
Saat kuturun, tampak semua masih menungguku di meja makan.
Setelah pelayan mempersilahkanku duduk, sarapan pun dimulai.
Suasana makan yang selalu sama, tak ada suara. Setelah selesai makan Nyonya Besar memberi kode mata pada Pengasuh Ma, dan pergi meninggalkan meja makan.
"Tuan Besar, Tuan Muda, dan Nona Muda silahkan ke ruangan Nyonya Besar"
ucap Pengasuh Ma.
Ada apa ya? Kok aku ikut di panggil juga, jangan bilang Nyonya Besar mau menghukum ku karena telah memukul Tuan Muda.
Jantungku dag dig dug mengikuti langkah Pengasuh Ma dan yang lainnya masuk ke ruangan Nyonya Besar.
Aku nggak bisa membohongi wajahku yang pucat, dan itu terlihat jelas oleh Pengasuh Ma.
Suasana sunyi ketika memasuki ruangan. Seperti tahanan yang sedang menunggu putusan hukuman, berat kakiku melangkah.
Nyonya Besar tampak duduk di sofa ruangan.
Ia terus menatap wajahku yang sudah terlihat pucat.
Tidak ada satupun dari kami yang duduk, hanya seperti sedang menunggu perintah.
"Bagaimana luka di tanganmu"
tanya Nyonya Besar padaku.
Aku terkejut sesaat.
"Sudah membaik Nyonya dan sekarang sudah tidak perlu pakai perban lagi"
jawabku sedikit bergetar, memperlihatkan luka di tangan ku, tapi nggak berani menatap wajah Nyonya Besar.
"Panggil Aku dengan Nenek, kau bukan lagi anak panti, kami semua disini keluarga-mu"
Jawaban Nyonya Besar membuatku lebih terkejut.
hah, kenapa jadi keluarga, kenapa statusku berubah, bukannya aku pelayan disini.
"Mak-sud Nyo-nya"
__ADS_1
ucapku terbata masih tidak percaya dengan perubahan statusku.
Nyonya Besar menatapku tajam
"eh.. Ne-nek.."
ucapku ragu-ragu.
"Kau sudah mengenal kedua cucu-ku kan"
lanjutnya.
Aku hanya melirik pada mereka lalu menganggukan kepala.
"Mereka, Haga dan Cakra, anggaplah mereka seperti kakak-kakakMu sendiri"
"Dan kau, Cakra, jaga Yuki baik-baik saat nanti dia masuk ke kampusmu"
lanjut Nyonya Besar,
sambil menatap tajam ke arah Cakra yang terlihat sangat jelas menunjukkan rasa tidak suka atas keputusan neneknya.
"Apa?? Apa aku nggak salah dengar Nek, gadis kasar, kampungan dan nggak punya sopan santun ini akan satu kampus denganku. Aku nggak setuju Nek"
"Tidak ada bantahan, Nenek sudah atur semuanya"
ucap Nyonya Besar jauh lebih tegas.
"Haga, pergilah cari semua yang diperlukan"
Perintah Nenek, dan kami pun keluar dari ruangan.
Saat keluar dan pintu Nyonya Besar ditutup.
"Eh.. Mie Kriting"
Cakra langsung menarik rambutku.
"Ah, sakit apa sih"
"Bilang ke gue lo ngelakuin apa sampai-sampai Nenek gue bisa jadiin lo anggota keluarga"
__ADS_1
"Cewek kampungan, kasar dan nggak ada sopan santun"
Cakra yang langsung menghinaku. Penuh kesal. Marah dan dendam.
"Heh, denger ya, jangan kamu fikir aku bangga ya dijadikan satu keluarga denganmu. Kalau tahu akan begini, dari awal aku pasti sudah menolaknya"
jawabku kesal bercampur marah, dengan tuduhan Cakra yang menyayat hati.
Haga yang mendengar pertengahan kami, Tiba-tiba menarik tanganku.
"Kak tunggu, aku ikut"
Cakra yang nggak mau ketinggalan menyusul kami.
Aku yang terkejut sekaligus nggak percaya dengan sikap Tuan Besar Haga, hanya bisa menatap tanganku yang sudah di genggamnya dengan erat.
Tuan Besar Haga membukakan pintu depan dan mendorongku masuk ke dalam.
Cakra langsung duduk di kursi belakang.
Aku hanya melirik Tuan Besar, matanya tetap fokus melajukan mobil.
Tangan Cakra dari belakang menyalahkan musik aliran keras. Membuat telinga yang mendengar sakit. Tapi Tuan Besar itu tetap nggak bergeming, ga perduli.
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
__ADS_1
Terimakasih dan selamat membaca.