ELEGI CINTA YUKI

ELEGI CINTA YUKI
Hari Pernikahan


__ADS_3

Kami berkumpul dirumah,


Pengacara menjelaskan surat wasiat Nenek. Dan aku dimasukkan sebagai salah satu ahli warisnya.


Pengacara membacakan wasiat, bahwa aku mendapat sebagian harta kekayaan berupa uang, rumah, tanah, dan beberapa persen saham diperusahaan.


Cakra bilang kapan pun aku bisa mengambil hakku.


Aku nggak mau menerimanya, sebab aku merasa nggak pantas untuk mendapatkannya. Dan aku merasa tidak memerlukan semua itu.


Cakra tetap menolak sebab itu permintaan dan wasiat terakhir Neneknya, dan itu semua sah dimata hukum.


Dan Cakra yakin suatu hari nanti pasti aku akan membutuhkannya.


. . . .


Malam ini..


Tiga hari sebelum kami melangsungkan pernikahan.


Jodhy mengajakku menatap langit. Langit yang begitu indah dengan jutaan bintang yang terhampar dilangit.


Duduk ditepi pantai, dibawah batang besar nyiur yang melambai. Suasana malam yang hening, ditemani semilir angin dan deburan ombak kecil di tepi pantai.


Sepertinya ini saat terakhir kami mengukir kenangan indah bersama Jodhy, Pangeran impian yang selalu kucintai..


"Maukah kau berjanji padaku.. "


ucapnya membelai rambutku yang sudah bersandar dipundaknya..


"hmm"


"Berjanjilah padaku..


Maafkanlah Nenek dan Papaku, kembali utuh menjadi satu keluarga, walau berat untuk dimaafkan.. cobalah buka hatimu.. lalu,


jika tiba saatnya aku nanti pergi,


kumohon.. jangan kau tangisi aku seperti halnya kau menangisi kepergian Nenekmu.


Aku ingin kau tetap tegar menghadapinya.


Perpisahan kita nanti bukanlah akhir dari segalanya..


dan bila waktu telah bergulir juga saatnya tiba.. aku ingin kau meraih kebahagiaanmu..


Kebahagiaan yang memang telah tercipta dan untuk kau miliki..


Berjanjilah padaku Yuki.. Kau tak perlu ragu, karena aku... akan selalu ada dihatimu, selamanya... "


Itu adalah memang ucapan terakhir yang keluar dari mulut Jodhy...


. . . .


Lima Tahun Kemudian...


"Sebaiknya kau datang, sudah lama sekali kau tidak pernah keluar. Ajaklah Judith, sepertinya


ia sudah lama tidak mengunjungi Kakek dan Neneknya... "


Ucap Ibu yang membujukku untuk ikut kesebuah pesta.


Aku kini tinggal dan kembali ketempat asalku.


Dirumah kecil yang Jodhy persiapan untuk kami.


Dimana aku yang sekarang sosok yang matang dan dewasa.



( Yuki)

__ADS_1


Dua tahun lalu Nenek dari Papaku pun meninggal.


Sama seperti Nenekku yang dulu, Nenek juga mewariskan uang, rumah, tanah dan setengah dari saham perusahaan padaku.


Walaupun aku berusaha menolak, uang penghasilan perusahaan dari Nenekku dulu dan Nenek selalu masuk ke dalam rekeningku.


"Ibu benar Yuki, kalau kau cemas soal anak-anak mereka bisa diliburkan, bukankah kita juga bisa jalan-jalan sekalian berbelanja untuk mereka. Kelihatannya alat-alat lukis sudah habis..


Sekali-kali kita yang berkunjung, jangan mereka terus yang kesini.. "


tambah Aida membantu membujukku.



( Aida )


Aku terus berfikir, sambil terus menatap gadis cilik berambut keriting yang umurnya sudah 5 tahun. Ia tengah asyik bermain boneka sendiri.



(Judith)


"Baiklah.. kurasa tak ada salahnya membuat Judith gembira.. "


ucapku.


. . . .


Keesokan paginya.


Mobil sedan berwarna putih menjemput kami. Aku dan gadis kecilku, Judith.


Ini bukan hanya perjalanan Judith yang pertama kali, tapi perjalananku untuk mulai memberanikan diri, tidak terus bersembunyi.


Mobil berhenti di tempat Ibu, Aku menjemput Ibu dan Aida juga..


