
Suara mobil di halaman rumah, pertanda Kim Yoo sebagai kepala keluarga telah tiba. Yoo Ra yang berada di ruang keluarga langsung berlari menuju jendela dan membuka tirai, sebab ia penasaran kenapa Kim Yoo ingin menemuinya. “Aku pulang, dimana para keponakanku?”
Kim Jae yang memunculkan kepalanya saja dan berkata bahwa dia ada disini untuk menyambut Kim Yoo yang baru saja pulang.
Kim Yoo terkejut dan hampir saja melompat. “kkamjjag-iya... jangan mengejutkanku, dasar bocah nakal. Nanti akan ku potong uang jajanmu!.”
“Aigo...(menggandeng tangan Kim Yoo) baiklah, maafkan aku samchon (senyum menyeringai).”
“Haish, kau tidak pernah berubah. Mana nona cantik kita?”
Yok Ra berlari menghampiri pamannya yang baru pulang itu, mendekat dan menggandeng lengan Kim Yoo dengan memberi tatapan apakah pamannya itu merindukannya?.
Kim Yok memberikan senyuman manis untuk Yok Ra dan mengajaknya pergi ke ruang baca. Tak lama setelahnya, Kim Jae menyoroti tindakan pamannya itu. “Cuman Yoo Ra? Aku bagaimana?”
“Diamlah! Pergi sana, lakukan hal yang bermanfaat.” (naik ke atas menuju ruang baca).
“Oppa, berkebunlah di belakang rumah, itu sangat bermanfaat. Hehehe..." Ejekan Yoo Ra yang semakin membuat Kim Jae naik darah. Ada ancaman yang keluar dari mulut Kim Jae, “Awas kau nanti!”
Tiba-tiba datanglah seseorang...
“Kim Jae-ssi!!! Noona baru beli gurita, ayo bantu aku memasak.” Teriak Eun Ji yang datang dengan sekantong penuh belanjaan yang dia bawa
Harus mengelak, mengingat Kim Jae sendiri sangat tidak suka dengan hewan itu. "Noona... sirheo sirhoe!!! Noona butuh cabai untuk memasak?”
“Oh? Iya tentu, aku akan memasak makanan pedas.”
“Aku akan ke kebun belakang untuk memetik cabai (segera menjauh). Oh iya (berbalik badan), jangan ganggu aku saat di kebun, aku memetik cabai sangat lama demi kualitasnya dan rasa yang dihasilkan untuk masakan. Perlu waktu satu jam nantinya. Oke?”
“Hei hei... Kim Jae, aku sudah beli se... Ah sudahlah, dia selalu begitu.”
Kim Jae berjalan menjauhi Eun Ji dan tidak memperhatikan. Berusaha pergi sejauh mungkin dari hewan itu
“Gurita? Ih... hidangan menggelikan itu. Aigooo...” Gumamnya dengan menggelengkan kepala. Kim Jae sudab tidak tahan lagi.
***
Berada di ruang baca, cukup menenangkan dengan aroma buku dan pengharum ruangan. Berbincang mengenai satu masalah, Yoo Ra dan Kim Yoo mulai berbicara serius. "Masih belum mencari cincin itu?” Tanya Kim Yoo dengan serius
“Belum, aku rasa butuh waktu lama untuk mencarinya.”
“Tidak usah kau pikirkan, fokuslah belajar dulu. Kalau kau betah di zaman ini, kau bisa tinggal kok.”
“Beneran? Samchon, aku merasa dekat dengan dunia ini. Merasakan damainya dunia ini sungguh membuatku ingin meinggalkan kehidupan lampauku dan menjalankan kehidupan disini.”
“Benarkah, aku bahagia mendengar itu. Lagi pula dal banji juga ada padaku (menunjukkan cincin itu).”
“Hah? i... ini?.” Yoo Ra terkejut, benda yang akan dicarinya ternyata sudah ada di tangan Kim Yoo.
“Kau boleh memakainya saat gerhana bulan besok, tepatnya 7 bulan lagi.”
“Kenapa bisa ada di samchon?”
__ADS_1
“Dalwi Yeosin yang memberikannya, tapi ada satu hal yang kamu ketahui. Portal akan nampak hanya di beberapa waktu tertentu. Pertama, saat raga dan jiwa terpisah (kematian). Kedua, saat kau mendapat kartu undangan yang bersimbol bulan sabit emas. Ya... hanya itu saja waktu terbukanya portal.”
“Bagaimana jika aku masih belum ingin pergi?”
