
Cakra turun dan menghampri.
"Hei, Mie Kriting, udah sore nih, ayo kita pulang"
Cakra menarik tanganku dan memapahku masuk ke mobil,
karena aku masih sesegukan menangis kayak anak kecil.
Selama perjalanan, Cakra yang mendengar, makin kesal.
"Woi, berhenti,
Ngapain sih lo nangis,
nanti kalo ada orang dengan gue disangka ngapa-ngapain lo lagi"
teriak Cakra kesal.
Bukan berhenti nangis,
malah tangisanku makin kencang.
"Elo budek ya, Diam!
Kuping gue bisa budek dengerin tangisan lo"
ucapnya makin keras.
Suara tangisku terhenti,
hanya terdengar sek-sekan dengan airmata yang mengalir.
"E-lo ya bisa nggak sih nggak usah nangis kayak gini.. "
ucapnya tiba-tiba menjadi lembut,
menyentuh pipiku, menghapus airmataku.
Aku kaget. Dengan perubahan sikapnya.
"Muka lo tuh tambah jelek tau kalo lo nangis kayak gini"
Dan. Deg. Kami saling menatap.
Cakra kikuk sendiri.
Ia mengalihkan pandangan,
dan segera menjalankan Mobilnya.
aneh,
kenapa nih si berandalan kepala udang sikapnya jadi lembut begini,
Jangan-jangan punya niat jail nih ama aku.
Hari ini Cakra nggak ninggalin di pintu gerbang, tapi mobilnya ikutan masuk ke dalam.
. .
Malam hari,
setelah usai makan.
Haga melihat pintuku tertutup.
__ADS_1
Aku nggak ikut makan malam.
Ia buka pintu kamar, masuk ke dalamnya.
Ia lihat aku sudah tertidur pulas.
Ia duduk di pinggir ranjang.
Tidak lama seorang pelayan membawa masuk nampan, dan meletakkannya dimeja samping ranjangku.
Haga mengusap pipiku beberapa kali. Membangunkanku.
"Cakra bilang kamu kecapean,
kalau memang belum siap, jangan di paksakan"
suaranya terdengar khawatir.
Dan melihat mataku bengkak habis nangis.
"Matamu"
akan menyentuh,
aku segera berpaling, takut dilihatnya.
Aku segera bangun, turun dari ranjang.
Haga menarik tanganku.
"Kamu habis nangis"
"Apaan sih kak, ini bukan habis nangis,
mataku begini karena kelamaan tidur"
Tidak Ingin ditanya Macam-macam.
"Bener, kamu nggak sedang berbohong kan"
Aku menggeleng cepat, membuka lemari mengambil baju tidur, melesat keluar kamar, masuk kamar mandi.
Haga masih di kamar,
ia melirik Handphone di meja.
Membuka dan mengecek handphoneku.
"Siapa Barat"
tanyanya saat aku menyantap makanan yang di bawa pelayan tadi.
"Teman"
"Yang bener"
tanyanya menyelidik.
"Ia kak, cuma teman"
"Teman kok panggilan masuknya dan pesannya berkali-kali"
Aku meletakkan makananku.
Menatap Kak Aga.
__ADS_1
"Kakak ngebuka handphoneku"
"Nggak,
cuma dari tadi dia nelponin terus dan pesan masuk berkali-kali"
"Masa? mau apa dia"
ucapku mengambil handphoneku.
katanya nggak buka,
ini pesan dan panggilannya sudah terbuka.
Kulihat Barat mengirimiku banyak pesan, bertanya aku baik -baik aja,
minta angkat telpon dan kenapa aku tadi.
"Bukan hal penting"
ucapku langsung memasukkan handphoneku kedalam tas.
Haga terus memperhatikan gelagatku.
Setelah makan aku mengganti topik pembicaraan.
Bertanya,
apa Kak Aga bisa melulis dan lukisan apa yang dibuatnya.
Ia bilang, dia memang bisa melukis.
Dan ketika menjawab soal lukisan apa yang dia buat,
dia menjawab.
Dia melukis seorang gadis,
seorang gadis yang sangat di cintainya, dan dia sangat berarti dihidupnya.
Bicaranya sambil menatap mataku penuh arti.
Dan ketika aku memaksa untuk melihat lukisannya, karena penasaran,
dia nggak mengizinkannya.
Bahkan melarang keras buat aku mendekati nya.
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
__ADS_1
Terimakasih dan selamat membaca.