
Keesokan harinya.
Mobil Jeep Cakra sudah terparkir didepan panti. Haga dan Cakra datang menjemput Aida.
Aida keluar bersama Sebastian dan Judith.
Haga melirik penuh tanya sekilas pada Sebastian,
Siapa dia. Batin Haga.
lalu matanya beralih pada Judith.
"Kak Aida, kak__itu kan Paman baik" tunjuk Judith sangat antisias saat melihat Haga.
'Halo sayang, apa kabarmu?" sapa Haga,
Haga dan Cakra bersamaan menghampiri Judith dan langsung memeluk Judith bergantian.
"Paman baik__paman baik, Paman sedang apa disini" celoteh dari mulut mungil Judith.
" Paman ingin bertemu mama_mu, bolehkan? " balas Haga sambil tersenyum penuh arti dan mengelus rambut Judith.
"Boleh, boleh Paman" saut Judith polos, dan Mata Judith beralih pada Cakra yang sudah senyam senyum sendiri minta disapa.
"Halo peri kecil" sapa Ara.
"Paman keren juga disini, Paman juga mau ketemu mama ya" celoteh Judith lagi bikin gemas dan gregetan.
"Iya sayang, tapi nanti kita jalan-jalan dulu sama Kak Aida ya" saut Ara sambil melirik ke arah Aida.
"Jalan-jalan, asyik__Judith mau jalan-jalan, ayok kak Aida kita berangkat" Judith tidak sabaran menarik-narik tangan Aida.
Sebastian hanya menikamati pemandangan dihadapannya, pertemuan keluarga menurutnya,
Sebastian menebak-nebak yang terjadi dan menyimpulkan bahwa Judith adalah anak dari Yuki, karena Sebastian baru bertemu Judith pagi ini.
Aida berpamitan meninggalkan Sebastian di panti.
"Cepat kembali, aku masih merindukanmu" bisik Sebastian di telinga Aida sambil melingkarkan tangannya di pinggang Aida, membuat Ara mendelik kesal.
rasakan, memang hanya kau saja yang bisa. Seringai Sebastian kepada Ara.
cih, awas kau, urusan kita belum selesai. Ara membalas seringai Sebastian.
*oh, siapa takut, aku tunggu kau. balas Sebastian.
lihat saja nanti, awas kau jangan coba melarikan diri. Ara yang tidak mau kalah*.
__ADS_1
Mereka berdua saling bertatapan tajam, beradu telepati.
Haga menyadari sesuatu, tapi untuknya hal itu bukan jadi prioritas, untuknya, segera bertemu denganku adalah prioritasnya.
Haga, Cakra, Aida dan Judith berlalu dari hadapan Sebastian. Walau hatinya tidak suka, Sebastian hanya bisa menatap kepergian mereka.
. . . .
Mobil Ara berhenti disebuah Roman mungil bercat putih, pemandangan sejuk nan Adrian langsung memukau hati dan mata Haga. Pagar kayu putih dengan pekarangan bunga mini menyambut kedatangan mereka.
"Kak, kami tinggal ya" ucap Cakra melirik Haga yang masih terhanyut dalam lamunannya.
Cakra tidak ingin mengganggu moment berharga antara kakaknya dengan diriku. Apalagi Cakra tahu kakaknya menantikan ini begitu lama__
Haga tidak menjawab, isyarat mata dan anggukan sebagai jawaban persetujuannya.
Haga segera turun dari Mobil, sesaat Mata masih berkeliling dan berdiri didepan pagar kayu putih tadi.
"Sayaaang__pindah" pinta Cakra manja pada Aida agar ia duduk dibangku depan, Aida turun membawa Judith pindah kedepan bersamanya.
. . . .
Perlahan langkah kaki Haga mulai menyapu jalan setapak berbatu kecil yang terhampar sampai depan teras pintu rumahku.
Telinganya mendengar suara alunan piano, suara yang beberapa tahun ini dia benci dan ingin dilupakan karena dia tidak ingin mengingat apapun tentang Yuki.