“Kau akan menanggung konsekuensinya yang sudah Dalwi Yeosin jelaskan padamu.”
“Aku mengerti, samchon. Aku permisi dulu (hendak beranjak dari kursi)”
“Hei (menahan Yoo Ra untuk pergi), jangan bersedih. Portal purnama pertama untukmu akan terbuka 7 bulan lagi, waktu itu bertepatan dengan gerhana. Waktu itu juga bersamaan dengan kau menerima cincin ini. Tapi kau juga ingat batas usiamu di zaman ini, semuanya kuserahkan padamu.”
“Iya, aku akan mempertimbangkannya.”
Mereka berdua berpelukan menandakan untuk saling menenangkan satu sama lain. Tak khayal mereka menjadi keluarga harmonis. Kim Yoo yang saat ini menjadi paman sementara sangat menyayangi keponakan barunya, dia berharap hubungan ini akan bertahan lama walau tidak bisa abadi.
Kim Yoo menyadari, kalau Yoo Ra memiliki sisi yang berbeda daripada seseorang yang mencari cincin bulan dan kembali ke kehidupan aslinya. Dia adalah sosok yang hangat dan juga ingin memiliki harapan hidup yang lebih baik, karena ia sadar bahwa dia merupakan satu dari sekian banyak tuan putri kerajaan besar yang dimanfaatkan sebagai pion memperluas kekuasaan raja.
***
Keesokan harinya, hari dimana registrasi ke kampus. Dan juga masih lama untuk masuk kelas, Yoo Ra ingin melihat suasana kampusnya.
Klak... bunyi suara pintu kamar terbuka.
Kim Jae bertanya apakah Yoo Ra sudah siap. Memandangi adiknya dari atas sampai bawah, sepertinya dia sudah siap.
“Em... Aku sudah mempersiapkan semua berkasnya. Ayo turun.”
“Yoo Ra, aku lupa memberikan ini" Ucap Kim Yoo yang juga ikut masuk ke dalam kamar Yoo Ra untuk memberikan sesuatu.
“Pelajari setiap koordinat sesuai petunjuk buku ini, kau akan menemukan kastil biru itu. Aku pernah kesana, tapi untuk siapapun yang ingin pergi kesana dan melihatnya harus bisa memahami isi buku ini.”
“Oh, buku ini masih tersimpan baik. Aku juga sudah pernah kesana, sekitar dua tahun lalu. Kau harus bisa memecahkan semua petunjuk dari buku ini, maka kau bisa melihat kastil itu.”
“Em... nanti akan aku baca (menyimpan ke dalam laci).”
“Oke, ingat jangan sampai dihilangkan ya. Kalau tidak kau tidak bisa kembali.”
“Baiklah, aku mengerti. Samchon, kita pergi dulu. Mau ke kampus untuk registrasiku.”
“Iya iya... cepat kalian berangkat. Oh ya, aku juga minta maaf soal kuliah kalian. Aku pikir Kim Jae masih semester 3, ternyata kau tak sebodoh yang kukira. Hehe...”
“Aku genius tau! Sudahlah...Bye bye samchon.”
Hanya dua puluh menit perjalanan menuju kampus dengan mengendarai mobil. Tiba di tempat parkir, banyak mahasiswi yang terkagum dengan kedatangan mereka. Ternyata Kim Jae merupakan salah satu bintang kampus yang mengendarai mobil sport dan termasuk idola para mahasiswi dengan modal ketampanannya.
Karena ini adalah hari registrasi per semester, para mahasiswa Universitas Deiji juga datang semua. Untuk mahasiswi yang mengidolakan Kim Jae mereka rela membawa soft drink, cokelat, hingga buket bunga untuk diberikan kepada Kim Jae.
Masih di dalam mobil...
Yoo Ra mendapati sesuatu, dan memberikan sebuah pujian kepada kakaknya itu. “Kau cukup populer juga ya, ibaratkan kau adalah salah satu idol kpop di kampus.”, “Ya begitulah, aku sampai dijuluki pangeran dari kampus Deiji. Bagus bukan? (menatap ke arah Yoo Ra).”
Bisa dibilang bahwa mereka adalah fans Kim Jae, menjadi orang populer dan dipuja semua orang. Sungguh Yoo Ra tidak menyangka hal ini, dilihat lagi memang pantas Kim Jae mendapatkannya, Kim Jae juga termasuk sebagai pria tampan.
__ADS_1
“Jika mereka tahu bagaimana konyolnya dirimu pasti mereka tidak akan ngefans lagi padamu.”
