
...Back song...
...π§ πΆ Heize - Round and Round πΆπ§...
Haga, Jodhy juga Cakra panik dengan kepergianku.
Apalagi Haga belum tahu alasannya kepergianku.
Mereka sibuk mencari-ku kesana kemari, namun aku seolah menghilang ditelan bumi.
Aku tidak dapat ditemukan dimana pun.
Aku memilih menjauh pergi dari hadapan mereka.
Maafkan Aku Nek, Kak Aga, Ara . Aku belum bisa menepati janjiku.
Aku tidak mampu menunjukkan wajahku.
Aku malu karena merasa telah menghianati perasaan sakit hati dan penderitaan Mamaku..
. . . .
Setengah Tahun berlalu..
Mereka masih belum menemukan kabar apapun tentangku.
Haga beberapa kali sempat mengunjungi Panti Asuhan dan Perkebunan tapi ia tidak menemukan kabar ataupun diriku.
Haga hilang harapan. Haga yang sudah tahu kebenarannya, tidak perduli apapun itu, ia hanya ingin aku tetap kembali. Kembali bersamanya.
Cakra pun merasakan hal yang sama, dengan luka yang dia rasakan sendiri. Jauh dilubuk hatinya, ia selalu mendo'akan agar aku selalu dalam keadaan baik.
Setengah tahun tinggal bersama mereka, Aida cukup tahu kondisi keluarga Haga.
Walau bukan berusaha menggantikan posisi-ku dia selalu berusaha menghibur semuanya, namun bagi Aida posisiku tetap tak tergantikan.
Suatu kali, Aida memberanikan diri menyatakan perasaannya pada Cakra. Cakra langsung menolaknya mentah-mentah.
Aida meminta alasan mengapa ia menolaknya, Cakra hanya beralasan tidak ingin menjalin hubungan yang serius kalau ia belum merasa dapat yang cocok.
Aida pun berbicara, jika saat ini aku yang menyatakan-nya apakah dia akan melakukan hal yang sama, Cakra tidak bergeming, tak bersuara.
Aida tahu, ia seolah mendapat jawaban, ia memang nggak mendengar jawaban langsung dari Cakra, tetap saja membuatnya sedih dan sakit hati.
Aida memutuskan kembali tinggal di Panti. Ia pun memilih pergi sejauh mungkin dari rumah itu, daripada harus melihat wajah Cakra yang menderita setiap harinya...
. . .
Aku memang pernah beberapa kali ke Panti meminta Ibu mencarikanku pekerjaan. Hanya aku meminta Ibu untuk merahasiakan kedatanganku.
Aku berhasil mendapatkan kepercayaan untuk melatih anak-anak yang ingin bermain piano.
Walaupun uang yang kuterima tidak seberapa, bagiku asalkan aku bisa menghidupiku sudah lebih dari cukup.
Aku bahagia, tanpa hidup berlimpah seperti dulu...
Aku ingin berdamai dengan hatiku,
ingin menyembuhkan semua luka dan melupakan semua peristiwa yang telah terjadi.
. . .
Saat berjalan-jalan,
tidak sengaja Jodhy melihat sosok-ku.
Ia terus mengikutiku kesebuah tempat.
Aku pergi kesebuah pemakanan, dan ia melihatku menabur bunga dipusara seseorang..
Makam Mamaku..
__ADS_1
Setangah tahun lalu aku berusaha keras mencari tahu dimana makam Mamaku,
setelah berkutat dengan mencari Informasi kesana kemari, kesabaran membuahkan hasil setelah aku mendatangi tempat kelahiran Mamaku..
"Yuki!"
ucap Jodhy yang sudah dibelakangku.
Aku yang sudah selesai menabur bunga dan mendo'akannya.
Aku berbalik, menatap dingin orang yang dihadapanku.
Kembali bertatapan dengan orang yang sangat kucintai dan kurindukan.
Aku tidak bisa membohongi hatiku, Aku sangat merindukanmu. Tapi dia adalah anak Papa-ku, yang berarti dia adalah adik-ku sendiri.
Aku tidak menjawab ataupun tersenyum.
Aku dihadapannya kini orang yang berbeda, dingin dan kaku. Akupun meninggalkannya tanpa berbicara..
"Yuki, Kau kemana saja, Aku sangat mesin dan terus mencarimu.. "
ucap Jodhy yang menarik tanganku, mengsen langkahku.
