Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 39


__ADS_3

(Jae Won)


“Yoo Ra-ssi . Apakah kau punya rasa suka padaku?”


(Yoo Ra)


“Tentu saja. Aku suka dengan seonbae.”


(Jae Won)


“Lalu?”


(Yoo Ra)


“Aku suka dengan sifat seonbae yang lembut seperti ini. Aku tidak suka seonbae yang pemarah seperti ini. Aku suka dengan seonbae, karena itu aku mau berteman dengan seonbae.”


(Jae Won)


“Jadi... Jadi kita hanya berteman? Selama ini perasaanmu padaku adalah suka karena berteman? “


(Yoo Ra)


“Tentu, tidak lebih dari itu.”


(Jae Won)


“Bisakah kau memberikannya lebih dari teman?”


(Yoo Ra)


“Lebih dari teman?”


(Jae Won)


“Lupakanlah. Mungkin aku yang terlalu berharap lebih padamu.”


(Yoo Ra)


“Seonbae... Hari ini aku menganggapnya demikian. Aku juga tidak ingin memiliki musuh, cukup diriku sendiri yang bisa menjadi musuhku. Nikmati saja apa yang kita lalui, hari ini dan esok.”


Jae Won mengalah, karena tidak bisa lagi meneruskan perbincangan ini. Dia juga sudah emosi, dan tidak ingin memperburuk hubungannya dengan Yoo Ra. Sedari tadi Yoo Ra menjawab pertanyaan dari Jae Won yang bertubi-tubi dengan santai, tak bisa dipungkiri karena sifat dingin Yoo Ra masih tak bisa terkalahkan.


(Jae Won)


“Aku minta maaf atas emosiku yang berlebihan ini .”


(Yoo Ra)


“Aku juga.”


(Jae Won)


“Jadi... Lupakanlah perkataanku yang tadi, anggap saja itu hanyalah dongeng.”


(Yoo Ra)


“Jangan khawatir, aku tidak terlalu memasukkan ke dalam hati. Begitu juga perkataan orang lain, karena aku memilah dulu dan mencerna itu semua.”


(Jae Won)


“Kamu sangat bijak. Baiklah, karena kita tidak bisa ikut pesta dan sudah dimulai, jadi... apa yang ingin kamu lakukan?”


(Yoo Ra)


“Walau tidak bisa ikut bukan berarti tidak bisa menyaksikan kan?”


(Jae Won)


“Huh... dasar bocah ini. Ayo , kita lihat pesta dansanya.”


Mereka berdua pergi dan menyaksikan pesta dansa itu, melihat beberapa teman yang bergandengan dan menari bersama. Kini hanya ada 2 orang yang duduk di satu bangku panjang menyaksikan kegiatan itu. Jae Won hanya bisa menatap Yoo Ra dengan rasa bersalah karena sudah terlalu emosi padanya, sementara Yoo Ra menonton pesta dansa ini dengan tatapan kosong. Seolah melamun memikirkan sesuatu, mungkin kejadian yang tadi?


Yup, benar sekali. Serasa masih tidak percaya dengan kejadian yang tadi, melihat luka bakar yang tidak terlalu para dari tumpahan kopi yang disengaja. Walau bukan luka parah tapi ini sudah cukup untuk membuktikan watak seseorang yang memiliki sifat buruk dan mempermainkan nyawa seseorang. “Dia itu psikopat ya? Perempuan macam apa yang demi merebut laki-laki idamannya dengan cara seperti ini?”. Bukan orang gila atau tidak waras, tapi ini memang hukum alam. Siapapun yang menginginkan seseorang dan begitu dicintai, maka jalan apapun akan ditempuh untuk mendapatkannya.


Yoo Ra ingin sekali menyendiri, tak segan meninggalkan Jae Won yang tengah duduk bersamanya. Ia segera bangkit dan berjalan meninggalkan Jae Won untuk mencari tempat yang sepi dan tenang. Saat ingin berjalan, ada tangan yang menghentikannya. Dipeganglah lengan Yoo Ra, seakan tak ingin menjauhinya.


(Jae Won)


“Mau kemana?”

