ELEGI CINTA YUKI

ELEGI CINTA YUKI
Ketegaran Hati


__ADS_3

Aida menitipkan Judith pada pelayan.


Dia mencemaskanku melakukan tindakan bodoh, ia segera menyusul ke tempat yang sudah dapat dia tebak. Makam Jodhy.


Mata Aida langsung tertuju padaku yang sudah merebahkan tubuhku disamping makam Jodhy.


Aida menghampiriku dengan tatapan penuh luka, luka yang kembali dirasakan olehku.


Aida mengerti semua rasa sakitku. Sambil menahan tangisnya Aida berusaha tegar dan menenangkanku.


Ia berjongkok, perlahan Aida menyentuh pundakku yang mataku sudah tertutup seperti tertidur..


".. Yuki, Judith menangis dan terus mencarimu.." ucap Aida.


perlahan mataku terbuka,


"Apa yang terjadi, kenapa kau seperti ini lagi..


ceritalah.. jangan terus kau pendam sendiri.. "


Mataku menatap pedih ucapan Aida, dengan tatap kosong tanpa sedikit pun menangis, mata Aida mulai berkaca-kaca menahan tangisnya.


Aku bangun, dengan tubuhku terasa tak bertenaga, kakiku terasa berat, Aku menghapus tangisnya Aida yang mulai Keluar..


"Jangan kau tahan lagi, ada Aku Yuki...


menangislah jika kau ingin menangis, kau tidak udah berlagak tegar, Aku sudah tak sanggup melihatmu seperti ini.. "


Aida langsung memelukku dengan erat.


".. jangan karena janjimu, kau seperti ini...


lupakan dan lepaskan Yuki..


jangan terus menyiksa diri, semua yang terjadi bukanlah kesalahanmu, dan jangan terus menyalahkan dirimu,


Aku yakin Jodhy pun tahu...dan dia pasti akan sedih kalau tahu kau seperti ini.. "

__ADS_1


tangis Aida memelukku sambil menenangkanku dengan mengusap punggungku,


memintaku untuk tidak bersikap seperti orang gila..


Aida pun memapahku pergi, meninggalkan makam Jodhy.


. .


Beberapa hari berlalu.


Aida terus mendampingiku.


Aku sudah mengajar anak-anak seperti biasa, walaupun Aida tahu saat ini adalah titik terapuh dan labilku kembali.


"Apa kau sudah bertemu dengannya?"


ucap Aida menatapku, saat kami sedang duduk bersebelahan.


Aku hanya menoleh, Aku mengerti arah pembicaraan Aida, namun Aku enggan menjawabnya..


Aida pun menyadari semua tak berjalan seperti semestinya..


Judith semakin besar Yuki..Aku nggak mungkin terus berbohong padanya,


biar bagaimana pun.. selama ini Judith ikutan andil membantu melewati dan menemani hari-harimu yang kosong.. "


ucap Aida.


"Bukankah kau berjanji akan hidup tegar dan bahagia walaupun tak bersamanya.. " tambah Aida mencoba menyadarkanku, untuk tegar hati.


"Terima kasih Aida, selama ini kau, Judith dan Ibu telah banyak membantu, menemani dan selalu menopang semua kerapuhanku.


Kalau tidak ada kalian mungkin Aku.. "


ucapku terpotong oleh kedatangan Judith yang dibawa pelayann. Judith langsung memelukku.


"Mama.., Aku rindu.. mama kemana saja.. "

__ADS_1


ucapnya.


Aku yang menyadari, bahwa masih banyak orang yang peduli dan mencintaiku..


"Maafkan mama sayang, mama janji nggak akan tinggalin Judith sendiri lagi"


ucapku mengusap punggung dan rambut Judith.


Membuatku terharu, menangis bahagia, Aida tersenyum, menangis bahagia, melihatku sudah kembali tegar.


Aida pun menghamburkan diri memelukku dan Judith.


. . . .


Cakra keluar kamarnya, mengetuk pintu kamar kakaknya..


Haga keluar, ia mengikuti langkah Cakra yang berjalan kearah tangga dan duduk disana.


Haga masih berdiri menatap adiknya yang tampak memegang sesuatu...


. . . .


...Bersambung...


Hallo semua Aku Aleena ,


baca cerita lainku yang berjudul :


✔ Dua Hati


✔ Billionaire Master Love Prison


✔ Silence


dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.


Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.

__ADS_1


Terimakasih dan selamat membaca.


__ADS_2