
Yeon Jin memiliki kekhawatiran yang besar, mengingat kalau keduanya adalah jiwa kutukan dan harus kembali demi berlangsungnya kehidupan sejarah. Walaupun dia sudah tahu kalau Yoo Ra berada di kehidupan yang sama, asal yang sama. Tidak perlu risau lagi, dan jika terpisah karena dimensi ini, Yeon Jin akan berusaha menemukan Yoo Ra.
“Apa aku belum cukup baik?” Tanya Yeon Jin dengan tatapan hangat kepada Yoo Ra, tatapan penuh harap semisal dirinya mampu menjadi kekasih. “Seonbae sangat baik, bahkan lebih.” Lirih Yoo Ra yang bingung dengan lirikan mata kemana-mana.
Yeon Jin terbawa suasana, dinginnya musim ini sudah mebuatnya hilang kendali, hampir 2 musim dia sudah menggila karena satu gadis ini. Yeon Jin merasa kalau dinding antara dia dan Yoo Ra adalah Jae Won, “Kalau karena dia, apakah kau bisa menghindari ini?” Perkataan Yeon Jin menuai tanda tanya. Yoo Ra terbelalak seketika gugup.
Yoo Ra yang masih terkunci diantara lengan kuat Yeon Jin sudah tak bisa berkutik lagi, sinyal mereka sangat kuat, seolah peri cinta sedang menghamburkan bubuk peri di atas mereka berdua. Yeon Jin semakin mendekatkan wajahnya, memandang bibir pink Yoo Ra. Yeon Jin ingin sekali membuktikan kalau dia tidak main-main, dan hanya pria yang pantas menjadi kekasih Yoo Ra, satu-satunya...
Yoo Ra duduk dengan tegang, adegan seperti ini belum pernah ia alami sebelumnya. Tangannya mengenggam kain di rok yang ia pakai, berusaha mengontrol detak jantungnya. Yeon Jin yang terlihat dengan super zoom secara langsung, di mata Yoo Ra dia adalah pria sempurna. Sesuai janjinya dulu, pangeran tanpa berkuda akan datang.
Semakin dekat, dan semakin dekat... Yoo Ra tidak bisa memalingkan wajah. Yeon Jin yang mendekat dengan arah mata tertuju pada bibir manis itu, ingin merasakan sentuhannya walaupun sekedar kecupan. Yeon Jin mendekat, jarak antara keduanya hampir hilang, hanya jarak dua jari saja yang terlihat.
“Sekarang? Tapi aku tidak mau...” Suara hati Yoo Ra mengatakan tidak... dan tubuh Yoo Ra juga begitu. Hampir dekat, first kiss moment segera terjadi. Deg deg... deg deg... Kedua jantung sudah menari, suara detakan yang sangat cepat.
Hampir... “Menghindar lah Yoo Ra.” Bisikan hati Yoo Ra. Dan... Psat... Yoo Ra menghindari bibir Yeon Jin, memalingkan wajah dan tidak sengaja mendorong gelas cokelatnya, sehingga isinya tumpah dan hanya tersisa setengah gelas saja.
“Kenapa menghindar?” Tanya Yeon Jin di hadapan Yoo Ra yang sedang memalingkan wajah. Yeon Jin menoleh ke arah cokelat panas yang tumpah, dan tersenyum kecil melihat Yoo Ra yang sedang memerah.
“Ke...Kenapa? Seonbae ma...mau apa?” Dengan gugup Yoo Ra menanyakan hal konyol seperti itu. Disaat suasana sedang canggung, Yeon Jin tersenyum melihat perilaku Yoo Ra yang ternyata bisa malu-malu.
Yeon Jin membuka lengannya, dan menatap Yoo Ra dengan senyuman tulus. “Bisa dibilang, tadi itu sebuah hadiah. Bisa jadi hadiah pertemuan, dan juga bisa jadi hadiah perpisahan.” Yeon Jin berkata demikian dengan mengusap kepala Yoo Ra.
Yoo Ra mulai memperlihatkan wajah murung, karena... kata “PERPISAHAN” membuatnya terluka, tak ingin berpisah dari kehidupan sekarang, dan juga tidak ingin berpisah dari keluarga kerajaan.