__ADS_1


(Yoo Ra)


“Aku ingin sendiri dan mencari tempat yang tenang.”


(Jae Won)


“Aku ikut, akan aku temani .”


(Yoo Ra)


“Tidah perlu, tolong...”


Jae Won melepas pegangan itu dengan berat hati, mungkin memang benar dia ingin sendiri. Tanpa berkata-kata dan hanya ada keheningan di dalam percakapan mereka, Yoo Ra pergi dan mencari tempat yang tenang dan sunyi.


“Yoo Ra...” Gumam Jae Won dalam hati yang seakan ingin memeluk tubuh mungil gadis yang disukainya, sangat ingin memberikan pelukan untuk menenangkannya. Tak mudah memang, tapi niatannya ini sangat tulus.


Yoo Ra berjalan menyusuri taman, di dekat taman juga ada sungai kecil dan jembatan kecil. Taman itu dipenuhi lampu-lampu, dan sangat cantik. Mengingatkannya akan keindahan sungai Han di dekat tempat tinggalnya.


Diam menatap sungai yang mengalir dengan tenang, dipadu cahaya dari bintang-bintang yang memantul di air. Bintang itu jauh, bercahaya di atas sana. Namun, bintang itu terasa dekat, dengan melihatnya di air. Yoo Ra mengingat sejenak perjalanan waktu yang ia tempuh, kenapa kehidupan ini sungguh menyakitkan. Sebelumnya ia sudah di bunuh tapi tidak tewas, sekarang hatinya tertusuk dengan pertemanan yang busuk ini. Entah Yoo Ra atau Soo Ah, yang pasti Soo Ah yang bermuka dua di dalam drama Tuhan ini.


Hanya terdiam dengan tatapan kosong, tidak ada setetes air matapun yang jatuh dari matanya. Yang dipikirkan adalah perasaan heran yang luar biasa, ditambah lagi hal mengejutkan yang baru saja dialami.


Mengecek ponsel dengan hati bimbang, sedari tadi ponselnya bergetar. Banyak sekali pesan singkat yang masuk, dan beberapa panggilan tak terjawab. Hanya ada 1 nama yang meramaikan ponselnya dengan pesan-pesan itu, ditambah lagi panggilan yang sudah menumpuk. Dan 1 nama itu adalah, PARK YEON JIN (박연진).


Suara Yeon Jin membuat Yoo Ra merasa tenang, dan kini ia merindukan pria itu. Daripada bertele-tele, Yoo Ra menelpon balik si Yeon Jin itu. Panggilan pertama tidak dijawab, mencoba yang kedua kalinya… Ini dia! Dijawab dengan nada riang.


(Yeon Jin)


“Akhirnya ada waktu juga .”


(Yoo Ra)


“Em… Seonbae sedang apa?”


(Yeon Jin)


“Sudah jelas kalau aku menerima panggilan ini darimu.”


(Yoo Ra)


“Aku tidak menganggumu?”


(Yeon Jin)


(Yoo Ra)


“Oh… Kalau begitu, aku matikan panggilannya ya. Maaf sudah menganggu.”


(Yeon Jin)


“JANGAN!!! Hei… Aku bercanda . Kau tahu apa yang membuatku terganggu?”


(Yoo Ra)


“Mana aku tahu, memangnya aku peramal?”


(Yeon Jin)


“Savage banget, ckckck. Yoo Ra… Aku merindukanmu, itu yang mengangguku.”


Hati Yoo Ra merasa tenang, sepertinya suara Yeon Jin bagaikan serbuk penenang. Dengan kata “RINDU” yang terucap dari mulut Yeon Jin sudah membuatnya terharu dan bahagia. Tersenyum sendiri dengan ponsel digenggam didekatkan ke telinga, dan suasana tenang dari tempat ini. Pipi memerah seolah menyambut kalimat itu, Nampak seperti pria yang merindukan wanitanya.


(Yeon Jin)


“Kau tahu, selama ini banyak sekali gadis yang menyukaiku. Aku tidak tertarik pada mereka, bisa dibilang… aku masih belum menemukan cinta pertamaku.”


