ELEGI CINTA YUKI

ELEGI CINTA YUKI
Kepedihanku


__ADS_3

Keesokan harinya.


Sore hari.


Aku menepati janjiku, berkunjung ke rumah Nenek.


Kubawakan buah-buahan dan seikat bunga Lili kesukaan Nenek.


Kulihat Nenek duduk dipekarangan rumah belakang. Pengasuh Ma berada disamping Nenek, setia menemaninya.


Suasana rumah sepi.


Saat melihatku Pengasuh Ma hanya tersenyum, memberikan hormat dan meninggalkan kami.


Nenek yang kutemui saat ini bukan lagi seorang yang selalu terlihat tegas, kelelahan dan rasa cemas membuatnya bertambah tua dan lemah.


Ia sudah menyadari kehadiranku, tapi masih belum bicara sedikitpun.


Kukupas salah satu buah yang kubawa, lalu kusuapi kedalam mulutnya.


Ia mengunyah lama dan perlahan.


Nenek.. maafkan aku, aku belum bisa menjadi seseorang yang bisa slalu kau banggakan. Sekarang ini aku masih butuh ketenangan yang membelenggu pikiranku.


Bukan aku tak menyayangimu.


Aku memaksakan diriku melakukan ini.


Biarlah semua membenciku. Aku hanya tidak ingin ada orang yang terluka lagi atas sikapku ini.


Pengasuh Ma kembali dengan secangkir teh hangat dan camilan.


Haga pulang kantor, matanya mengekoriku dengan bahagia. Dia menyangka aku kembali.

__ADS_1


Ia berjalan kearahku, saat itu aku sedang meneguk teh yang diberikan Pengasuh Ma, kuletakkan cangkirnya dimeja, lalu aku berdiri dan berlalu dari hadapannya.


Aku berjalan kekamarku.


Saat kubuka kamarku, semua tampak rapih dan bersih walaupun berbulan-bulan tak kutempati.


Aku kembali ke rumah, tujuanku hanya satu, mengambil barang peninggalan Mamaku.


Aku mengambil kotak yang berisi gaun, kalung dan surat-surat Mama yang masih tersimpan dengan rapih di dalam lemari.


Saat kuturun, Haga sudah menungguku dibawah. Ia melihat membawa kotak tadi, tertunduk dan berjalan melewatinya..


"Nenek sudah cerita semua. Tak bisakah kau bersikap adil, memberikanku kesempatan"


ucapnya menarik tanganku, terdengar teriris dengan semua luka yang dia rasakan.


"Maaf kak, aku tak bisa"


Tanpa bicara lagi, aku langsung meninggalkannya. Haga hanya diam terpaku.


Dan ketika aku keluar, mobil Cakra baru saja masuk, ia turun dari mobilnya, hanya mampu menatapku dengan perasaan lukanya.


Jika dia boleh memilih lagi, dan waktu bisa diputar, ia lebih baik memilih tetap tinggal seperti dulu, walau sakit, tapi bersama, bisa melihatku setiap hari..


. . . .


Aku pergi ke rumah Jodhy, dan membuat keluarga Jodhy menyambut antusias dan bahagia kedatanganku.


Mereka mengira aku kembali.


Aku meninggal kotak peninggalan Mamaku, tanpa bicara, aku pun langsung pergi. Kotak yang tak seharusnya aku miliki harus aku kembalikan kepada pemiliknya.


Jodhy yang memahamiku, tidak banyak bicara, hanya mengikutiku keluar dan mwngantarkanku pulang.

__ADS_1


Di depan rumah sederhana yang kusewa, mobil Jodhy berhenti...


"Besok, setelah selesai bekerja, aku jemput ya.. Aku ingin mencari perlengkapan yang kita butuhkan untuk pesta nanti.


Kita buat sederhana, aku hanya ingin dapat kenangan yang paling manis dan indah bersamamu.. "


ucap Jodhy menatapku, menggenggam erat tangan.


Aku tak bisa berkata. Hanya memeluknya.


Hanya perih dan pedih yang kurasa, aku benar-benar tak akan sanggup, jika harinya tiba, orang yang sedang kupeluk ini pergi meninggalkanku.


Bagaimanapun dihadapannya, aku harus tetap tegar dan tersenyum...


. . . .


...Bersambung...


Hallo semua Aku Aleena ,


baca cerita lainku yang berjudul :


✔ Dua Hati


✔ Billionaire Master Love Prison


✔ Silence


dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.


Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.


Terimakasih dan selamat membaca.

__ADS_1


__ADS_2