“Cepat atau lambat, kita akan berpisah kan. Tapi pertemuan kita terlalu singkat, dan menyadari kalau sebenarnya kita berada di alam yang berbeda. Huft... pasti kalau kita bangun disana, kita merasa kalau kehidupan disini hanyalah mimpi belaka.” Kalimat Yeon Jin sukses membuat Yoo Ra tertunduk dan meneteskan air mata.
Hilang sudah momen kecanggungan ini, nuansa romansa sudah menjadi kesedihan. Yoo Ra teringat kalau entah disini ataupun dikehidupan disana, banyak sekali yang menyayanginya, serasa kalau ia harus membalas budi. Terutama keluarganya yang disini, Kim Yoo, Kim Jae, dan juga Eun Ji. Merekalah yang telah membuat Yoo Ra bertahan.
“Perpisahan adalah hal yang aku takutkan, tolong jangan katakan kata itu. Saat kembali nanti, kita juga akan terpisah, bahkan mungkin tidak akan bertemu kembali.” Ucap Yoo Ra dengan menatap Yeon Jin dan mengusap air mata yang sudah ia teteskan.
Yeon Jin juga larut dalam kata perpisahan. Dirinya juga takut berpisah dari Yoo Ra, karena Yoo Ra adalah satu-satunya yang dia miliki selain Nam Joan. Menajdi tempat bernaung dan mencurahkan semua emosi, itulah peran Yoo Ra bagi Yeon Jin.
“Kita akan berpisah dari dunia ini, ingat kata Dal Rae, kalau kita ada disatu waktu yang sama, dan kita juga saling terikat. Kalau kau kembali, aku akan segera kembali da mencarimu disana. Aku juga tak akan menganggap kejadian disini sebagai mimpi semata, walau aku menganggap begitu, akan kucari wanita yang bernama Yoo Ra, dan juga wajah yang sama persis denganmu.” Yeon Jin sangat memegang ucapannya, bahkan meyakinkan diri kalau saat dia kembali, menganggap hal yang terjadi disini bukanlah mimpi.
(Yoo Ra)
“Aku tidak terlalu yakin, bahkan usiaku disana lebih tua dari yang disini.”
(Yeon Jin)
__ADS_1
“Aku tidak bisa mengatakan identitasku disana, tapi aku mohon ingat ini... aku adalah pria berusia 28 tahunan. Hah , mulutku mau bicara lagi sudah susah.”
Yeon Jin mengehentikan kalimatnya, dia ingin mengatakan hal lain tentang dirinya supaya Yoo Ra bisa mencarinya juga saat kembai nanti. Tapi, seperti mesin otomatis, Yeon Jin tidak bisa menggerakkan bibirnya.
(Yoo Ra)
“Em . Kalau aku lagi mood mencarimu ya.”
(Yeon Jin)
“Heh . Jadi... katakan tentang dirimu kepadaku.”
(Yoo Ra)
“Aku... Aku wanita berusia 25 tahun disana. Dan rumah yang sangat besar.”
Yoo Ra sangat susah untuk mengatakan kalau ia tinggal di istana, jadi ia mengumpamakan istana sebagai rumah besar. Yeon Jin berpikir kembali, kalau Yoo Ra adalah wanita yang berstatus tinggi.
“Aku juga... Rumahku sangat besar.” Yeon Jin melanjutkan petunjuk, berusaha memberi kunci supaya Yoo Ra mengerti tentang siapa dirinya.
---
Sangat jelas kalau bibir mereka hampir bertemu, dan Yeon Jin sendiri juga heran, mengapa dia mengambil langah terlalu cepat. Jelas-jelas Yoo Ra belum memberikan jawaban “iya”, tapi Yeon Jin sudah mau bergerak jauh.
Untung saja kejadian tadi tidak berakhir dengan kecanggungan, Yeon Jin sangat bersyukur kalau suasana bisa berubah dengan cepat. Terlentang di kasur dan memikirkan sesuatu yang konyol, “Apa sekarang Yoo Ra meganggapku sebagai pria brengsek?” Yeon Jin mulai menggerutu dengan memegang pipinya.
