Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 42


__ADS_3

Yoo Ra bertanya lagi ke Dal Rae, apa mawar putihnya itu memiliki fungsi lain?


(Dal Rae)


“Syukurlah kalian berkunjung kesini, terutama kau .”


(Yoo Ra)


“Ahaha... Halmeoni ada-ada saja.”


(Dal Rae)


“Tentang mawar itu, karena dia sudah menunjukmu sebagai tuannya, maka...”


Mawar itu bisa digunakan saat Yoo Ra ingin menjalani hidup di di kehidupan modern ini, jadi memindahkan jiwa secara utuh dari kehidupan lampau ke kehidupan yang kini. Jiwa dan raga di kehidupan lampau atau asli milik Yoo Ra akan mati, dan berpindah menjalani kehidupan sekarang atau modern ini. Kehidupan modernnya ini merupakan reinkarnasinya setelah menjadi tuan putri.


Selain itu, mawar itu juga berguna untuk kembali ke kehidupan aslinya. Bisa mengajak seseorang untuk kembali pulang ke kehidupan lampau yang terkena kutukan sama (hendak meninggal saat gerhana bulan). Seperti buy one free one, bisa mengantar 2 jiwa sekaligus kembali ke kehidupan lampau. Bisa juga mengajak jiwa yang bukan dari kehidupan lampau, berarti orang dari kehidupan sekarang bisa diajak ke kehidupan lampau. Orang tersebut juga akan menghilang dan meninggalkan kehidupan ini untuk ikut ke kehidupan lampau dan hidup disana.


(Dal Rae)


“Untuk fungsi yang kedua, biasanya digunakan oleh pasangan kekasih. Dulu juga ada yang seperti itu, si wanita berasal dari kehidupan sekarang, sementara si pria berasal dari kehidupan lampau. Si pria menerima kutukanku, karena sudah mendapat mawar itu, dia menggunakannya untuk mengajak kekasihnya itu. Akhirnya mereka berdua bisa masuk ke dalam portal purnama, mereka juga hidup dengan damai di kehidupan lampau.”


(Emma)


“Aku yang menyaksikannya, mereka berdua bergandengan tangan saat masuk. Mereka sangat romantis sekali.”


(Yoo Ra)


“Romantis apanya? Kenapa si wanita itu mau?”


(Emma)


“Ayolah, saat orang sudah dimabuk cinta, cinta itu akan jadi buta. Hal konyol apapun akan dilakukan.”


Sesaat Yoo Ra teringat dengan dengan Soo Ah yang begitu tergila-gila kepada Jae Won. Saat ini perasaannya tidak nyaman, memandangi balutan perban yang masih menempel di lengannya. Kini ia tahu, semua orang beranggapan sama, saat dibutakan oleh cinta maka hal ekstrem akan dilakukan supaya tidak kehilangan cinta itu sendiri.”


(Yoo Ra)


“Hal bodoh seperti itu sangat memalukan . “


(Emma)


“Aku juga berpikir begitu.”


(Dal Rae)


“Kalian anak muda juga jangan sampai seperti itu, cinta sejati hanya datang sekali, tapi jangan sampai mengorbankan nyawa orang lain hanya demi mendapatkan hal itu.”


(Yoo Ra)


“Kalau cinta pertama bagaimana cara mencarinya? Bagaimana mendapatkannya? Seperti apa itu?”


Yoo Ra asal ceplos saja, membuat dua orang itu melongo karena mendengarkan ucapannya. Mereka terkejut, dan tak menyangka kalau gadis yang memiliki hati dingin seperti itu bisa bertanya tentang cinta dengan terang-terangan.


(Emma & Dal Rae)


“Apa? ”


(Yoo Ra)


“Ke... Kenapa? Apa yang salah dengan pertanyaanku?”


(Emma)


“Kenapa bertanya seperti itu?”

__ADS_1


(Yoo Ra)


“Aku ingin tahu jawabannya dari kalian, sebagai sesama perempuan .”


(Dal Rae)


“Sekarang aku bertanya, apakah ada orang yang menjadi cinta pertamamu?”


(Yoo Ra)


“Entah .”


(Emma)


“Heol... ”


(Dal Rae)


“Kau salah makan obat?”


(Emma)


“Aku yang memberinya obat, tentu tidak salah. Katakan, siapa orang itu? ”


(Yoo Ra)


“Haish . Siapa dia juga bukan urusan kalian. Kalau tak mau menjawab, jangan dijawab. Reaksi kalian membuatku bingung. Eonni, aku tunggu di mobil ya, halmeoni... aku pergi dulu .”


Yoo Ra pergi dan meninggalkan mereka berdua yang masih tercengang dan memasang wajah tidak percaya. Emma curiga kalau ada seseorang yang menyukai Yoo Ra.


(Dal Rae)


“Kok aneh ya?”


(Emma)


(Dal Rae)


“Benar, dia diciptakan dengan hati yang lembut dalam hal kemanusiaan, tapi tidak dalam hal percintaan. Tadi saat dia ingin pergi, dia biasa saja.”


(Emma)


“Jadi... Apakah sifatnya ini sudah berubah atau perlahan-lahan memudar? .”


