
"Sudah jangan meledekku lagi, ayo kita makan" Aida mengalihkan suasana.
Aku yang merasa canggung sendiri, "Aku cari Jui sebentar" bergegas meninggalkan meja, dan tidak berapa lama Aku kembali dengan menggandeng Judith.
walaupun canggung dan tidak enak hati, Aku akhirnya duduk di sebelah Haga, dengan posisi Judith duduk ditengah.
"Sebentar, tahan ya" Cekrek Ara mengambil foto dengan handponenya. Aku melirik Haga yang tanpa ekspresi. "Sudah kompak nih seperti satu keluarga" ledek Ara sambil mengamati fotonya tadi.
"Ra, hapus" Aku yang merasa Haga keberatan.
"Enak saja dihapus, ini moment berharga, bukan begitu kak" Ara melirik Kakaknya dengan kedipan di mata. Haga masih diam, tidak menjawabnya.
"Lagipula Judith pasti tidak akan menolaknya, iya kan Jui" Ara mencari dukungan Judith.
"Apa Paman Keren" saut Judith, "Iya, kamu tidak keberatan kan Paman Baik jadi Papahmu" Ara yang berucap seenaknya.
"Paman Baik jadi Papahku, tentu saja Aku Mau Paman, benar Paman Baik mau jadi Papahku?" wajah polos dan gemas Judith tidak bisa ditolak Haga, Ia menjawabnya dengan dengan senyuman.
"Asik, Mamah, Paman Baik mau jadi Papahku, jadi mulai sekarang Aku panggil dia papah yah mah, boleh yah mah" lagi-lagi Aku pun tak bisa menolaknya, sedangkan Ara dan lain merasa berhasil mencomblangkan Haga dan Yuki.
"Mamah, Aku mau itu... " tunjuk Judith yang sudah tidak bisa menahan laparnya. Tangan segera mengambil yang ditunjuk Judith, dan semua pun mulai mengambil makanan satu persatu.
Haga terus melirikku yang makan tidak semangat. Beberapa kali saat Aku akan mengambil makanan, entah disengaja atau memang kebetulan selalu bersamaan dengan Haga.
Usai makan Judith dibawa Ara, Aida dan Sebastian bermain, meninggalkanku dan Haga dengan meja kotor dan berserakan.
Aku mulai memisahkan makanan yang masih bersisa dan sampah, piring-piring Kotor pun Aku jadi satu.
Haga berusaha mendekati, membantuku tapi Aku terus menghindar karena malu atas ucapan Judith tadi. Bahkan saat mencuci piring-piring Haga pun ikut membantu, tatapannya tak lepas sedikitpun apalagi dia Sudah lama tidak melihat tingkahku yang kikuk dan malu-malu.
"Aku ingin bicara" Haga yang akhirnya menyerah dan gregetan sendiri sambil memegang tanganku. Sesaat Aku terdiam, "Biarkan Aku selesaikan pekerjaanku dahulu" balasku.
"Aku tunggu di tepi danau" Haga pergi meninggalkanku.
. . . .
Aku menghampiri dan duduk di sebelah Haga, kakiku bermain air sambil menatap bunga-bunga teratai liar. Kami sejenak menikmati suasana, sedangkan Haga menyandarkan kepalanya di pohon sambil menatap tingkahku.
Haga menarik tubuhku agar lebih dekat dengannya, kedua kakinya pun sudah mengapit tubuhku ditengah.
"Apa masih sakit?" Haga yang sudah tidak sabar dari tadi ingin menyentuh dan melihat pipiku.
Aku menoleh kearahnya" masih, sakit sedikit kak" ucapku.
Jantungku kenapa kok berdebar keras sekali saat dekat dengan Kak Aga.
__ADS_1
Haga mengelus pipiku, " mulai saat ini Aku tidak ingin mendengar kau memanggilku dengan sebutan kakak lagi. Panggil Aku seperti kau memanggil Ara, bisa kan?" menatapku dengan lembut dan tajam.
Apa ini berarti Kak Aga telah memaafkanku?
"Maafkan Aku, Aku sungguh-sungguh meminta maaf" tangisku, memeluknya.
Haga melepaskan pelukanku, menghapus airmataku yang menangis sesegukan seperti anak kecil.
"Kalau seperti ini kau sudah mirip seperti Yuki yang kukenal dahulu, Aku merindukanmu..." Rindu Haga yang sudah menggebu, tak bisa dia tahan lebih lama lagi, Haga mengecup bibirku dengan lembut dan hangat, permainan bibir Haga sampai membuatku terhanyut dan lupa diri. Haga melepaskan ciumannya, menatapku yang masih terdiam seolah memikirkan sesuatu.
