ELEGI CINTA YUKI

ELEGI CINTA YUKI
Berpamitan 2


__ADS_3

Keesokan pagi, semua tampak sibuk.


Dikamarku, Ame sedang menyisir rambutku.


"Nona, rambut Anda panjang dan keriting, halus dan lembut lagi"


"Benarkah, padahal dipanti aku sering diledekin mie keriting"


"Tidak Nona, ini sangat cantik dan unik, cobalah sesekali diberi pita agar terlihat lebih cantik"


"Bukan gayaku, aku tidak suka pita"


Obrolan pagi berakhir, karena seorang pelayan lain memberitahu agar aku turun untuk sarapan.


Pengasuh Ma tampak sedang memberi wejangan kepada para pelayan dan pengawal.


Tidak berapa lama kulihat seoarang pelayan membawa koper-koperku turun.


Saat berjalan ke meja makan, kulihat Tuan Besar Haga sudah berada disana sedang mengoleskan roti.


Aku menghampiri, memberi salam sambil memberi hormat, namun lagi-lagi tidak digubris nya.


Ihh, nih orang sombong amat, belagu, salamku saja ga di jawab. Gerutuku kesal.


Saat kuperhatikan lagi, baju yang dipakainya kenapa selalu hitam, seperti orang yang berkabung, seperti tidak ada baju lain.


"Nona, sarapan saja, Nyonya Besar dan Pengasuh Ma sudah sarapan"


ucap Ame memberitahu karena aku masih berdiri mematung di samping kursi. Ia membukakan kursi mempersilahkanku duduk.


Walaupun sedikit ragu, sesekali aku melirik Tuan Besar Haga yang hanya diam tidak merespon apapun.


Ih, nih orang kenapa nggak bilang sih, tuh mulut dipake buat apa sih. Gerutuku lagi.


Kuambil satu tangkap roti. Dua-duanya kuoles mentega, hanya satu yang kuberi selai coklat.


Kujejerkan di piring. Lalu aku ambil jar susu, kutuang ke gelasku.


Aku makan yang dioles mentega dahulu, baru yang dioles coklat, setelah habis baru kuteguk gelas susuku.


"Apa sarapan kalian sudah selesai, Nyonya Besar sudah menunggu di mobil"


ucap Pengasuh Ma yang menghampiri meja makan.


Aku mengangguk.


Tuan Besar Haga tidak menjawab, langsung berdiri meninggalkan meja makan.


Aku berjalan keluar mengikuti Pengasuh Ma. Ditanganku menggenggam erat harmonika.


Pengasuh Ma memberi isyarat untuk membukakan pintu mobil saat aku datang. Lalu mempersilahkanku masuk.


Betapa kagetnya aku, saat melirik orang di sebelahku Tuan Besar Haga.


Dia sudah bersandar sambil menutup kedua matanya.

__ADS_1


Pintu mobil langsung di tutup. Dan Pengasuh Ma menaiki mobil lainnya.


Mobil mulai melaju, Aku yang merasa nggak enak, langsung beringsut memberi jarak pada tempat dudukku. Bagaimana pun Tuan Besar Haga adalah majikanku.


Sepanjang perjalanan aku terus menunduk sambil menatap harmonika-ku.


Sesekali melihat keluar jendela mobil, jalanan yang kulalui pasti melewati panti asuhan. Tepat sebentar lagi. Aku mendorongkan tubuhku ke jok belakang, memejamkan mataku. Mencoba menahan sesak didada.


Jangan nangis Yuki, kamu nggak boleh nangis.


Tiba tiba mobil berhenti.


"Kau punya setengah jam untuk berpamitan, jika tidak datang dalam setengah jam pengawal yang akan menyeretmu keluar"


ucap Pengasuh Ma membukakan pintu mobil untuk ku.


Sesaat hampir nggak percaya. Aku mengangkat kepalaku.


Saking senang nya, tanpa sadar harmonika yang kugenggam tadi terlepas dari peganganku.


Aku keluar dari mobil.


"Terima kasih Pengasuh Ma"


ucapku sambil mengembangkan senyum kegirangan dan memeluknya.


Pengasuh Ma kaget melihat reaksi ku, seperti burung lepas dari sangkar, aku berlari masuk ke dalam panti.


Sekilas senyum tipis geli melihat tingkahku muncul di mulut Pengasuh Ma dan Tuan Haga.


. . . .


Aida yang melihat ku masuk, langsung memelukku.


"Yuki, cantik banget, aku iri"


"Dimana Ibu, aku ingin bertemu sebelum pergi"


tanpa membalas komentar Aida, bergegas mencari Ibu Kepala.


"Pergi? "


Aida heran


"Iya, mana Ibu"


"Ibu ada di ruangannya"


Aku segera berlari meninggalkan Aida. Masuk ke ruang Ibu Kepala.


"Ibu.. "


tangisanku berhamburan.


Ia tengah sibuk dengan pekerjaannya, lalu meninggalkan setelah melihatku masuk.

__ADS_1


"Bu, aku kangen"


pelukku.


"Kamu baik-baik saja sayang, Ibu juga rindu"


tangis haru saat kami berpelukan.


Ibu Kepala memeluk, menciumi keningku. Memeriksa kondisiku, dan menatapku.


"Kamu cantik sekali"


ucapnya sambil menghapus airmataku.


Saat menyadari tanganku masih di balut perban.


"Apa yang terjadi, kenapa tanganmu terluka"


Kekhawatiran muncul di mata Ibu Kepala


" Aku nggak pa-pa bu"


mencoba menenangkan.


"Apa mereka menyakitimu? "


"Nggak Bu, mereka sangat baik"


ucapku melemah, lalu menyadari waktuku tidak banyak lagi.


"Bu, aku mau pamit, mereka akan membawaku pergi, dan aku nggak tau kapan bisa kesini lagi"


suaraku terdengar melemah.


Ibu Kepala yang menyadari sesuatu.


"Kemarin sayang, ikut ibu"..


. . . .


...Bersambung...


Hallo semua Aku Aleena ,


baca cerita lainku yang berjudul :


✔ Dua Hati


✔ Billionaire Master Love Prison


✔ Silence


dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.


Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.

__ADS_1


Terimakasih dan selamat membaca.


__ADS_2