ELEGI CINTA YUKI

ELEGI CINTA YUKI
Kepergianku


__ADS_3

Haga dan Cakra masih panik dan khawatir.


Mereka mencariku kesana kemari.


Cakra mencari ke kampus,


menghubungi dan mendatangi semua teman-temanku.


Tapi aku masih belum juga ditemukan,


mereka merasa kepergianku kali ini mungkin tidak akan pernah kembali ke rumah mereka.


Nenek belum mengetahui kepergianku,


jadi masih terlihat biasa saja,


namun setelah melihat kedua mobil cucunya yang bergantian datang,


dan melihat wajah cucunya yang memasuki ruangan terlihat lesu dan lemas..


"Ada ada? Kenapa kalian seperti itu? "


penasaran dengan cucunya.


"Nek, Yuki pergi.


Ia meninggalkan rumah tanpa membawa apapun"


"Dia sudah tahu rencana kita Nek,


dia syock dan nggak bisa menerimanya"


"Itulah kenapa Aku masih menahannya,


aku hanya bisa mendekatinya perlahan,


karena aku nggak ingin dia melakukan hal ini.. "


ucap Haga terdengar sedih dan putus asa.


'Yu-yuki pergi. Gadis kesayanganku pe-er-gi, akkhh.. "


Sambil memegangi dada-nya, dan Nenek pingsan.


Nenek terkena serangan jantung.

__ADS_1


Haga, Cakra dan Pengasuh Ma yang panik langsung membawanya ke rumah sakit.


. . . .


Mobil yang kunaiki memasuki sebuah pelataran rumah mewah.


hah, apa nggak salah, Jodhy tinggal di rumah ini. Kenapa aku ngerasa rumah ini sangat mirip dengan rumah Nenek, aku merasa pulang ke rumah.


Aku turun dan berjalan mengikuti papanya dan Jodhy dari belakang sambil mataku terus berkeliling.


Bahkan ornamen, pemilihan warna, barang-barang nya pun hampir sama dengan di rumah. Aku seperti berasa di rumah perkebunan dan rumah Nenek, benar-benar kolaborasi keduanya. Begitu dekat, hangat dan Familiar buatku. Gaya eropa kuno.


Tampak dari arah tangga turun seorang perempuan tua di gandeng oleh seorang perempuan berpenampilan anggun dan ramah.


Ya ampun apa lagi ini, itu pasti Nenek Jodhy, astaga, benar-benar aneh, penampilan Nenek Jodhy pun sama dengan Nenek-ku. Mereka terlihat mirip, bagai pinang di belah dua..


Aku nggak berani menatap lagi, segera menundukkan kepalaku.


"Kenapa kalian pulang terlambat, dan...siapa dia? "


ucap Nenek Jodhy, terus menatapku tajam.


"Dia Yuki mah, Aku membawanya untuk menjadikannya pelayan"


Nenek Jodhy berucap ketus dan tegas. Sedangkan Perempuan di sampingnya, hanya menatap penuh tanya.


"Ayolah Mah, sesekali apa salahnya kita memberikan bantuan, daripada dia mengemis di pinggir jalan"


Nenek Jodhy yang menatapku lagi, yang memang keliatan kusut dan berantakan. Ditambah lagi dengan rambut keritingku yang sudah seperti singa.


Jodhy masih diam, dia tidak ingin menyela bicara, membiarkan papanya yang mengatur segalanya.


"Sudahlah mah, jangan diperpanjang. Sudah malam. Biarkan dia disini. Aku fikir tidak ada salahnya, sepertinya dia gadis baik-baik.. "


Membantu suaminya berbicara.


"Emiel, emiel, kau selalu saja ikut campur. Kalau kau sudah mulai ikut-ikutan, aku sudah tidak bisa berkata apa-apa"


dengus Nenek Jodhy kesal merasa kalah.


"Baiklah, aku izinkan, tapi kalian jangan senang dulu, aku yakin pasti ada sesuatu dengan gadis ini, aku pasti menyelidikinya"


ucapnya berlalu pergi, di temani wanita tadi, berjalan ke arah perapian dan duduk di kursi goyang.


ah, kursi goyang, dirumah tidak ada kursi goyang, hehehe.

__ADS_1


Papanya Jodhy menyuruh Jodhy mengantarkanku ke kamar pelayan.


Jodhy membawaku ke kamar pelayan yang paling belakang, kamarku di samping kamar kepala pelayan.


Jodhy mengetuk pintu kamar kepala pelayan, ia memberi perintah, agar menjaga dan menitipkanku. Dan berpesan kepada kepala pelayan tersebut agar nggak berbuat macam-macam, Jodhy juga bilang, aku adalah orang yang penting baginya.


Dan sebelum meninggalkanku, di depan kepala pelayan tadi, Jodhy bilang kalau besok akan mencarikan aku beberapa baju ganti, ya tentu saja selain baju seragam pelayan tentunya, Ia pun mendaratkan satu kecupan lembut di keningku, dan lagi-lagi berpesan agar tidak menceritakan apa yang di lihatnya barusan.


ah, Tuan Anda romantis sekali, beruntung sekali Nona ini bisa memilikimu. Kepala Pelayan.


. . . .


"Nat, siapa gadis itu? "


tanya wanita yang bernama Emiel tadi, saat sudah berada di dalam kamar.


"Sudah-lah, jangan bertanya, aku mengantuk, besok banyak pekerjaan di kantor"


ucap papa Jodhy dingin pada istrinya, langsung naik ke ranjang, menarik selimut dan menutupi tubuhnya.


"Sampai kapan kau bersikap dingin seperti ini Nat, Aku tahu aku memang bersalah. Hanya saja itu sudah bertahun-tahun berlalu, tapi kau masih saja belum memaafkan-ku.. Kau juga tahu, Tuhan pun sudah menghukum-ku, kalau tidak karena keguguran-ku, saat ini pasti aku sudah memberikan keturunan... Kau juga pasti sangatlah tahu, hatiku pun pedih, sakit sama seperti-mu. Andai saja semua bisa kembali, aku rela menukarnya, aku rela Nat. Asalkan kau memaafkanku.. Dan jika memang dia diketemukan, aku pasti menyayanginya Nat. Kau jangan terus menyiksa-ku seperti ini, dia meninggal bukan karena dirimu. Jadi.. aku mohon, lupakanlah, jangan bersikap dingin seperti ini padaku, aku sunguh-sungguh mencintai-mu Nat.. "


Ucap Emiel menangis tersedu mengutarakan semua isi hatinya yang dia pendam sejak lama.


Dan laki-laki itu sama sekali nggak menggubris nya. Hatinya seakan mengeras seperti batu, dan jiwanya dingin seperti salju..


. . . .


...Bersambung...


Hallo semua Aku Aleena ,


baca cerita lainku yang berjudul :


✔ Dua Hati


✔ Billionaire Master Love Prison


✔ Silence


dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.


Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.


Terimakasih dan selamat membaca.

__ADS_1


__ADS_2