Mata Haga melihat dari balik jendela, Haga ingin melihatku lebih dekat.
Melihat diriku yang sangat dia rindukan, ingin sekali rasanya Haga melompat kearahku, memelukku dan menciumku dengan erat, namun semua dia urungkan karena ia ingin menikmati sesaat moment berharganya.
Yuki seorang diri di dalam ruangan yang dia sulap seperti ruangan kelas, Haga melihat dinding bercat warna-warni, banyak gambar buatan tangan anak-anak yang penuh keceriaan tertempel di sana, pernak pernik Lucu dan warna-warni bergelantungan atau tertempel pada setiap sudut ruangan, semua terlihat indah di mata Haga.
Dentingan piano tiba-tiba terhenti, padahal lagu yang dimainkan belum selesai. Diatas piano Haga melihat seikat bunga mawar merah tergeleletak,
aku menutup piano, lalu beranjak dari dudukku, berjalan keluar, Haga yang menyadari segera bersembunyi di balik tembok.
Aku keluar membawa bunga tadi dan sebotol air dalam botol kaca, Aku berjalan ke suatu tempat, Haga mengekori perlahan dalam diam.
Kakiku berjalan pelan menyusuri jalan setapak, berbelok dan kadang berbatu. Aku berhenti di sebuah makam, makam dengan gundukkan helai bunga mawar merah dimana-mana.
Aku bersimpuh di makam tadi, sesekali dengan teliti tanganku membersihkan daun-daun yang berjatuhan di sekitar makam nya. Kusirami gundukkan tadi dengan air yang kubawa lalu kuletakkan bunga tadi disamping pusaranya.
Mata Haga tak berkedip sedikitpun, menatap takjub pemandangan dihadapannya.
Pemandangan kejujuran yang tak bisa Aku tutupi ataupun berbohong lagi, semua tergambar jelas di Mata Haga.
Mata Haga terlihat begitu khawatir saat melihatku membaringkan diri di sisi makam, Aku seperti memeluk tubuh seseorang yang sedang tertidur, lalu mataku terpejam.
__ADS_1
Mata Haga masih tidak bisa mempercayainya, semua hal yang dia lihat sekarang, bertolak belakang dengan sifat dan sikapku selama ini, Aku yang menurutnya selalu manja dan ceria, bisa melakukan hal gila seperti itu.
Hari sudah semakin sore,
namun Aku masih belum terbangun dari keberadaanku, Aku tertidur dengan pulas.
Cakra dan Aida pulang, Judith kelelahan bermain, jadi Judith sudah tertidur. Cakra yang menggedong Judith kali ini, pelayan dari dalam rumah segera keluar ketika mendengar panggilan Aida,
pelayan tadi langsung mengambil Judith dari Cakra dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Aida menyadari keberadaanku dan juga Haga tidak ada, wajahnya terlihat panik dan gelisah.
"Ada apa sayaaang" tanya Cakra yang menyadari sikap Aida.
"Dia pasti Ada di makam, akan Aku menyusulnya" suara Aida bergetar, Aida segera berlari meninggalkan Cakra, Cakra yang cemas, hanya bisa mengikutinya.
Lari Aida terhenti ketika melihatku digendong Haga, warna baju putihku sudah berubah warna menjadi tanah.
Aida yang sudah tak sanggup lagi melihat kondisi labilku langasung menutup mulutnya, menahan airmata yang akan keluar.
Aida tidak bisa lagi menahan deraian airmatanya yang sudah keluar,
Cakra langsung memeluk dan mengusap rambut Aida mencoba menenangkannya.
"Jangan khawatir lagi Aida, sudah Ada Kak Aga, Kak Aga pasti tidak akan membuat kita kecewa untuk kedua kalinya" bisik Cakra di telinga Aida, menegarkan hati wanitanya,
Aida hanya mengangguk pelan dipelukan Cakra..
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
Terimakasih dan selamat membaca.
__ADS_1