(Yoo Ra)


“Tidak hanya seonbae saja yang seperti itu. Aku juga belum menemukannya.”


(Yeon Jin)


“Maukah mencari itu? Kita cari bersama-sama?”


(Yoo Ra)


“Aku tidak terlalu percaya dengan hal seperti itu. Tidak usah dicari, mungkin akan datang sendiri.”


(Yeon Jin)

__ADS_1


“Tidak! Kau harus mencarinya bersamaku.”


(Yoo Ra)


“Tapi itu melelahkan. Aku tidak mau, suasana hatiku juga sedang tidak baik. Aku kira dengan menelpomu suasana hatiku akan membaik, rupanya sia-sia aku menelponmu .”


(Yeon Jin)


“Yoo Ra… dengarkan aku, setelah ini suasana hatimu akan segera membaik.”


(Yoo Ra)


“Jangan bohong!”


(Yeon Jin)


“Sungguh… Jadi, kau tidak mau mencari itu bersamaku?”


(Yoo Ra)


“Sekali lagi tidak mau… Kalau seonbae mau, ya… cari sendiri.”


(Yeon Jin)


“Oke… Akan aku cari sendiri, tapi ada dua pilihan. Kau harus menyetujui salah satu pilihan itu. Jika menolak yang satu, maka kau harus dan harus setuju dengan pilihan yang kedua.”


(Yoo Ra)


“Jangan membuat pilihan yang aneh-aneh, peraturannya juga memaksa nih.”


(Yeon Jin)


“Memang begitu, oke… aku mulai ya. Pilihan pertama, kita berdua akan bersama-sama mencari itu. Bagaimana, setuju?”


(Yoo Ra)


“Haha… Yang jelas aku tidak akan setuju dengan pilihan pertama.”


(Yeon Jin)


“Kalau begitu, masih ada pilihan kedua. Dan kali ini harus setuju, karena sudah menolak pilihan pertama.”


(Yoo Ra)


“Oke oke… Silahkan…”


(Yeon Jin)


“Pilihan kedua, dan yang harus kau setujui… Aku akan mencari itu di dalam dirimu, padamu, dan juga hatimu.”


Suasana membeku seketika, orang ini sungguh mengejutkan. Semua tingkah lakunya, sifatnya, bahkan perkataannya selalu membuat siapapun terkejut. Jantung Yoo Ra berdetak dengan kencang, pipinya memerah, “Perasaan ini? Kenapa aku seperti bahagia?”.


(Yoo Ra)


“Hei... Park Yeon Jin!!!, ini bukan candaan kan?”


(Yeon Jin)


“Aku serius . Mungkin kau tidak melihat keseriusanku saat ini, tapi aku bukan pria bermodalkan mulut manis saja. Sesampainya di Seoul, aku akan berusaha melakukan apa yang aku katakan tadi. Aku akan menunggumu. Dan ingatlah, pilihan ini HARUS kau setujui.”


(Yoo Ra)


“Harus?”


(Yeon Jin)


“Aku akan terus mengejar, mendekat, dan pada akhirnya bisa dapat. Aku bukan pria yang mudah mundur, setidaknya aku bukan pria yang mudah mundur, majulah satu langkah saat sekali aku berlari. Aku akan berlari, kau hanya perlu melangkah maju.”


(Yoo Ra)


“Ehem... . Aku akan menunggu .”


(Yeon Jin)


“Baik… Pangeran tanpa kudamu ini akan segera sampai dengan cara berlari. Tunggu aku tuan putriku .”


Menyatakan perasaan dengan seperti ini membutuhkan nyali yang besar, walau tidak sebesar berbicara langsung. Karena jarak saat ini yang tidak memungkinkan untuk bertatap muka dan menggandeng tangannya, setidaknya melalui suara sudah berani melakukan persiapan dan sudah memulai perburuan.


“Terima kasih sudah membukakan jalan untukku. Aku akan membuka pintu utama agar kau bisa menerimaku. Aku juga tidak membiarkanmu menunggu untuk waktu yang lama. Saat itu tiba, jadilah milikku dan bahagialah bersamaku.” - Park Yeon Jin

__ADS_1


__ADS_2