"Lepaskan. Semua sudah berakhir! "
ucapku menghempaskan tangan Jodhy.
"... belum berakhir Yuki. Aku mencintaimu. Dan Aku ingin menikah dengan-mu"
Jodhy yang tetap bersikeras dengan sikapnya.
Mataku membuat tajam, marah.
"Apa? Kau menikah dengan-ku,
Jodhy... Kau ini adikku, apa kau masih belum tahu, atau pura-pura tidak tahu, hah"
ucapku makin tegas, menunjuk-nunjuk dada Jodhy.
ucapnya membuatku makin kaget.
Apaa lagi ini, rahasia apa lagi.
"Papa memang menikahi Mama Emile.
Dulu, Mama Emile sempat mengandung,
namun saat beberapa bulan akan melahirkan,
ia kecelakaan, jatuh dari tangga.
Bayi yang dikandungnya meninggal dunia, untuk menyelamatkan Mama Emile dokter terpaksa mengangkat rahim Mama Emile.
Dan Mama Emile, dia tidak bisa mendapatkan keturunan lagi.
Sedangkan aku,
statusku dalam keluarga hanyalah anak adopsi mereka.
Mereka menyayangiku, terutama Nenek, walau terlihat keras, aku tahu dilubuk hatinya, ia menyesali semua perbuatannya.
Sudah sejak lama, baik Nenek dan juga Papa mencarimu.
Mereka ingin meminta maaf dan menebus semua kesalahannya pada Mamamu.
Saat usaha mereka akan membuahkan hasil, Papa menemukanmu, tahu kau dibesarkan dipanti, Papa akan menjemput-mu...
Kau sudah diadopsi oleh keluarga lain.
Kau ingat pertemuan pertama kita, aku segera pergi meninggalkanmu di taman karena Nenek masuk rumah sakit,
__ADS_1
ia kecewa... mendengarmu telah diadopsi. Nenek dan Papa sungguh ingin meminta maaf padamu dan ibumu..
Jadi aku mohon maafkanlah mereka Yuki, mereka pun sama menderita seperti-mu,
Aku mohon lepaskanlah semua beban dihatimu.. "
ucap Jodhy menjelaskan panjang lebar, mengharap ada sisa pengampunan dari lubuk hatinya, walaupun itu cuma sedikit.
"Sudah terlambat! Semua ceritamu, tidak akan bisa mempengaruhi keputusanku. Tidak... juga kau! "
ucapku tidak mau kalah tegas.
"Yu-ki, ta-pi.. a-ku benar-benar mencintaimu, a-ku tidak bisa hidup tanpamu"
ucapan Jodhy terdengar melemah dan lirih.
"Sudahlah Jod, pergilah. Dan tolong jangan ganggu ataupun berusaha mendekatiku lagi.. "
ucapku segera membalikkan badan,
"Yuki... "
panggilnya terdengar makin lirih hampir tak terdengar.
"PERGI!!! "
teriakku tanpa membalikkan badan lagi.
Sebenarnya saat mendengar semua cerita dan penjelasan dari Jodhy bukannya aku tidak terharu.
Bagaimanapun Aku membencinya, mereka tetaplah Nenek dan Papaku. Aku tak pernah bisa mengingkari.
Dilubuk hati terdalamku, aku sama sekali tidak pernah sekalipun bisa membenci Jodhy.
Bagiku Jodhy segalanya. Dia nyawaku. Aku pun tak pernah bisa hidup tanpanya.
Tuhan, tolong maafkanlah aku, aku tak bermaksud melukainya.
Aku tak mendengar lagi suara Jodhy yang memanggil, berarti dia sudah pergi.
Aku membalikkan badanku perlahan yang masih berdiri mematung setelah teriakku tadi.
Mataku membulat tajam, kaget, melihat sosok yang berberapa detik tadi masih bertengkar denganku, terkapar didekat mobilnya.
Aku berlarian panik kearahnya..
"JODHY"
teriakku.
"Jod, Jod, Jodhy.. "
tanganku terus menguncangkan tubuhnya, namun dia tetap tak bergeming.
Jodhy pingsan...
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
β Dua Hati
β Billionaire Master Love Prison
β Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
__ADS_1
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
Terimakasih dan selamat membaca.