“Jangan-jangan aku sudah dicap sebagai pria cabul??? Aaaa... Ya Tuhan... Aku harus apa?” Yeon Jin kembali berguling-guling dan menutupi dirinya dengan selimut, pikiran negatif itu serasa terbang menari-nari di atas kepala Yeon Jin.
Disisi lain, Yoo Ra juga kepikiran dengan aksi Yeon Jin yang akan mencium dirinya. Mengingat momen itu kembali, saat Yeon Jin mulai mengatakan hal-hal yang serius. Yoo Ra melihat dan mengkhayal adegan tadi, tanpa sadar ia tersenyum-senyum sendiri dengan pipi memerah.
“Astaga, apa yang kau pikirkan? Apa kau sudah gila Yoo Ra.” Yoo Ra menyadarkan diri dengan menepuk-nepuk pipinya. Yoo Ra menyesali perbuatannya dengan menghindari itu, ia berpikir kalau tidak menghindari itu, pasti bisa merasakan ciuman pertamanya.
“Ayolah, memangnya aku orang sembarangan?” Yoo Ra kembali berbicara kepada diri sendiri, dan sadar akan dirinya yang bukan wanita gampangan seperti di dalam buku komik.
***
Mendapat panggilan telepon dari seseorang, mengabari sesuatu yang sudah terjadi. Kabar yang membuat Yoo Ra melompat dari kasur dan bergegas keluar dari apartemennya. Apa yang baru saja ia dengar, membuatnya terburu-buru.
Saat berada di depan apartemen, Yoo Ra berpapasan dengan Nam Joan yang membawa satu kotak Taiwan Sandwich dan dua minuman hangat. Sepertinya, Joan sedang mengunjungi Yeon Jin. Saat berpapasan, Yoo Ra hampir saja menabrak Joan.
__ADS_1
“Yoo Ra-ssi, mau kemana dengan terburu-buru begini?” Tanya Joan dengan menahan lengan Yoo Ra. Yoo Ra tampak bahagia dan memasang wajah berbinar. “Aku ada urusan sebentar, Oh... Joan seonbae mau kemana?” Yoo Ra melirik ke arah bawaan Joan. Dan Joan menjawab kalau dia sedang mengunjungi Yeon Jin.
Yoo Ra pamit kalau ia harus bergegas pergi, dan Joan heran, kenapa dengan Yoo Ra. Tapi dia tidak terlalu menghiraukannya dan langsung naik ke atas.
Yoo Ra segera menaiki mobil dan menuju ke suatu tempat.
---
(Joan)
“Aku tadi berpapasan Yoo Ra.”
(Yeon Jin)
“Benarkah? Dimana? Dia sendirian?”
(Joan)
“Aigo... Kenapa kau menjadi seperti pacar yang protektif?”
(Yeon Jin)
“Aku tidak sedang ingin bercanda sekarang.”
(Joan)
“Gak tau, dia ceria kok. Jangan-jangan...”
Joan menggoda Yeon Jin yang sedang memikirkan Yoo Ra, Joan tahu kalau Yeon Jin sangat menyukai wanita itu. Joan juga sangat mendukung kalau mereka berpacaraan. “Jangan-jangan... dia menemui kekasihnya” Ucap Joan dengan nada serius.
Joan menegaskan kembali, kalau seorang wanita yang sedang buru-buru dengan memasang wajah ceria dan pipi memerah, pertanda kalau wanita itu akan bertemu kekasihnya.
Yeon Jin yang masih terpikir ciuman yang ditolak, semakin membuatnya sedih dan menyandarkan diri ke punggung sofa. Menatap langit-langit dan memasang wajah penuh kasihan. “Kau kenapa? Berhenti memasang wajah seperti itu. Kau lebih parah daripada pengemis tau!” Teriak Joan.
Joan menebak kalau hubungan antara Yeon Jin dan Yoo Ra sedang tidak lancar, atau ada sedikit masalah.
“Cerita kepadaku, apa yang sudah terjadi.” Joan menawarkan diri menjadi pendengar yang baik.
“Begini... Kalau seorang menolak ciuman dari pria yang menyukainya, apakah wanita itu menganggap sang pria adalah pria cabul?” Pertanyaan pertama Yeon Jin. Sukses membuat Joan tidak bisa menelan sandwich yang berada di dalam mulutnya.
__ADS_1