“Ayolah, berhenti berkata pedas padaku."
“Iya iya (tertawa), ayo turun.”
“Oke, akan kupamerkan kepada semua orang bahwa aku memiliki seorang adik perempuan.”
“Tolong jangan mengumbar identitas ya, apalagi aku sebagai adikmu. Nanti aku yang kerepotan.”
“Iya deh... nanti juga bakal ketahuan.” Ucap Kim Jae dengan nada rendah, syukurlah Yoo Ra tidak mendengarnya.
Saat mereka berdua turun dari mobil, para mahasiswi mulai mengerumuni mobil dan ingin melihat wajah sang idola yakni Kim Jae. Terdengar suara sorakan yang menggelegar, “Kim Jae Oppa... Saranghaeyo...”. Namun mendadak sunyi karena melihat seorang wanita yang keluar dari mobil Kim Jae. Mereka melotot, suasana menjadi tegang, mereka mengira wanita itu adalah pacar Kim Jae. Sontak hadiah yang mereka bawa tidak jadi diberikan karena melihat gadis di samping Kim Jae.
Bagi Yoo Ra ini adalah suasana yang menggelikan hingga menahan tawa dengan menyaksikan raut wajah patah hati dari para mahasiswi yang menantikan kedatangan Kim Jae.
“Ayo (menggandeng tangan Yoo Ra). Kau akan tersesat nanti kalau tidak ku pegangi.”
“Wah Oppa... Ternyata kau bisa romantis ya?”
“Huh... (senyum bangga). Kau wanita yang beruntung tau! Ayo pergi ke kantor administrasi.”
“Ayo!!! (mempererat genggaman).”
Mereka berdua pergi menuju kantor administrasi dengan bergandengan, kecemburuan fans Kim Jae mulai berapi-api dan menargetkan Yoo Ra sebagai musuh. Mereka berargumen bahwa Yoo Ra adalah pacar Kim Jae, dan mereka ingin mereka putus segera.
Masalah administrasi sudah selesai, kini waktunya mereka berdua berkeliling kampus. Yoo Ra ingin menghafal semua jalan yang ada kampus agar nantinya tidak tersesat. Mereka menyusuri tiap lorong dan ruangan di kampus. Yoo Ra yang ingin melihat perpustakaan dan segera diantar oleh Kim Jae.
Sesampainya di perpustakaan, mereka membaca buku bersama dan duduk bersebrangan, lalu terdengar suara seseorang yang sedang menyapa.
“Hei Kim Jae, kau disini” ada sapaan dengan suara hangat langsung terngiang di telinga Yoo Ra. Suaranya lembut sekali, dan Suara itu terdengar dari belakang Yoo Ra.
“Oh kau? Ya aku disini, memang siapa lagi yang kau sapa? Kemarilah, bergabung dengan kami.
Yoo Ra langsung menoleh kebelakang untuk melihat siapa pria yang disapa kakaknya itu. Pria itu langsung duduk di sebelah Yoo Ra, dan Yoo Ra cukup terkejut dengan pria itu tiba-tiba duduk disebelahnya bukannya di sebelah kakaknya.
“Oi, Jae Won... menyingkirlah, jangan duduk di dekatnya.” Ucap Kim Jae sedikit posesif kepada temannya itu.
Jae Won tidak menghiraukan perkataan Kim Jae dan langsung duduk di dekat Yoo Ra dan mengambil celah keduanya, “Hah? Kenapa memangnya? (Senyum tak bersalah).”
“Tidak apa-apa sih (muka sebal).”
“Aku pertama kali melihatmu disini, jangan-jangan kau mahasiswi baru ya. Aku pernah mendengarmu dari dosen, katanya kau tidak ikut satu semester dan baru masuk awal semester dua.” kata Jae Won ke Yoo Ra, sedikit penasaran siapa gadis ini. “Iya, aku baru masuk semester 2 nanti. Aku berada di jurusan manajemen bisnis.” jawab Yoo Ra.
“Oh? Kalau begitu nanti kita akan bertemu, kebetulan aku mengajar di kelasmu nantinya.”
“Hei hei... jangan bercanda kau! Jangan pernah macam-macam dengannya” Kim Jae berteriak dan sedikit kesal, sepertinya ada yang salah dengan Kim Jae mengenai Jae Won.
***
Kkamjjag-iya (깜짝이야) : Aku terkejut
__ADS_1
Sirheo (싫어) : Tidak