Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 31


__ADS_3

Sudah pagi, mahasiswa yang berada di dalam bus masih belum bangun, sementara Soo Ah terbangun karena ponselnya bergetar karena kehabisan daya. Soo Ah mengambil tas yang diletakkan di atasnya untuk mengambil power bank, ia berdiri dan langsung menggapai tasnya. Saat itu juga Soo Ah melirik Jae Won, ia terkejut karena Yoo Ra tertidur dan bersandar di bahu Jae Won dengan pulasnya. Soo Ah merasa sangat kacau, ini baru perjalanan awal, bagaimana nantinya kalau sudah di lokasi wisata. Saat ini ia beranggapan kalau mereka berdua akan semakin dekat nantinya.


***


“Oke... Semuanya, saat ini kita sudah sampai di pulau Jeju. Satu jam lagi kita akan tiba di penginapan, dan istirahat sebentar untuk sarapan pagi.” Suara dari pemandu menggema di dalam bus dan membangunkan semua orang yang ada di dalamnya. Hal itu tak mempan bagi Yoo Ra, ia masih tertidur. Jeon Ki yang berada di samping Jae Won langsung bangun dan pergi menuju kursinya.


“Dia masih tidur.” Jae Won berniat membangunan Yoo Ra dengan menepuk-nepuk bahunya, tapi itu bisa mengejutkannya. Lalu ia berinisiatif untuk membuka gorden jendela, agar cahaya matahari bisa menghangatkan dan membangunkan Yoo Ra.


Jae Won mengulurkan tangannya untuk membuka tirai itu, dan Yoo Ra tiba-tiba bangun karena gerakan tangan Jae Won yang mengejutkannya.


(Yoo Ra)


“Sudah pagi ya? (menguap)”


(Jae Won)


“Sudah bangun? Apa aku mengejutkanmu?”


(Yoo Ra)


“Apa?”


Nyawa Yoo Ra masih belum terkumpul semua. Ia bersandar di kursi dan berusaha menyegarkan badannya.


(Yoo Ra)


“Sudah sampai?”


(Jae Won)


“Satu jam lagi kita akan sampai di penginapan.”


(Yoo Ra)


“Kalau begitu, biarkan aku tidur lagi.”


Yoo Ra segera mengambil selimut yang ada di saku kursi dan membalut dirinya untuk melanjutkan tidur. Menghadap ke arah jendela dan membelakangi Jae Won.


“Gadis pemalas.” Gumam Jae Won dengan tersenyum gemas melihat tingkah Yoo Ra.


Ponsel Yoo Ra bergetar, Yoo Ra mengurungkan niatnya untuk tidur kembali dan memeriksa ponselnya. Kali ini, sang paman menelponnya dengan panggilan video. Yoo Ra tidak ingin menjawabnya, rasanya sangat menjengkelkan kalau ada orang yang menghubunginya setelah bangun tidur. Ia tahu kalau pamannya sangat ingin tahu kondisinya, tapi Yoo Ra sungguh tidak ingin menjawabnya.


Yoo Ra mereject panggilan itu dan mengirim pesan suara. “Samchon, aku baik-baik saja. Nanti aku video call.”


Tak lama setelah Yoo Ra mengirimkan pesan, Kim Yoo langsung membalasnya. “Baiklah, aku Cuma khawatir. Nanti beneran telepon aku ya. Semoga harimu menyenangkan. Aku menyayangimu.”


---


Sudah sampai di penginapan, satu kamar terdiri dari 2 orang. Tentu saja Yoo Ra berpasangan dengan Moo Ra, mereka berdua langsung menuju kamar mereka dan membereskan barang-barang yang mereka bawa.


(Moo Ra)


“Wah... Luas banget, 2 hari nginap disini sepertinya nyaman banget.”


(Yoo Ra)


“Entahlah... aku ingin cepet pulang.”


(Moo Ra)


“Hei, kenapa... Jangan-jangan kamu marah padaku karena Jae Won seonbaenim?”


(Yoo Ra)


“Ya... Tentu aku marah, siapa juga yang mau duduk bersamanya. Berhubung kamu ngotot buat duduk sama Jun Moo, aku turutin maumu. Tapi sudahlah, lupakan. Intinya kamu bahagia duduk barengan Jun Moo (menggoda).”


(Moo Ra)

__ADS_1


“Aha... (memeluk) kau pandai membuatku senang. Oh iya, gimana rasanya duduk bareng dia?”


(Yoo Ra)


“Biasa aja.”


(Moo Ra)


“Dasar bodoh... memangnya kamu gak peka ya. Kelihatannya dia suka banget sama kamu, aku berharap kamu bisa berpacaran sama dia. Uhu... (melompat kegirangan).”


(Yoo Ra)


“Tutup mulutmu, justru ini malah jadi masalah baru untukku. Soo Ah kelihatannya kesel banget, aku takut dia bakalan ngelakuin hal yang enggak-enggak.”


(Moo Ra)


“Hei temanku, berjuanglah...”


(Yoo Ra)


“Moo Ra, berhenti berbicara tentang aku dengan Jae Won seonbaenim. Ini sangat menganggu, walaupun dia menyukaiku, tapi aku tidak begitu.”