(Dal Rae)


“Kalu dicermati, dia tidak bilang kalau dia jatuh cinta.”


(Emma)


“Benar juga, dia juga blak-blakkan tadi. Berarti ada seseorang yang menyukainya, dan tampangnya Yoo Ra juga suka dengan orang itu.”


(Dal Rae)


“Tidak sia-sia aku mengirimnya kesini. Dengan perlahan dia bisa mengubah itu semua dan saat kembali bisa menemukan takdirnya. Semoga dia tidak menjadi perawan tua .”


(Emma)


“Wah... semoga saja. Ck... kau mengejekku?.”


(Dal Rae)


“Ya... Sedikit kok. Oh iya, bagaimana dengan pria itu? Apakah sudah mendatangi tempatmu lagi?”


(Emma)

__ADS_1


“Belum, apa aku perlu mencarinya?”


(Dal Rae)


“Segera temukan dia, tak kusangka dia mempermainkan kita. Apa dia pernah kerasukan arwah jahat?”


(Emma)


“Tidak, setahuku dia pria lembut tapi memiliki ambisi dan punya amarah yang besar.”


(Dal Rae)


“Pria itu membuatku pusing untuk menanganinya. Aku bisa merasakan kalau pria itu ada disekeliling Yoo Ra. Jaga anak itu baik-baik, dia gadis baik dan keras kepala.”


---


Menurut Emma, jalan-jalan dan belanja di mall adalah obat ampuh untuk menghilangkan stress. Ternyata benar, menikmati kulineran dari kedai-kedai di pujasera mall sangat menyenangkan, nafsu makan yang sempat buruk karena sakit kini sudah hilang, ditambah lagi Emma yang traktir.


Selesai makan, waktunya belanja beberapa baju. Emma memiliki selera pakaian yang sangat tinggi, berbanding terbalik dengan Yoo Ra. Memilih beberapa pakaian edisi terbaru brand D*or, coat musim gugur edisi terbatas.


Musim gugur sudah dimulai beberapa minggu yang lalu, di musim ini harus memakai cardigan, mengingat musim ini yang berangin. Pilihannya lumayan banyak, Emma merekomendasikan beberapa cardigan dan coat yang elegan. Tapi harus ditolak, semua selera yang Emma miliki terlalu feminim.


(Emma)


“Rubahlah gayamu lebih feminim sedikit, ckckck... Yang kulihat darimu hanya ada rambut cepol khas musim panas, terkadang rambut tergerai dengan poni menyamping, apple hair yang mengucir poni. Bajumu lihatlah, kaos lengan panjang yang oversize dengan baggy pants. Kau wanita tapi gak pernah pakai heels, kau punya banyak sneakers?”


(Yoo Ra)


“Aku tidak tahu style, yang kupakai hanya untuk kenyamanan saja. Yang terpenting keluar kamar dengan kondisi berpakaian. Dan lihat dirimu, memakai Heels kemana-mana. Apa gak sakit? Berjalan lenggak-lenggok.”


(Emma)


“Awuh... dasar ratu bodo amat. Mari hilangkan ketomboy-an mu ini. Tidak mau coba crop top? Ditambah selana jeans, dengan cardigan panjang menutupi lutut dan memakai hotpants. Oh... pakai ini.”


Emma memilihkan beberapa pakaian untuk dicoba. Sepertinya stylenya benar-benar kelas tinggi, membuat Yoo Ra kebingungan harus berkata apa.


(Yoo Ra)


“Eonni, sudah cukup. Bagaimana aku bisa keluar dengan memakai crop top shirt, hotpants jeans, cardigan panjang, dan juga beret hat ini?.”


(Emma)


“Benar juga, tapi tidak ingin dicoba?”


(Yoo Ra)


“Siapa yang mau kedinginan di musim seperti ini, ini cocoknya untuk musim semi atau musim panas. Suhu yang dingin seperti sekarang juga sudah mendekati musim dingin..”


(Emma)


“Benar juga... biar aku saja yang pakai saat musim semi nanti.”


(Yoo Ra)


“Kau mau membelinya?”


(Emma)


“Tentu, kau tidak mau jadi aku saja. Terima kasih atas sarannya ya .”


Suasana yang LOL sekali. Yoo Ra hanya ingin membeli coat, berwarna cokelat tua dan orange tua. Sangat cocok untuk musim gugur, memberikan sentuhan hangat. Di ujung sana tepatnya di meja kasir, terlihat seorang pria yang sedang berdiri dan berbincang dengan salah satu karyawan. Memakai kaos oversize warna putih dan celana jeans hitam dipadukan sepatu kets, ciri khas seorang pelajar yang cool. Nampak dari belakang sepertinya mirip seseorang, yang memiliki selera pakaian yang sama dengan Yoo Ra.


Emma selesai memilih, begitu juga dengan Yoo Ra. Berjalan menuju meja kasir untuk mengambil barang. Berpapasan dengan pria berstyle cool, tak disangka... dunia ini sempit sekali.


“Hei... Kita bertemu lagi, apa kabar?."

__ADS_1


__ADS_2