksikan secara langsung beban penderitaanku,
Haga menghampiriku, menarikku ke dalam pelukannya..
"Yuki... lepaskanlah,
Aku mohon.. ikhlaskanlah..jangan seperti ini, Aku minta maaf.. seharusnya Aku tidak mengucapkan kata-kataku yang kasar,
Aku mohon maafkanlah Aku.. " Haga tidak bisa menahan airmatanya yang keluar, hatinya tercabik-cabik melihat penderitaan orang yang sangat dicintainya.
Cakra masih berusaha menenangkan Aida, yang masih terus menangis di pelukannya..
"Lepas, lepas kan Aku! " teriak Yuki mendorong jauh tubuh Haga dari pelukannya, "Kau.. kau ini siapa, hah" ucapku seperti orang gila.
"Yuki, ini Aku.. Haga, Kak Aga, Apa kau lupa.. " Haga berusaha meyakinkanku.
"Hah! Kak Aga.. " tertawa dengan pedih, "Kau jangan menipuku. Dia itu membenciku.
Dia.. dia tidak ingin melihat wajahku.
Dan dia.. sorot matanya masih menuduhku sebagai PEMBUNUH!! Kau pasti berbohong, ha.. ha.. ha.. Jadi jangan bercanda denganku" teriak Yuki histeris mengeluarkan semua amarah yang tersimpan dalam dadanya.
"Yuki sadarlah, Aku benar-benar Haga, kakakmu.. " Haga mulai kehilangan akal, langsung mendaratkan tamparan keras dipipiku.
Mataku membulat hebat, Aku mengingat tamparan itu, tamparan yang sama yang kurasakan saat kepergian Nenek, Airmataku berderai, mengalir dengan deras. Aku menangis sejadinya. Tangisan pelepasan dan kepedihan berhamburan keluar.
Aku bersimpuh
dilantai menangis dengan keras, Haga yang tidak tega dan merasa bersalah karena memberikan tamparan tadi ikut bersimpuh dihadapanku, sekali lagi merengkuhku ke dalam pelukannya.
"... Kak.. Kak.. Aga.. Maafkan Aku" Yuki terus menangis tanpa henti.
Haga terus menenangkanku seperti anak kecil, tanpa terasa Yuki tertidur pulas mencium aroma tubuh Haga yang masih sama seperti dahulu jika berada dalam pelukan hangat Haga.
Haga memapah tubuhku yang sudah tenang dan tertidur pulas kembali ke dalam kamar.
Ara dan Aida sedikit lega, Aida menemaniku tidur dikamar, sedangakan mereka berdua berpamitan, kembali ke perkebunan.
. . . .
__ADS_1
Keesokan harinya,
Saat aku terbangun, aku merasakan pipiku sakit, namun Aida sudah kembali ke panti.
Semalam aku seperti bermimpi, bertemu dengan Kak Aga, Ah, tidak mungkin aku pastor salah.
Aku tertegun sebentar dipinggir ranjang, Aku lupa dengan kejadian semalam.
Dua jam berlalu, setelah mengajarku usai, aku bergegas ke dapur karena Aida memintaku membawa tambahan lauk untuk makan siang. Aida memintaku membawa porsi lebih karena banyak orang yang sedang menunggunya.
Dan Judith memang selalu makan siang did panti.
Aku sampai di panti dengan membawa keranjang makanan dan tentu saja menggandeng tangan Judith, peri kecilku.
Kulihat Aida dengan seseorang sedang menyusun meja.
Itu siapa yaa?
Samar-samar Aku menatapnya yang membantu Aida menyusun makanan, lauk pauk, sayuran, minuman, dan buah-buahan. Dan beberapa bangkupun sudah berjajar disana.
Aku mendekati mereka yang masih beberes meja.
"Aida"
Aida menoleh kearah suara juga orang yang berada di sebelahnya. Aku menatapnya sesaat orang tadi yang langsung tersenyum menghampiriku. Judith langsung berkeliaran sendiri.
Aida mengambil keranjang makanan dari tanganku, membuka dan menyusunnya di meja.
"Ibu di dalam bersama anak-anak"
"Tidak ikut" Aida menatap wajah binggungku. "Tidak, ini acara untuk kita"
"Kita" sambil mengerutkan dahi, dan orang tadi terus menatapku dengan intens, sedang Aida hanya tersenyum sendiri melihat tingkahku dan Sebastian.
"Aida, ini siapa" lagi-lagi dengan wajah polos Aku bertanya.
