ELEGI CINTA YUKI

ELEGI CINTA YUKI
Salah faham


__ADS_3

Dari luar kamar terdengar suara gaduh.


Orang teriak-teriak tidak jelas, siapa sih. Aku penasaran bangkit dari tempat tidur, membuka pintu kamar.


Lho itu kan Cakra, dipapah dua pengawal, kenapa ya, kayaknya dia mabuk, dan itu wajahnya... Kok memar-memar.


Aku baru mau melihat kondisi Cakra, Tiba-tiba Haga menarik tanganku, seolah bicara jangan ikut campur.


"Aku mau melihatnya, aku masih merasa bersalah karena kemarin.. "


Aku nggak melanjutkan kata kataku. Haga lagi-lagi hanya menatapku.


Hei, Tuan Besar Haga, bicara dong, jangan bikin binggung begini dengan tatapanmu itu, aku mana tau kalau kamu nggak ngomong.


Haga meninggalkanku ketika dua pengawal tadi sudah keluar dari kamar Cakra.


Terlihat jelas Haga sangat mengkhawatirkan adiknya itu, walaupun nggak bicara, sikap menunjukkan segalanya.


Aku yang hanya bisa menatapnya dari ambang pintu kamar Cakra.


. . . .


Keesokan paginya.


Aku sudah dengan nampan berisi segelas susu dan roti masuk ke kamar Cakra.


Kuletakkan dipinggir ranjangnya.


Aku intip Cakra masih tertidur.


Kuberanikan diri melihat kondisinya, kulihat keningnya berkeringat dan seperti merenggut kesakitan.


Kusentuh keningnya, ternyata panas, seperti dia demam.


Aku bergegas keluar kamarnya, nggak lama sudah kembali dengan alat kompres.


Pengasuh Ma yang melihatku bolak-balik, mengikuti dari belakang.


Haga juga baru keluar kamarnya, ketika melihat Pengasuh Ma masuk kamar Cakra dia pun mengikuti dari Belakang.

__ADS_1


Aku duduk di pinggir ranjang Cakra, mulai mengompres kening Cakra, dia membuka matanya.


"Ngapain lo disini, keluar"


teriaknya marah padaku.


Aku kaget, langsung berdiri, gemetaran.


"Apa-an lagi nih"


melemparkan kain kompres tadi ke wajahku.


"Lo nggak usah pura-pura baik dan perhatian ke gue, gue nggak bakal tersentuh sama yang beginian"


tuduh Cakra makin marah.


"Lo masuk keluarga ini cuma belagak jadi anak polos dan baik, sandiwara lo nggak mempan buat gue, gue tau lo cuma mengincar harta nenek gue "


teriak dan makiannya makin keras padaku.


lalu membuang nampan yang berisi air dan es kompresan berceceran di lantai.


Dadaku bergetar hebat. Sakit rasanya. Seperti tersambar petir di siang bolong.


"Elo budek, gue bilang keluar"


Matanya membulat tajam, membentakku, mengeluarkan amarahnya.


Meneriakiku terus menerus.


Aku yang masih kaget, sampai nggak bisa menggerakkan kaki, masih gemetaran, diam mematung.


"Tuan Muda"


ucap Pengasuh Ma menghampiri yang menyaksikan kejadian tadi, berusaha menenangkan emosi Cakra.


"Pengasuh Ma, usir dia, aku nggak mau lihat mukanya lagi"


bentaknya makin emosi sambil menunjuk nunjuk padaku.

__ADS_1


karena aku masih nggak bergerak sama sekali.


"Nona, sebaiknya anda keluar dulu"


ucapnya sambil melirik Tuan Besar Haga agar membawaku keluar.


Haga memapahku keluar, karena dia tau aku masih terlihat syock atas perkataan Cakra.


"Aku nggak punya niat apa-apa. Sungguh. Kenapa Cakra menuduhku bersandiwara. Mau mencuri harta nenek, yang benar saja, bahkan sedikitpun aku nggak pernah menginginkan ini, aku nggak pernah menginginkan diadopsi oleh keluarga ini.. kenapa aku yang harus disalahkan, kenapa"


Tangisku pecah seketika,


Haga hanya merangkulku ke dalam pelukannya. Mengusap rambut dan punggungku, mencoba menenangkan emosiku.


"Jangan di ambil hati Nona, Tuan Muda memang agak sedikit kasar dan keras kepala, tapi sebenarnya hatinya lembut, jadi Nona harus lebih banyak bersabar ya menghadapi sikap Tuan Muda"


Pengasuh Ma mencoba menjelaskan sifat Cakra.


Cih, apanya yang berhati lembut, dasar berandalan gila, kepala udang. Makiku.


. . . .


...Bersambung...


Hallo semua Aku Aleena ,


baca cerita lainku yang berjudul :


✔ Dua Hati


✔ Billionaire Master Love Prison


✔ Silence


dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.


Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.


Terimakasih dan selamat membaca.

__ADS_1


__ADS_2