
Cakra keluar dari mobilnya, dia tidak ingin lagi melihat pertunjukan sandiwara itu lebih lama.
Kakinya berjalan cepat, tangannya meraih cepat lengan Aida yang masih digengam erat Sebastian.
Sebastian mendelik tajam pada Cakra.
"Aida" panggil Cakra.
Aida menolehkan wajahnya.
"A.. Ara.. kamu"
Jantung Aida rasanya mau copot ketika melihat Ara sudah dibelakangnya.
Sebastian menarik keras tubuh Aida hingga Aida berada dipunggung belakang Sebastian. Menghalangi tangan Cakra yang coba meraihnya.
"Oh, jadi kau laki-laki brengsek itu"
Sebastian yang memang menahan amarahnya daritadi tanpa ragu mendaratkan pukulan keras diwajah Ara.
Ara yang tidak terima, langsung membalas pukulan Sebastian pada wajahnya.
Mereka berdua terlibat saling pukul, seperti memperebutkan mainan kesukaan, salah satu dari mereka tidak Ada yang mau mengalah..
Aida yang takut dan binggung, binggung bagaimana melerai mereka, karena mereka berdua bergulat diaspal saling berpelukan dan menarik rambut lawannya.
Aida menepuk dahinya sendiri..
"Stop, sudaaahhhh"
teriak Aida melerai mereka.
Aida yang mendapatkan kesempatan ketika mereka berdiri dan akan saling memukul lagi, Aida sudah berada ditengah mereka.
Terdengar suara nafas menderu dari keduanya, wajah mereka sudah babak belur dan baju mereka sudah berantakan kemana-mana.
Sial. Ternyata dia kuat juga. Batin keduanya.
__ADS_1
"taruh tangan kalian dipinggang, tarik nafas dalam-dalam, lalu buang"
ucap Aida menaik turunkan tangannya beberapa kali ditengah mereka,
anehnya mereka berdua mengikuti perkataan Aida.
"kalian berdua, lelaki dewasa tapi kelakuan seperti anak kecil"
Entah dari mana keberanian Aida muncul, Aida berkacak pinggang memarahi keduanya.
Mereka berdua hanya tertunduk.
"ck, ck, ck" Aida mengelengkan kepalanya.
"ya sudah kita pulang saja, Aku lapar" tambah Aida lagi.
"Yah..kok pulang, Aku sudah minta izin, kita makan dibelokan depan saja Aida"
Sebastian langsung membuka suaranya, tidak rela waktu berduanya dengan Aida terbuang.
Aida melirik keduanya.
Keduanya sigap langsung menarik lengan Aida.
"Akh" pekik Aida
"Sudah, kalian berdua masuk saja ke mobil masing-masing, biar Aku jalan kaki, kan tinggal berbelok sedikit"
Aida menghempaskan tangan keduanya, berjalan sendiri.
Para lelaki ini sungguh menggemaskan. Lucu juga kalau keduanya kumiliki. Tidak Ada salahnya kan kalau Aku Poliandri. hahaha..
Pikiran nakal dan ekstrim Aida.
Mobil keduanya sudah terparkir pada sebuah restoran kecil.
Aida menghampiri mereka.
__ADS_1
"Mana dompet kalian"
Aida mengulurkan kedua tangannya.
Ara dan Sebastian mengeluarkannya bersamaan, tanpa ragu mereka langsung meletakan pada tangan Aida yang sudah terulur.
"Kalian kedalam, cari meja, pesan makanan, Aku beli obat dulu"
ucap Aida, Ara dan Sebastian saling mencibir.
".. eits, ingat satu meja ya, kita makan bersama" tambah Aida, pergi membawa kedua dompet mereka.
aihh, Aku sangat lapar, kalau tadi Sebastian tidak langsung mengajakku pergi, Aku pasti bawa tas, tidak harus seperti ini..
Ara dan Sebastian seperti Tom and Jerry saling mendengus kesal. Hanya saja mereka ingat pesan Aida untuk mencari satu meja, akhirnya dengan terpaksa mereka duduk dalam satu meja.
Pelayan langsung menghampiri, membawa dua buku menu, menyerahkan pada keduanya, sesekali pelayan tadi melirik heran pada Ara dan Sebastian yang wajahnya sudah penuh Luka dan baju berantakan. Mungkin dalam pikiran pelayan tadi, kenapa para lelaki tampan ini bisa terluka.
Ara dan Sebastian mulai melihat menu makan, Sebastian langsung memilih Beberapa makanan kesukaan Aida.
ah, sial, Aku tidak tahu Aida suka makan apa. Ara.
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
__ADS_1
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
Terimakasih dan selamat membaca.