(Moo Ra)


“Jadi... Sekarang kamu menyukai siapa? Kalau bukan Jae Won seonbaenim, lalu siapa yang membuatmu tertarik?”


(Yoo Ra)


“Tidak ada, masih belum ada yang membuat jantungku berdebar-debar.”


(Moo Ra)


“Dan sekarang, kamu mau menghancurkan perasaan seseorang?”


(Yoo Ra)


(Moo Ra)


"Yoo Ra, jangan emosional begitu (takut)."


(Yoo Ra)


"Moo Ra-ssi, aku punya kehidupanku sendiri. Dan ini bukanlah hidup yang biasa, dari luar kelihatannya aku hidup dengan penuh kebahagiaan, tapi di dalam aku begitu terpuruk dan penuh kebingungan "


(Moo Ra)


“Maafkan aku, aku bukan bermaksud begitu (menggenggam tangan Yoo Ra).”


(Yoo Ra)


“Hmph... (menghela nafas). Anggap pembicaraan kita sudah berakhir ya.”


(Moo Ra)


“Baiklah, maaf ya (memeluk). Aku tidak tahu kalau kau adalah orang yang penuh pertimbangan.”


(Yoo Ra)


“Aku paham, kau juga berusaha untuk memberiku kebahagiaan. Hanya kau hadir sebagai temanku disini adalah kebahagian yang tak terhingga untukku.”


(Moo Ra)


“Iya... sahabatku.”


Yoo Ra memeluk erat tubuh Moo Ra sambil berpikir, “*Hanya masalah kecil seperti ini kau sudah sangat arogan, aku tak sanggup melihatmu saat menyaksikan kepergianku nanti*.”


---

__ADS_1


Sarapan sudah selesai, semua mahasiswa berkumpul di aula untuk diberi petunjuk mengenai agenda hari ini. “Hari ini, kita akan berkeliling di desa. Kalian akan menyaksikan para penduduk desa dalam bersosialisasi, mencari mata pencaharian, dan kehidupan tradisional mereka. Jadi, siapkan kamera ponsel, dan buku kalian, catat seperlunya saja. Nanti kita akan jalan-jalan sore menuju pantai untuk mencari informasi tentang cindera mata khas pulau Jeju. Siap?” Ucap pemandu wisata itu. “Siap...” Suara menggema di aula menandakan mereka siap untuk berburu informasi dan berburu nilai.


Berjalan kaki sejauh 500 meter dari penginapan menuju desa, di sepanjang jalan mereka disuguhkkan dengan bunga dandelion yang berterbangan. Sungguh udara yang segar, tidak terlalu bising, dan sangat menyejukkan mata. Yoo Ra melihat sekeliling dan berusaha mengabadikan foto dari pemandangan sekitar. Ada Jae Won didekatnya, Jae Won hanya bisa diam dan berusaha mendekatinya.


(Jae Won)


“Indah bukan?”


(Yoo Ra)


“Sangat indah (senyum).”


(Jae Won)


“Aku dengar, di pulau ini ada benda misterius.”


(Yoo Ra)


“Benda misterius?”


(Jae Won)


“Aku mendengar ini dari temanku, dulu kakeknya yang pernah menjelajah seluruh wilayah di pulau ini. Dia menemukan satu batu nisan yang sangat tua, berkisar ratusan tahun lamanya. Saat digali, tidak ada mayat atau kerangka disana. Karena temanku itu bingung, dia langsung meminta bantuan warga sekitar. Ternyata itu bukanlah batu nisan untuk makam seseorang.”


(Yoo Ra)


“Tunggu dulu. Batu nisan kan simbol kematian, kok tidak ada sisa mayatnya?”


(Jae Won)


“Ya... Itu bukanlah makam, tapi sebuah batu marmer berukuran 2 meter. Katanya sih itu adalah tugu kehormatan dari Raja untuk Permaisurinya.”


(Yoo Ra)


“Sepertinya itu kisah romantis. Aku ingin tahu kisahnya.”


(Jae Won)


“Sayangnya, temanku itu tidak bisa menceritakan lengkapnya.”


(Yoo Ra)


“Dimana tempat itu?”


(Jae Won)


“Dia juga tidak memberitahuku tentang itu. Mungkin itu sebuah rahasia besar, dan tempat itu juga terlihat sakral sekali. Kamu penasaran?”


(Yoo Ra)


“Tentu, ini juga ilmu sejarah. Apa mungkin di desa ini?”


(Jae Won)


“Bisa jadi, kita lihat saja nanti. Kalau tempat itu ketemu, kamu mau apa?”


(Yoo Ra)


“Akan aku jadikan bahan presentasi, dengan topik misteri seperti ini, pasti banyak spekulasi yang muncul dan menimbulkan rasa penasaran. Dengan begitu, batu marmer misterius ini akan dicari informasinya, sehingga akan menjadi penggalan sejarah baru. Dan saat itu juga mungkin aku akan diberi penilaian yang tinggi sebagai penemu teori sejarah itu.”


(Jae Won)


“Oke, aku akan membantumu. Tapi kalau ketemu ya.”


(Yoo Ra)


“Aku juga gak yakin sih, tapiapa salahnya untuk dicoba. Hehehe...”

__ADS_1


---


__ADS_2