"Aku kesini ingin menagih hutangmu" ucap Haga yang melihatku masih terdiam.
Hutang?
"Memangnya Aku berhutang apa sama kakak" ucapku keceplosan,
Haga mendelik, "Maaf.. Aku belum terbiasa" Aku menggigit bibirku.
"Kau masih ingat ucapanmu kepadaku, saat kau meminta Jack dikeluarkan dari penjara, kau berjanji menuruti semua syaratku dan akan menyetujui apapun permintaanku" Haga yang mengingatkan peristiwa beberapa tahun lalu. Aku hanya mengangguk.
"Aku akan menagihnya sekarang. Aku ingin kau menemaniku disetiap sisa umurmu. Selamanya terus disisiku, jangan sekali pun kau pergi atau menjauh dariku. Menikahlah denganku Yuki.. " Haga melamarku.
Tatapannya yang begitu hangat membuatku tertegun sekaligus berpikir, "Kalau hanya menemanimu disisa umurku, Aku bersedia. Tapi kalau menikah denganmu, Aku... " Haga yang mengerti keraguanku, sekali lagi menarik wajahku kehadapan wajahnya, menyentuh bibirku dengan kedua tangannya, dan... menciumku lagi lebih lembut, hangat dan lama..
Aku lagi-lagi terhipnotis, seperti ketagihan tidak ingin melepaskannya, Haga melepaskan ciumannya perlahan..
Dan surat-surat yang kami miliki, hanya akte kelahiranmu dan data-data pribadi tentangmu" terang Haga.
"Kau mengerti, Nenek memang memilihmu untuk menjadi pendampingku, istriku.. " ucap Haga lagi.
Aku memang mendengarkan semua ucapan Haga, tapi yang kupikirkan ciuman Haga, Aku merasa pernah merasakan ciuman tadi, ciuman yang berbeda dari Jodhy.
"Boleh Aku bertanya" Haga mengerutkan keningnya.
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Apa kau pernah menciumku sebelum ini?" pertanyaan diluar dugaan Haga.
Haga kikuk dan memalingkan wajahnya.
"Aku tanya sekali lagi apa kau pernah menciumku sebelumnya" mulai kesal dengan sikap diam Haga, Aku segera memegangi kedua pipi Haga agar tidak menghindar lagi.
Haga hanya tersenyum dan menaikan kedua alisnya.
"Aakhh...pantas saja, kapan dan dimana?"
__ADS_1
"Rahasia" Aku memukul dada dan mencubit pinggang Haga karena penasaran.
"Jahat, jahat. . ternyata Kau pelakunya.. " Haga yang gemas melihat tingkahku lagi, menarik lagi tubuhku kedalam pelukannya.
Kami bercerita sampai sore, meluapkan segala kerinduan kami, memecahkan segala Kerala fahaman,
suasana terasa begitu damai dan hatiku terasa lega, semua beban seolah terangkat dan Aku benar-benar bisa menghirup kebebasanku.
Beberapa bulan setelah Haga melamarku,
kami melakukan pernikahan ganda di luar negeri, kami melakukan pernikahan disana karena pernikahan absutnya Aida tidak bisa dilakukan di Indonesia.
Pernikahan yang hanya dihadiri keluarga terdekat, lucu, besar dan meriah,
akhirnya semua berakhir dengan Indah...
"Elegi Cinta Yuki"
...dan apabila kau mengerti semua tentangku, waktu memang telah banyak memisahkan kita, tetapi didalam hatiku ini ada sebuah kisah **tentangmu**,
Yang sebetulnya Aku pun tidak tahu kapan kisah ini di mulai atau mungkin sebenarnya kisah ini tidak pernah kita mulai...
Bagi-Nya, mengerti semua dukaku, selalu dekat disampingku,
perlahan dan tanpa kusadari, Aku pun mulai jatuh cinta padanya...
Perasaan ini begitu tulus, tapi Aku tetap-lah Aku, mungkin selamanya hanya mencintai diri-Nya yang hanya menjadi bayanganku.
Dan Aku bersama-Nya kini bukan karena janjiku, melainkan karena sinar matanya yang hangat, yang selalu melindungi dan membuatku tenang, Aku berharap disana kau mendo'akanku agar diriku selalu berbahagia...
...Tamat...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
__ADS_1
Terimakasih dan selamat membaca.