"Hayo, tebak siapa, dari kemarin dia sudah tidak sabar ingin bertemu kamu" Aida Tersenyum lagi penuh arti.
"Kau tidak mengingatku? " Sebastian mengeluarkan suara karena sudah tidak sabar.
"Aku Sebastian Wijaya, pengantin laki-laki kecil Aida, bukankah kau dulu sering meledekku" Sebastian masih menatap wajah binggungku yang sedang mengingat-ingat, "masih belum juga ingat" Sebastian menunjukkan sedikit rasa kecewanya dengan menyilangkan dua tangannya didada, lalu Aku melirik Aida yang tersenyum dan menganguk.
"Ahh, iya... maaf Aku lupa, apa kabarmu? " Aku tersenyum dan mengulurkan tangan, Sebastian spontan menarikku ke dalam pelukannya.
"Kau tidak berubah dari dulu, masih saja pelupa" Sebastian yang memeluk, mencium kening dan mengusap rambutku.
"Kau, sedang apa disini, apa jangan-jangan menjemput pengantin wanita kecilmu" Goda ku, yang melihat wajah Aida memerah karena malu.
"Tentu saja, memang apa lagi kau pikir tujuanku datang kemari" Sebastian menjawabnya dengan tegas dan percaya diri.
"memangnya Aida masih mau sama kamu, hahaha" ledekku, "Aw" Aku menggerakkan pipiku yang terasa sakit, "Kenapa" tanya Aida
__ADS_1
"Entahlah, semalam sepertinya Aku mimpi buruk, sampai-sampai begitu nyata"
"Memang kau bermimpi apa" Aida berlagak tidak tahu.
Saat itu Haga dan Ara sudah sampai di panti, dan Haga melihatku masih berpelukan dengan Sebastian.
Siapa laki-laki itu, berani sekali memeluk mesra wanitaku. Haga cemburu, menatap tajam mereka.
"Semalam Aku bermimpi melihat Kak Aga, mimpi yang sungguh aneh, lihat pipiku agak membiru" Aku mengendurkan pelukanku dari Sebastian, tapi tangan satu Sebastian masih memegang pinggangku dan yang satunya membolak balikkan wajahku, melihat kondisi pipiku..
Aida hanya menggelengkan kepala, saat melihat kehadiran Haga dan Ara dibelakang Yuki.
"Selamat siang para wanita tercantik didunia, apa kabar kalian hari ini"
Aku langsung menoleh kearah suara, Ara sudah dibelakangku membawa seikat bunga mawar putih. Aku melepaskan pelukan Sebastian.
"Ara, kapan kau datang, kenapa tidak bilang, Aku kan bisa menjemputmu" Aku menerima bunga pemberian Ara dan berlari kepelukannya, Aku masih belum menyadari kehadiran Haga yang Ada dibelakang Ara masih menatap cemburu kepada Sebastian.
"kau merindukanku" Ara melepaskan pelukanku. "Aku sudah beberapa hari disini, kemarin hanya bisa berjalan-jalan menikmanti pemandangan bersama Aida"ucap Ara begitu fasih menyebutkan nama Aida.
Aku hanya tersenyum mengangguk, kemudian Ara menggeserkan tubuhnya, menatap wanita di belakang Sebastian, berjalan ke arahnya memberikan seikat bunga mawar merah yang dibawanya juga, mencium kening dan langsung memeluknya dengan erat,
Aku belum menyadarinya, mataku langsung disuguhi seseorang yang berada dalam mimpiku semalam, tatapan matanya penuh kerinduan juga sedikit pertanyaan tentang Sebastian.
Aku hanya bisa menatapnya, tidak berani menghampiri ataupun menghindari lagi tatapan tajamnya. Kami berdua canggung.
Haga berjalan melewatiku, lalu duduk disalah satu bangku, dan bangku lain sudah diduduki oleg Ara, Aida dan Sebastian. Aku berbalik, mengikuti Haga dari belakang.
Jadi semalam bukan mimpi.
Aku memegangi pipiku, saat Aku mau duduk Aku dikejutkan lagi dengan pemandangan didepan mataku.
"Kalian" ucapku mendelik melihat Aida yang sudah berada ditengah, diantara Ara dan Sebastian. Mereka berdua hanya tersenyum dan mengangguk, Aida menutupi wajahnya karena malu, Aku menggelengkan kepala, Akhirnya pertanyaan tentang Sebastian terjawab secara tidak langsung, Haga tidak lagi cemburu menatap Sebastian...
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
__ADS_1
Terimakasih dan selamat membaca.