Hatiku terasa nyeri, sakitnya seperti luka yang terbuka tersiram air garam.


Rasa bersalah masih terus menyelimuti dan membayangiku...


"Akhirnya kalian datang..


bagaimana perjalanannya.. menyenangkan? "


ucap Papa menyambut kedatangan kami.


Aku masih belum menjawabnya, mataku terus berkeliling menatap tempat yang telah lama kutinggalkan.


Sepertinya Papaku mengerti semua kepedihan yang kurasa..


"Menyenangkan sekali paman. Lihat... Judith saja sampai tertidur.. "


ucap Aida mengalihkan pembicaraan.


Judith yang terganggu, malah terbangun dari pelukan Aida.


"Kakek, Nenek.. "


tangan kecil Judith meminta pelukan dari Papaku.


Papa langsung mengambil Judith.


Memeluknya dan membawa mereka semua masuk.


"Yuki.. sudahlah.. relakan, semua yang telah terjadi biarkanlah berlalu.. "


ucap Aida menyadarkan semua lamunanku.


"Aku pergi sebentar, bilang pada mereka tidak usah khawatir..secepatnya aku kembali"


ucapku berlalu, dan meminta supir mengantarkanku ke suatu tempat.

__ADS_1


Sebelum ketempat tersebut, aku mampir ke toko bunga, aku membeli beberapa ikat bunga untuk kubawa.


Mobil berhenti di area pemakaman yang sudah lama tidak ku kunjungi..


Ternyata kedatangan-ku kemakam tersebut, membuat seseorang yang baru pulang dari perjalanan panjangnya beberapa tahun ini, dan hal pertama kali setibanya di Indonesia adalah pergi ketempat tersebut.


Haga baru pulang dari perjalanannya ke Eropa.



(Haga)


Aku berjalan pelan, terus melewati beberapa blok area pemakaman, hingga kakiku berhenti pada sebuah batu nisan bertuliskan "Eliza".


Aku telah berdiri di hadapan batu nisan yang selama ini aku terus bersembunyi, bersembunyi dari semua kesalahan-kesalahanku.


Aku bersimpuh dihadapannya, terus mengeluarkan kata-kata seperti dahulu. Meminta maaf...


" Nek..maaf aku baru bisa datang hari ini, maaf aku baru bisa menenggokmu. Maafkan aku Nek... karena aku terus bersembunyi dari kesalahanku.. "


ucapku menangis di pusara.


Dan seseorang yang sudah sampai di pemakaman itu,


matanya menangkap sebuah mobil dari kenangan masa silamnya. Ia menatapnya sesaat, lalu berjalan melanjutkan tujuannya..


Kurasa hatiku masih belum sanggup berlama-lama,


aku bangkit dan menaruh beberapa ikat bunga yang kubawa tadi.


Saat itu, orang tadi yang melihatku baru bangkit dari atas pusara itu, ia tampak memandangiku.


Matanya hanya mengekoriku ketika melihatku kembali berjalan melewati beberapa blok dan berbelok membawa beberapa ikat bunga lagi.


Ia sadar dan sangat mengenali sosokku.


Ia menghampiri pusara yang ditinggalkan tadi dan melihat bunga yang diletakkan disampingnya, dan dia pun membawa bunga yang sama denganku, bunga kesukaannya, bunga Lili.


Ia menyadari bahwa yang datang adalah diriku. Saat ia tahu aku akan mengarah ke tempatnya, ia segera bersembunyi dibalik pohon besar.


Matanya menatap takjub diriku.


Menatap sosok yang sangat dia benci juga cintai.


Hatinya sangat rindu, tangannya tidak sabar ingin memelukku, namun rasa benci dalam dirinya menutupi.


Setelah ia yakin aku benar-benar pergi, ia berjalan kearah pemakaman yang tadi ku datangi.


Ia melihat batu nisan bertuliskan "Erika", lalu ia pun pergi..


. . . .


...Bersambung...


Hallo semua Aku Aleena ,


baca cerita lainku yang berjudul :


✔ Dua Hati


✔ Billionaire Master Love Prison


✔ Silence


dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.


Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.


Terimakasih dan selamat membaca.


Notes: Kali ini aku masukin visual pemainnya, mohon maaf jika visualnya ada yang kurang masuk menurut kalian, sebab ini kan hanya visual menurut imajinasiku aja yaa☺☺

__ADS_1


__ADS_2