
"Mata lo buta, lo liat apaan sih, kaca segede ini lo tabrak"
maki Cakra yang omongannya nggak diayak.
Haga langsung memapahku ketempat duduk, mengecek kondisiku.
Haga melihat perubahan wajahku yang tadi sangat senang dan antusias jadi sedih.
Haga menyentuh keningku.
"Aku, nggak apa-apa, sepertinya tadi aku melihat seseorang yang kukenal"
ucapku lirih.
"Alesan aja lo, lo sengaja kan, lo mau cari perhatian kakak gue"
tuduh Cakra.
Aku malas berdebat.
Ah, kalau nggak ada kaca tadi harusnya aku sudah berhasil.
Sekarang yang sakit jidat sama bibirku. Setelah merasa kondisiku lebih baik, Haga melanjutkan berbelanja lagi.
Kali ini masuk ke toko buku. Haga tampak berkeliaran lagi mencari perlengkapan yang kubutuhkan.
Aku melirik alat dan perlengkapan melukis. Tidak berani menyentuhnya, lalu pergi.
Haga ternyata melihatnya, memperhatikanmu gerak gerik ku. Ia pun berjalan kearah dimana tadi aku berdiri.
Lagi-lagi aku terlihat bodoh. Bengong tak percaya.
Haga dan Cakra sedang di kasir membayar belanjaan.
Kakiku melangkah keluar, dan terus keluar. Mengejar sesuatu.
Cakra yang melihatku menunjukkan gelagat aneh, memberitahu Haga,
Haga menyuruh Cakra mengikutiku sementara dia membayar belanjaannya.
Saking serius mengikuti rasa penasaranku, lagi lagi aku menabrak. Kali ini aku menabrak orang. Orang yang kutabrak terus memaki kesal.
__ADS_1
Cakra hampir mendekatiku, tapi aku yang nggak perduli ocehan orang yang kutabrak langsung ngeloyor pergi, tanpa minta maaf.
kemana dia, kemana...
Mataku terus berkeliaran mencari.
Ahh.. itu dia. ketika kulihat menuju parkiran.
"Heh, Mie Kriting, mau kemana lo, lo gila pergi gitu aja"
Cakra yang sudah menarik tanganku.
"i.. i.. itu.. "
Aku yang sudah kehilangan jejak.
Haga sudah dihadapanku. Menatapku yang masih gelisah.
Cakra yang menyadari barang-barang yang dibawa kakaknya.
"Kita taruh ke mobil dulu kak, baru lanjut cari lagi"
sigap mengambil beberapa kantong besar yang di bawa Haga.
Haga dan Cakra sekarang membawaku ke counter handphone.
Haga melihat lihat, lalu menyentuh lenganku. Menbuyarkan lamunanku. yang sangat jelas sudah tidak fokus memikirkan sesuatu.
"Aku nggak faham dan mengerti, jadi terserah saja"
Haga yang sudah menemukan pilihan, langsung memilihkannya.
Handphone yang sama dengan modelnya hanya beda warna.
Setelah membayar,
karena sudah siang Haga membawa kami masuk ke restoran.
Kali ini pun aku cuma duduk bengong. Dan Haga memesankan makanan untukku.
Haga terus menatapku, terlihat tidak bersemangat, sedang Cakra menyantap makanannya dengan lahap.
__ADS_1
"Kapan kakak masuk kantor"
"Mungkin beberapa hari lagi"
Mereka tampak berbicara, yang sama sekali seolah nggak terdengar olehku. Aku berada di duniaku.
rasanya kok pengen nangis yaa. aku pengen pulang, kembali ke panti, kangen Ibu. Gumaku.
. . . .
Mobil sudah memasuki pelataran rumah.
Kepalaku yang pusing, penat seharian berbelanja. Ditambah dengan kejadian yang tak terduga hari ini membuatku kelelahan. Aku lagi lagi tertidur di mobil.
Selama dalam perjalanan Haga memang terus melirikku.
Seolah ada pertanyaan besar yang ingin dia tanyakan pada Yuki, namun tetap ditahan olehnya.
Para pelayan sigap ketika melihat mobil masuk, sudah mendapatkan perintah juga dari Pengasuh Ma agar langsung membawa semua belanjaan masuk ke kamarku.
Pengasuh Ma yang sudah berdiri di depan pintu menyambut kedatangan kami.
Lagi-lagi melihat Haga merangkuhku dalam pelukannya, membawaku ke kamar yang ketiduran di mobil...
Sedangkan Cakra tidak melihat nya karena sudah langsung masuk membawa belanjaannya ke kamar...
. . . .
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Billionaire Master Love Prison
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
__ADS_1
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
Terimakasih dan selamat membaca.