ELEGI CINTA YUKI

ELEGI CINTA YUKI
Sketsa Wajah Jodhy


__ADS_3

Haga melanjutkan langkahnya, Hatinya terusik, sakit yang dia rasakan pun sudah tidak tertahan, namun ia tidak bisa mengatakan apa-apa,


sebagai laki-laki Haga berusaha untuk tegar.


Apalagi melihat Aida yang sudah seperti itu, dia tidak tega menambah beban pikiran,


ia pun menyadari kalau selama ini kehidupan yang kujalani tidak sebahagia perkataanku saat dimakam neneknya.


Sesampainya di rumah, Aida menuntun Haga memasuki kamar mungil milikku.


Dinding kamar dan barang didalamnya bernuansa putih, warna kesukaan Jodhy.


Haga membaringkan tubuhku diranjang, sesekali tangannya membenarkan posisi rambutku yang berantakan, mengusap pipiku, menatap wajahku dengan tatapan kerinduan penuh luka.


Aida meminta Haga dan Cakra untuk keluar, Aida ingin mengganti bajuku yang sudah Kotor.


Aida keluar kamar,


ia menatap wajah Haga dan Cakra yang duduk menunggu dengan rasa khawatir.


Aida membuatkan Coklat hangat untuk mereka, karena udara semakin dingin, anginpun bertiup kencang, sepertinya akan turun hujan__


"Aku pikir beberapa hari ini kondisinya sudah membaik dan tidak akan seperti ini lagi__


Aku tidak tahu penyebabnya,


selama ini dia sudah berusaha keras untuk melepas dan melupakan rasa kehilangannya" wajah Aida terlihat pias mengeluarkan perkataannya,

__ADS_1


Aida duduk di antara mereka, terdengar diluar suara rintik hujan yang kelamaan semakin terdengar deras.


Kilatan petir terlihat dan suara gemuruh bersautan menyapa kegundahan di antara mereka.


"Kalian lihat kamar nya" wajah Aida menyapa mereka, mereka saling bertatapan, hanya terdiam. "Di dinding kamarnya banyak tertempel kertas sketsa wajah Jodhy,


dia bilang sengaja melukis sebanyak mungkin dan menempelkannya di setiap sudut ruangan, selagi dia masih mengingat wajahnya dengan jelas, ia ingin membuatnya terus agar tidak terlupa.


Lalu rumah ini,


rumah yang Jodhy siapkan,


Jodhy ingin memulainya dengan kesederhanaan, mereka hanya ingin hidup berdua.


Jodhy hanya ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama Yuki, menua bersamanya. Tapi tidak seharipun mereka bisa merasakan atau mewujudkan mimpinya, karena Jodhy telah lebih dulu meninggalkan Yuki,


"Sejak dia kembali dari perjalanan kami waktu itu__aku mendengar ucapannya berulang kali dimakam__dia bilang__dia sudah lelah bersembunyi, dia ingin bersama Jodhy selamanya__" Aida bergetar mengeluarkan ucapannya.


Haga mengerti arah pembicaraan Aida, ia pun merasa bersalah, ia menganggap semua yang terjadi sekarang adalah karena dirinya.__


Tiba-tiba terdengar gemuruh yang sangat besar,


dari kamar Judith terdengar teriakan tangisan kecil dan teriakan memanggil namaku,


pelayan segera berlari kekamar Judith, menenangkan Judith yang terbangun dari tidurnya.


Yang membuat mereka panik dan kaget bukan hanya Judith, tapi mereka melihatku keluar kamar, tatapan mataku kosong, Aku terlihat tidak normal, Aku terus mondar-mandir keseluruh ruangan mencari sesuatu, dan tanganku memegang payung akan keluar__

__ADS_1


"Kau mau pergi kemana Yuki__di__luar masih hujan" Aida dengan wajah cemas menarik tanganku__


"__barusan__Jodhy menelponku__dia bilang menunggu ku di taman, dia memintaku menjemputnya__kasihan Jodhy kalau kelamaan kehujanan__Jodhy kan tidak kuat dingin__Aku harus segera kesana menjemputnya__" ucapku terdengar tidak waras mencoba keluar rumah.


Dada Haga terasa sakit dan sesak setelah mendengar cerita Aida, ia menyaksikan langsung kondisiku.


Haga dan Cakra tidak tega melihat kondisiku, melihatku dengan sosok yang berbeda dihadapan mereka dengan kejiwaan yang sudah terganggu__


. . . .


...Bersambung...


Hallo semua Aku Aleena ,


baca cerita lainku yang berjudul :


✔ Dua Hati


✔ Billionaire Master Love Prison


✔ Silence


dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.


Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.


Terimakasih dan selamat membaca.

__ADS_1


__ADS_2