
"Ra, hentikan" Aida mendorong tubuh Ara dengan sekuat tenaga agar terlepas dari ciuman dan pelukan Ara.
Ara melepaskan perlahan pelukannya, ia tidak ingin melihat orang yang dicintainya bertambah marah.
"Hentikan omong kosongmu, Ra__Aku ini sedang tidak bercanda, Aku serius" kekesalan Aida semakin menjadi, dia tidak menyangka pikiran bercandanya soal poliandri tadi terbaca oleh Ara.
"Siapa bilang Aku bercanda, Aku juga serius" saut Ara tidak kalah tegas, "Dan kalau memang Pengantin lelaki kecilmu tidak menyetujui, Aku tidak masalah, karena dengan begitu kau sepenuhnya hanya menjadi milikku, tak perlu berbagi dengannya" Ara tampak begitu yakin dengan ucapannya.
"Araaaa" teriakku kesal.
"Iya sayang" saut Ara lembut seakan meledak Aida.
"Kau ya" Aida mendelik marah.
"Aku serius, Aku benar-benar serius Aida, Aku ingin segera menikahimu, Aku sudah tidak kuat lagi berjauhan denganmu" ungkap Ara dengan semua ketulusannya.
Aida hanya terdiam, tidak menyangka Ara akan senekat dan segila ini.
"Jangan kau cemaskan apapun Aida, Aku sudah bilang akan bertanggung jawab, dan Aku tidak mengizinkan orang lain yang menggantikan tanggung jawabku. Aku pasti menikahimu.
Aku akan bicara dengannya sebagai sesama laki-laki, seperti yang Aku bilang jika dia tidak menyetujui kau hanya menjadi milikku satu-satunya, Namun jika dia menyetujuinya, Aku pastikan tidak akan mundur selangkah pun, percayalah, Aku sangat mencintaimu, dan tidak akan membiarkan siapa pun membawamu jauh dariku" ucapan Ara penuh tekanan dan keyakinan sambil memegang kedua tangan Aida.
Ya ampun Ara.. bikin hatiku meleleh. Aida.
"Eheemm" suara deheman seseorang membuyarkan tautan emosi dan pertengkaran kami.
Haga yang sejak tadi menyaksikan pertunjukan live, Yaa.. meskipun dia menontonnya, masih Ada beberapa plot dan bagian yang tidak dia mengerti.
Aida dan Ara menoleh, Aida segera menghempaskan tangan Ara.
"Kakak, kau datang, sejak kapan kau disitu" seru Ara dan pertanyaan menderu.
"hhmm__Yaa__ kira-kira sejak itu__ " Haga meledak Ara dengan kedua tangannya yang menggambarkan mereka sedang ciuman.
Aida menunduk malu.
"jadi ini alasan penting yang mau kau selesai kan" tepuk Haga pada pundak Ara.
Aida makin malu.
__ADS_1
"Ra__antarkan Aku pulang" Aida menarik pelan lengan Ara.
"Menginap saja disini Aida" ucap Haga
"Tidak Kak, Aku pulang saja, lagipula ada tamu yang sedang menungguku" saut Aida, membuat wajah Ara berubah kesal.
"Sudah kau menginap saja, besok kau antarkan kami ke tempat Yuki" bujuk Ara.
"Ra__" Aida menggelengkan kepalanya.
"Iya__menginap saja Aida, urusan Ibu Kepala biar Aku yang kabari, lagipula disini banyak kamar kosong" Haga memprovokasi adiknya, membantu agar Aida bisa tetap dekat adiknya.
"Tidak perlu kamar lain kak, Aku dan Aida bisa satu kamar" Ara semangat menyambut provokasi dari kakaknya.
"Araaaaa" pekik Aida malu, sambil mendelikkan Mata dan mencubit pinggang Ara.
"Aw__" pekik Ara.
"Satu kamar" Haga menggoda nakal Aida dan Ara.
Ara tersenyum memberikan kode dengan menaikkan kedua alisnya pada Haga, seakan memproklamirkan hubungan mereka.
Haga tersenyum, Haga mengerti maksud Ara hubungannya sudah sejauh Apa dengan Aida.
"Sudah Ra, antarkan Aida pulang, jangan kau goda terus, besok saja kita jemput dia untuk mengantarkan ketempat Yuki" bujuk Haga.
"Ya__sudah kak, Aku antarkan Aida dulu" pamit Ara sambil merangkul pinggang Aida.
Ara__ara__ternyata kakakmu ini kalah star, sepertinya kakak harus banyak belajar darimu untuk urusan cinta dan perempuan.
Haga yang membiarkan mereka berlalu pergi dari pandangannya.
Ara tidak melepaskan Aida begitu saja, ia tidak ingin melepaskan kesempatannya buat berduaan dengan Aida. Mobil Jeep Ara berhenti dipersimpangan jalan. Senyum nakal dan mesum langsung tersirat diwajah Ara.
"Kok berhenti, Ra__" lirik Aida.
"Iya, Aku kan belum selesai menghukum__mu" seringai Ara.
"Hukum, apa sih Ra, cepat pulang, Aku tidak enak ditunggu Sebastian" Aida yang mulai kesal dengan tingkah Ara sedari tadi.
__ADS_1
"Ow, bagus, jadi kau ingin segera pulang karena si Sebastian itu" tangan Ara meraih tengkuk Aida agar mendekati wajah Ara. Aida mencoba menahan dan mengelak agar wajahnya tidak berdekatan dengan Ara.
"Ra__sudah tidak usah bercanda lagi, aku mau pula__" belum sempat Aida melanjutkan ucapannya Ara sudah menarik paksa tengkuk Aida, mencium bibir Aida dengan ganas. Aida yang larut akhirnya membalas pagutan ciuman Ara, tapi Ara malah semakin menjadi menyentuh kemana-mana__"puaskan aku dulu, baru kau kuantarkan pulang" bisik lembut Ara ditelinga Aida. "Aku merindukanmu Aida" tambah Ara lagi, membuat Aida tidak bisa menolak permintaan Ara, Aida pun pasrah menuruti semua kemauan Ara, yang memintanya untuk memuaskannya.
"Aku mencintaimu sayang" kecup Ara dikening Aida yang sedang merapikan pakaian, setelah selesai memadu kasih sayang, Ara tersenyum puas.
Aida hanya tertunduk malu, karena lagi-lagi dia pasrah menuruti kemauan Ara.
Kita lihat saja apa pengantin kecil lelakimu masih mau menerimamu setelah dia melihat stempel-stempel yang aku tinggalkan. Batin Ara.
. . . .
Sepeninggalan Ara dan Aida, Haga mengamati setiap pemandangan yang menyejukkan mata. Hati Haga kembali bertaut, berputar pada kenanganku.
Haga melihat bayanganku dimana-mana. Ia mengingat semua kenangan indah bersamaku.
Kenangan disaat Aku memintanya mengajari berkuda, bermain diayunan, berkeliling desa, canda tawa yang dilewati bersama, bercerita di dekat perapian, satu hal pun tak luput dari ingatan Haga.
Melihat isi kamar Yuki, dan semua barang masih terletak ditempat yang sama.
Tak ada satupun yang berubah, hanya lamunannya tersadar, penyesalan pun tak bisa dia hindari, penyesalan yang membuat hatinya sakit dan dadanya sesak__
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
__ADS_1
Terimakasih dan selamat membaca.