
"Dokter segera datang Nyonya"
ucap Pengasuh Ma, menghamburkan lamunan Nyonya Besar.
Nyonya Besar hanya menoleh, dan memberikan harmonika tadi pada Pengasuh Ma. Ia pun pergi.
Dokter langsung diarahkan kekamarku. Dikamar aku masih menangis, menahan sakit walupun Ame sudah sempat mengkompres dengan air dingin dan mengoles salep pereda nyeri sebagai pertolongan pertama sebelum dokter datang.
Dokter sigap membersihkan lagi luka, memberi antibiotik, salep dan membalut tanganku dengan perban.
Ia juga menuliskan beberapa resep untuk diminum dan beberapa perban untuk gantiannya.
Pengasuh Ma menyuruh Ame mengantarkan dokter itu keluar.
Ia menghampiriku, melihatku yang sudah tertidur karena obat, lalu meletakkan harmonika tadi di meja samping ranjangku.
. . . .
"Bagaimana kondisinya"
Nyonya Besar yang tampak khawatir bertanya pada Pengasuh Ma di ruang kerjanya.
"Nona Muda sudah tenang, ia sedang tertidur sekarang"
"Bagaimana apa pengacara sudah memberikan surat-suratnya"
"Sudah Nyonya"
"Bersiaplah, kita akan segera kembali"
"Baik Nyonya"
Lalu keluar ruangan.
. . . .
Aku masih belum keluar kamar, dari bangun tidur, mandi, sarapan sampai tidur lagi Ame yang membantu menyiapkan segala kebutuhanku. Saat sendiri aku hanya memandangi harmonika yang sudah rusak terbakar api itu.
Pintu di ketuk.
Ame masuk.
__ADS_1
"Nona, makan malam nanti mau saya bawakan seperti biasa"
tanyanya
" Tidak usah, aku ikut makan saja, lagian tanganku sudah mendingan, kalau tidak digerakan aku takut jadi manja"
"Baik Nona, pukul 7 malam saya akan kembali lagi"
Ucapnya lalu pergi.
. . . .
Dua hari lalu.
Semenjak tanganku terluka, Tuan Besar Haga selalu mengunjungi dan melihat kondisiku. Ia juga mengoles dan menggantikan kain perbanku.
Tanpa ada yang tahu, begitu juga denganku karena aku sudah tidur terlelap.
. . . .
Pukul 7 malam, Ame sudah mengetuk pintu dan mengajakku turun untuk makan.
Aku berdiri masih menunggu Nyonya Besar dan orang yang menggandengnya turun.
Para pelayan langsung sigap membukakan kursi. Duduk dengan tenang menyantap makanan. Setelah usai, Ia langsung beranjak dari duduknya, akan menaiki tangga, kemudian berbalik..
"Bersiaplah, besok kita akan segera kembali"
ucapnya lalu menghilang dari hadapan, Pengasuh Ma hanya tertunduk memberi hormat. Tanda mengerti dengan perintah Nyonya Besar.
Ame mengantarkanku ke kamar.
Ia membantu merapihkan pakaianku.
Sebelumnya bertanya baju apa yang akan aku pakai besok. Aku menjawab terserah.
Lalu aku meminta Ame menemaniku untuk keluar, menghirup udara malam, mungkin ini untuk yang terakhir, aku duduk di ayunan sambil menatap harmonikaku, airmataku pecah tak terbendung.
Ame hanya menatapku penuh haru.
Walaupun ia ingin membantu tapi tidak bisa berbuat apa apa.
__ADS_1
Tuan Besar Haga, dari kamar gelapnya, tampak setia menatapku.
Hatinya seolah tidak sanggup melihat kepedihanku. Ia keluar kamar dan menghampiri kamar lainnya.
Kamar Nyonya Besar,
Haga masuk ke kamar Nyonya Besar, Ia melihat Nyonya Besar sudah berada di ranjang membaca sebuah buka.
Haga duduk dipinggir ranjang Nyonya Besar, melihat Haga datang Nyonya Besar meletakkan buku tadi di pangkuannya.
"Biarkan dia berpamitan Nek.. "
Sesaat Nyonya Besar menatap mata Haga, mencoba mengartikan kemauan cucunya.
"Apa kau tidak takut, bagaimana kalau dia mencoba kabur lagi"
"Nenek jangan terlalu mengekangnya. Itu hanya akan membuatnya takut dan meninggalkanku"
tatapannya penuh harap, semoga bisa merubah pikiran neneknya.
"Pergilah tidur, sudah malam, besok kita berangkat pagi-pagi"
Haga keluar kamar neneknya. Menatap lagi ke luar jendela kamarnya. Masih melihatku duduk di ayunan sendiri, tidak berapa lama Ame datang menyelimuti tubuhku dengan mantel dan membawaku masuk ke dalam..
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
__ADS_1
Terimakasih dan selamat membaca.